Kamis, 01 Desember 2022

Satu Pandangan

Waktu adalah kanvas untuk tinta kisah manusia
Selama hidup, setiap orang akan menjadi pengisah
Menulis tentang baik dirinya dan buruk orang lain
Menulis kesempurnaannya dan kehinaan orang lain
Menjadi pengarang buku hariannya sendiri-sendiri
Sampai semua menjadi penulis tanpa mau membaca
 
Tetapi beberapa akhirnya menjadi silap dan kalap
Dibutakan oleh karangan fiksi yang teramat suci
Dengan kelihaian imajinatif para penulis bayangan
Yang menuliskan kisah orang lain demi bayaran
Yang membuat pembaca seolah mengeja kisah nabi
Hingga mengultuskan anak manusia yang penuh dosa
 

Nilai Perang

Kita bertumbuh dan perlahan-lahan menjadi pelupa
Terhadap pendahulu yang mewariskan kisah tanpa cinta
Tentang nyawa yang dihargai serendah uang atau harta benda
Tentang tawanan yang dihukum mati seolah tak ada lagi arti maaf
Sampai nurani bertanya, siapa yang sebenarnya menang di dalam peperangan?
 

Masa Berbalas

Manusia melalaikan proses
Mengabaikan tetumbuhan yang bertumbuh perlahan
Mengambil lebih banyak daripada kemampuan alam untuk memberi
 
Manusia menyepelekan waktu
Menganggap hari akan menggantikan yang tercerabut
Menginsafi keserakahannya setelah banjir menerjang akibat hutan yang gundul
 

Penantian Hampa

Engkau mengirimkan kabar dari seberang
Bagi rinduku, sama sekali tak cukup
Kecuali beserta hadirmu di sini
Dengan wajah yang berucap
Dengan senyuman atau air mata
 
Tetapi barangkali, sebaiknya berjarak
Pertemuan akan memperdalam kehampaan
Ketika aku mendekapmu dan kau memelukku
Yang terasa hanya ketenangan sementara
Sebab kutahu, kau sangat ingin pergi
 
Sementara, biar waktu memberikan jawaban
Bertanyalah kepada hatimu sendiri
Masihkah tersisa cinta yang membuatmu merindukanku?