Pagi
cerah di awal bulan. Seolah-olah alam menyampaikan ucapan selamat berbahagia. Sedang
kuawali hari dengan penuh kebugaran, dan gaji bulanan dari perusahaan telah kuterima.
Sebuah keadaan yang sempurna untuk menyenang-nyenangkan diri. Mungkin dengan
melancong ke tempat-tempat hiburan, atau mengadakan sebuah pesta bersama
keluarga atau teman-teman terdekat.
Dan
pagi ini, aku akan memulai kesenangan dengan menyantap hidangan di sebuah
warung favoritku sedari dulu. Aku selalu mampir di sana setiap kali istriku tak
sempat menyediakan sarapan. Barangkali sajiannya tak semewah restoran, tapi
lidahku telah terbiasa dengan cita rasanya. Terutama ayam bakar dengan sambal
tradisional spesial. Sebuah menu andalan yang selama ini senantiasa kupesan.
Tak
cukup lima menit mengendarai sepeda motor, aku akhirnya sampai. Para pelayan pun
menyambutku dengan senyuman, seolah aku adalah pelanggan setia yang tak boleh
dikecewakan. Dan seperti biasa, tanpa perlu kuuraikan soal menu dan porsi
pesananku, pelayan pun tahu seleraku di awal-awal bulan. Aku hanya perlu
memilih tempat duduk dan menunggu pesananku datang dalam beberapa waktu.
Dan
lagi-lagi, aku kembali melihat seorang kakek tua yang juga memfavoritkan warung
andalanku. Seorang kakek berkulit hitam legam yang setia dengan tampilan yang memprihatinkan.
Kemeja kelabu berlengan panjangnya terhias noda di sana-sini. Celana kain hitam-polos,
topi koboi, dan sepatu lars yang ia kenakan, juga tampak kusut dan kumal.
Namun
tentu saja, di tengah kesuksesan, aku tetap saja terbiasa dengan orang-orang
biasa sepertinya. Sebagai anak kampung dari daerah terpencil, aku sudah
terbiasa mengenakan dan menyaksikan penampilan semacam itu di masa dahulu, sebagaimana
lazimnya warga kampung yang hidup sebagai petani dan bekerja hanya dengan
pakaian compang-camping, tanpa pakaian dinas yang menawan.
Atas
penampilan si kakek, aku kembali teringat pada keluargaku di kampung yang bekerja
keras sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kurasa mereka sama-sama
menjalani kehidupan yang pelik, meski hidup dalam dunia yang berbeda, antara kota
dan kampung. Paling tidak, mereka sama-sama mengais rezeki dengan mengandalkan
kekuatan raganya di bawah terpaan terik matahari.
Akhirnya,
rasa ibaku tergugah. Aku kembali menginsafi dan meresapi nilai perjuangan hidup
yang keras. Maka kuhampirilah tempat duduk sang kakek untuk menyantap hidangan
di satu meja yang sama. Dan tentu saja, aku punya rencana untuk menyisihkan
sedikit penghasilan untuk melunasi tagihan makanan kakek kali ini.
“Boleh
duduk di sini, Kek?” tanyaku dengan sikap sesantun-santunnya.
“Ya!
Silakan, Nak!” katanya, sambil merekahkan senyuman yang menampakkan gigi
serinya yang masih bertahan.
Aku
pun duduk dengan perasaan kikuk. Sedikit merasa aneh, sebab selama ini kami
adalah dua orang di antara pelanggan setia, namun baru kali ini kami duduk di
satu meja yang sama.
“Pagi
yang cerah, Kek,” kataku, berbasa-basi.
Ia
mengangguk-angguk sambil mengunyah hidangannya yang sederhana. “Ya. Keadaan
yang baik pagi para pekerja kantor seperti kamu, Nak. Bisa ke kantor tanpa
harus kehujanan.”
“Ya.
Mudah-mudahan cuaca tak berubah seketika, seperti kemarin-kemarin,” kataku,
sekenanya. “Tapi Kakek lebih beruntung. Sepagi ini, kerjaan kakek sudah selesai
dan sisa pulang ke rumah.”
Ia
tertawa pendek. “Tapi aku kan mulai kerja subuh-subuh,” sanggahnya. “Ya, sama
saja. Semua pekerjaan punya aturan. Semua ada susah dan senangnya. Sisa bagaimana
kita memaknai. Tapi yang penting halal.”
Aku
mengangguk-angguk mendengar kebijaksanaannya.
Sampai
akhirnya, datanglah hidangan ayam bakar pesananku. Seketika dikumpulkan di atas
meja antara aku dan sang kakek. Tersaji dengan tiga piring dan dua gelas. Dan
tampaklah, pesananku memenuhi meja makan. Mengerubungi hidangan kakek yang hanya
tersaji dengan satu piring dan satu gelas. Hanya sepiring nasi-tempe-kangkung
dan segelas air putih. Sebuah hidangan sederhana yang difavoritkan sang kakek
sepanjang pengamatanku.
“Mari,
makan, Kek,” kataku, bermaksud mengucap permisi. Aku lalu menyodorkan sebakul nasi
dan sepiring tempe yang kupesan belakangan “Silahkan tambah, Kek.”
“Ya.
Terima kasih,” katanya, sambil tersenyum, kemudian menyendok nasi dan mengambil
dua potongan tempe. “Bersyukurlah kita, Nak. Kita masih bisa makan enak hari
ini.”
Aku
menoleh padanya. “Bapak benar,” ucapku, kemudian mengucapkan sebuah candaan. “Bagi
kami pekerja kantoran, awal bulan memang masa makan enak yang patut disyukuri,
Kek. Tapi di akhir bulan, selera makanan harus menyesuaikan dan harus banyak
bersabar.”
Ia
mengangguk-angguk.
“Belum
lagi sekarang item-item pengeluaran uang semakin banyak dengan tagihan yang
membengkak, Kek. Biaya listrik untuk segala macam barang elektronik, biaya
transportasi, biaya pulsa, dan segala macam yang lain,” kataku lagi. ”Belum
ditambah biaya jalan-jalan dan hiburan untuk keluarga yang tentu saja sudah
menjadi kebutuhan di tengah suasana kota yang menggerahkan ini,” tambahku,
sesuai dengan pengalamanku sendiri. “Dengan semua pengeluaran itu, gaji
bulananku belumlah cukup, Kek.”
“Tapi
tidak begitu juga, Nak,” timpal kakek, lalu meneguk segelas air putihnya
sekali. “Yang membuat kita merasa kurang soal pendapatan, barangkali adalah
pengeluaran kita yang berlebihan. Seberapa besar pun gaji kita, tapi kalau
lubang-lubang pengeluaran kita lebih besar, ya pasti kurang,” katanya, sambil
menatapku dengan bola matanya yang kelam.
Aku
menganggukkan saja pernyataannya, sembari terus mengunyah makanan.
Ia
kembali melanjutkan, “Ya, kalau keinginan kita sebagai manusia tak dikontrol,
pastilah kita selalu merasa kurang dan kesusahan. Tapi kalau yang ingin kita
penuhi hanyalah kebutuhan kita saja, ya, kukira, pekerja kantor sepertimu malah
punya gaji yang berlebih,” katanya lagi. “Nafsu itu memang tak bisa terpuaskan,
Nak. Makanya, kita harus cerdas mengontrol diri.”
Aku
meneguk air putih sekali, kemudian menuturkan ketidaksepahamanku, “Tapi
kehidupan memang sudah berubah, Kek. Sesuatu yang dulu dianggap keinginan atau kebutuhan
sekunder, mungkin telah menjadi kebutuhan primer. Telepon genggam dan
kendaraan, misalnya. Kurasa, itu sudah menjadi kebutuhan sekarang.”
Ia
lekas merespons, “Kamu benar, Nak,” katanya. “Aku juga punya telepon genggam.
Tapi yang sederhana saja. Yang penting bisa teleponan. Aku juga punya sepeda
motor, tapi yang sederhana saja. Yang penting bisa berjalan.” Ia kemudian
memandangiku dengan raut wajah yang serius. “Yang berlebihan dan melampaui
kebutuhan dalam soal itu adalah gengsi yang lahir dari nafsu duniawi. Lihatlah sekarang,
beberapa orang malu menggunakan telepon genggam yang bukan dari merek tertentu.
Beberapa orang malu berkendara di tengah kota dengan motor tua dan jadul.
Padahal, terlepas dari soal gengsi, benda beda merek dan masa itu tetap saja
memiliki fungsi yang sama.”
Tiba-tiba,
aku kesulitan menemukan sanggahan dan malah mengungkapkan sebuah kesepahaman, “Barangkali
Kakek benar soal itu.”
Ia
tersenyum. “Sekarang itu, orang merasa miskin bukan karena penghasilannya tidak
cukup, tapi karena mereka boros,” tuturnya lagi. “Barangkali di zaman yang
penuh hura-hura ini, ada beberapa orang yang sebenarnya kaya, Nak, hanya saja
hati mereka miskin.”
Batinku
merasa tersinggung. Seketika, aku menggugat diriku sendiri. Aku tiba-tiba merasa
bak seorang murid bagi sang kakek. Maka kutanyakan saja sekalian soal inti pandangan sang kakek tentang nilai kekayaan, “Lalu, siapa yang patut dikatakan sebagai orang
kaya menurut Kakek.”
Ia
meneguk segelas air putihnya sampai tandas, kemudian membersihkan tangan kanannya
di kobokan. “Orang kaya itu, Nak, bukan mereka yang menerima, tapi mereka yang
memberi. Orang kaya adalah mereka yang selalu merasa berlebih, sampai mereka
kuasa mencukupkan kekurangan orang lain melalui jalan sedekah. Siapa yang tahu
soal itu? Ya, tentu diri kita sendiri,” katanya, dengan penuh keseriusan.
“Kalau setiap hari kita hanya sibuk mencari harta untuk kepentingan diri kita
sendiri, dan masih saja merasa kekurangan, kurasa, itu berarti kita masih
miskin.”
Aku
mengangguk saja. Tak lagi sanggup membalas atau sekadar bertanya. Seolah aku
baru saja mendapatkan pelajaran makna yang berguna untuk jiwaku.
Hening
sejenak.
Beberapa
saat kemudian, sang kakek mengucapkan kalimat perpisahan, “Barangkali, saya
pamit lebih dulu, Nak.”
Aku
kembali menawarkan makanan yang masih tersisa di atas meja, “Tidakkah Kakek mau
tambah makanan lagi?”
Ia
menggeleng. “Aku sudah kenyang, Nak. Dan itu wajar, sebab aku makan lebih dulu
darimu.”
Aku
melayangkan senyuman, “Baiklah, Kek,” kataku, lalu teringat pada niat awalku, “Tapi
izinkanlah aku mentraktir Kakek hari ini!”
Ia
kembali menggeleng. “Tak usah, Nak. Biar aku saja.”
Untuk
sesuatu yang terlanjur kuniatkan, aku mencoba memaksa, “Tapi, Kek…”
“Biar
aku saja!” timpalnya seketika, sambil tersenyum, kemudian melangkah dan
berhenti sejenak di depan kasir, lalu beranjak pergi.
Lekas,
aku menandaskan makanan di piringku. Selepas itu, aku merasa sangat kenyang.
Tapi
kali ini, aku merasa tak betah duduk berlama-lama untuk menetralkan isi perutku.
Segera saja aku melangkah ke kasir untuk menyelesaikan tagihan makananku.
Dan
kuderngarlah keterangan dari sang kasir, “Tagihan makanan Bapak sudah dibayar Kakek
Syukur,” katanya.
Seketika,
aku merasa menjadi orang paling miskin di dunia.
Sambil
menenangkan perasaan yang berkecamuk, aku pun melangkah keluar warung dengan
sebuah keinsafan yang baru tentang makna hidup.
Dan
kurasa, telepon genggam di dalam saku celanaku bergetar. Kucek, hingga kubacalah
sebuah pesan singkat dari istriku: Hari
ini, Papi cepat pulang ke rumah, ya. Sore nanti, temani Mami belanja ke toko.
Kita perlu mengganti AC dengan merek keluaran baru yang lebih tahan lama. Mesin
cuci juga perlu diganti dengan merek yang lebih hemat air. Terus, Dian, katanya
minta dibelikan HP baru yang lebih canggih. Rami juga, dia minta dibelikan
perangkat play station terkini. Nanti aku cari tahu lagi barang-barang yang
perlu kita beli.