Kamis, 31 Januari 2019

Sarapan Jiwa

Pagi cerah di awal bulan. Seolah-olah alam menyampaikan ucapan selamat berbahagia. Sedang kuawali hari dengan penuh kebugaran, dan gaji bulanan dari perusahaan telah kuterima. Sebuah keadaan yang sempurna untuk menyenang-nyenangkan diri. Mungkin dengan melancong ke tempat-tempat hiburan, atau mengadakan sebuah pesta bersama keluarga atau teman-teman terdekat.
 
Dan pagi ini, aku akan memulai kesenangan dengan menyantap hidangan di sebuah warung favoritku sedari dulu. Aku selalu mampir di sana setiap kali istriku tak sempat menyediakan sarapan. Barangkali sajiannya tak semewah restoran, tapi lidahku telah terbiasa dengan cita rasanya. Terutama ayam bakar dengan sambal tradisional spesial. Sebuah menu andalan yang selama ini senantiasa kupesan.

Tak cukup lima menit mengendarai sepeda motor, aku akhirnya sampai. Para pelayan pun menyambutku dengan senyuman, seolah aku adalah pelanggan setia yang tak boleh dikecewakan. Dan seperti biasa, tanpa perlu kuuraikan soal menu dan porsi pesananku, pelayan pun tahu seleraku di awal-awal bulan. Aku hanya perlu memilih tempat duduk dan menunggu pesananku datang dalam beberapa waktu.

Dan lagi-lagi, aku kembali melihat seorang kakek tua yang juga memfavoritkan warung andalanku. Seorang kakek berkulit hitam legam yang setia dengan tampilan yang memprihatinkan. Kemeja kelabu berlengan panjangnya terhias noda di sana-sini. Celana kain hitam-polos, topi koboi, dan sepatu lars yang ia kenakan, juga tampak kusut dan kumal.

Namun tentu saja, di tengah kesuksesan, aku tetap saja terbiasa dengan orang-orang biasa sepertinya. Sebagai anak kampung dari daerah terpencil, aku sudah terbiasa mengenakan dan menyaksikan penampilan semacam itu di masa dahulu, sebagaimana lazimnya warga kampung yang hidup sebagai petani dan bekerja hanya dengan pakaian compang-camping, tanpa pakaian dinas yang menawan.

Atas penampilan si kakek, aku kembali teringat pada keluargaku di kampung yang bekerja keras sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kurasa mereka sama-sama menjalani kehidupan yang pelik, meski hidup dalam dunia yang berbeda, antara kota dan kampung. Paling tidak, mereka sama-sama mengais rezeki dengan mengandalkan kekuatan raganya di bawah terpaan terik matahari.

Akhirnya, rasa ibaku tergugah. Aku kembali menginsafi dan meresapi nilai perjuangan hidup yang keras. Maka kuhampirilah tempat duduk sang kakek untuk menyantap hidangan di satu meja yang sama. Dan tentu saja, aku punya rencana untuk menyisihkan sedikit penghasilan untuk melunasi tagihan makanan kakek kali ini. 

“Boleh duduk di sini, Kek?” tanyaku dengan sikap sesantun-santunnya.

“Ya! Silakan, Nak!” katanya, sambil merekahkan senyuman yang menampakkan gigi serinya yang masih bertahan.

Aku pun duduk dengan perasaan kikuk. Sedikit merasa aneh, sebab selama ini kami adalah dua orang di antara pelanggan setia, namun baru kali ini kami duduk di satu meja yang sama.
“Pagi yang cerah, Kek,” kataku, berbasa-basi.

Ia mengangguk-angguk sambil mengunyah hidangannya yang sederhana. “Ya. Keadaan yang baik pagi para pekerja kantor seperti kamu, Nak. Bisa ke kantor tanpa harus kehujanan.”

“Ya. Mudah-mudahan cuaca tak berubah seketika, seperti kemarin-kemarin,” kataku, sekenanya. “Tapi Kakek lebih beruntung. Sepagi ini, kerjaan kakek sudah selesai dan sisa pulang ke rumah.”

Ia tertawa pendek. “Tapi aku kan mulai kerja subuh-subuh,” sanggahnya. “Ya, sama saja. Semua pekerjaan punya aturan. Semua ada susah dan senangnya. Sisa bagaimana kita memaknai. Tapi yang penting halal.”

Aku mengangguk-angguk mendengar kebijaksanaannya.

Sampai akhirnya, datanglah hidangan ayam bakar pesananku. Seketika dikumpulkan di atas meja antara aku dan sang kakek. Tersaji dengan tiga piring dan dua gelas. Dan tampaklah, pesananku memenuhi meja makan. Mengerubungi hidangan kakek yang hanya tersaji dengan satu piring dan satu gelas. Hanya sepiring nasi-tempe-kangkung dan segelas air putih. Sebuah hidangan sederhana yang difavoritkan sang kakek sepanjang pengamatanku.

“Mari, makan, Kek,” kataku, bermaksud mengucap permisi. Aku lalu menyodorkan sebakul nasi dan sepiring tempe yang kupesan belakangan “Silahkan tambah, Kek.”

“Ya. Terima kasih,” katanya, sambil tersenyum, kemudian menyendok nasi dan mengambil dua potongan tempe. “Bersyukurlah kita, Nak. Kita masih bisa makan enak hari ini.”

Aku menoleh padanya. “Bapak benar,” ucapku, kemudian mengucapkan sebuah candaan. “Bagi kami pekerja kantoran, awal bulan memang masa makan enak yang patut disyukuri, Kek. Tapi di akhir bulan, selera makanan harus menyesuaikan dan harus banyak bersabar.”
Ia mengangguk-angguk.

“Belum lagi sekarang item-item pengeluaran uang semakin banyak dengan tagihan yang membengkak, Kek. Biaya listrik untuk segala macam barang elektronik, biaya transportasi, biaya pulsa, dan segala macam yang lain,” kataku lagi. ”Belum ditambah biaya jalan-jalan dan hiburan untuk keluarga yang tentu saja sudah menjadi kebutuhan di tengah suasana kota yang menggerahkan ini,” tambahku, sesuai dengan pengalamanku sendiri. “Dengan semua pengeluaran itu, gaji bulananku belumlah cukup, Kek.”

“Tapi tidak begitu juga, Nak,” timpal kakek, lalu meneguk segelas air putihnya sekali. “Yang membuat kita merasa kurang soal pendapatan, barangkali adalah pengeluaran kita yang berlebihan. Seberapa besar pun gaji kita, tapi kalau lubang-lubang pengeluaran kita lebih besar, ya pasti kurang,” katanya, sambil menatapku dengan bola matanya yang kelam. 

Aku menganggukkan saja pernyataannya, sembari terus mengunyah makanan.

Ia kembali melanjutkan, “Ya, kalau keinginan kita sebagai manusia tak dikontrol, pastilah kita selalu merasa kurang dan kesusahan. Tapi kalau yang ingin kita penuhi hanyalah kebutuhan kita saja, ya, kukira, pekerja kantor sepertimu malah punya gaji yang berlebih,” katanya lagi. “Nafsu itu memang tak bisa terpuaskan, Nak. Makanya, kita harus cerdas mengontrol diri.”

Aku meneguk air putih sekali, kemudian menuturkan ketidaksepahamanku, “Tapi kehidupan memang sudah berubah, Kek. Sesuatu yang dulu dianggap keinginan atau kebutuhan sekunder, mungkin telah menjadi kebutuhan primer. Telepon genggam dan kendaraan, misalnya. Kurasa, itu sudah menjadi kebutuhan sekarang.”

Ia lekas merespons, “Kamu benar, Nak,” katanya. “Aku juga punya telepon genggam. Tapi yang sederhana saja. Yang penting bisa teleponan. Aku juga punya sepeda motor, tapi yang sederhana saja. Yang penting bisa berjalan.” Ia kemudian memandangiku dengan raut wajah yang serius. “Yang berlebihan dan melampaui kebutuhan dalam soal itu adalah gengsi yang lahir dari nafsu duniawi. Lihatlah sekarang, beberapa orang malu menggunakan telepon genggam yang bukan dari merek tertentu. Beberapa orang malu berkendara di tengah kota dengan motor tua dan jadul. Padahal, terlepas dari soal gengsi, benda beda merek dan masa itu tetap saja memiliki fungsi yang sama.”

Tiba-tiba, aku kesulitan menemukan sanggahan dan malah mengungkapkan sebuah kesepahaman, “Barangkali Kakek benar soal itu.”

Ia tersenyum. “Sekarang itu, orang merasa miskin bukan karena penghasilannya tidak cukup, tapi karena mereka boros,” tuturnya lagi. “Barangkali di zaman yang penuh hura-hura ini, ada beberapa orang yang sebenarnya kaya, Nak, hanya saja hati mereka miskin.”

Batinku merasa tersinggung. Seketika, aku menggugat diriku sendiri. Aku tiba-tiba merasa bak seorang murid bagi sang kakek. Maka kutanyakan saja sekalian soal inti pandangan sang kakek tentang nilai kekayaan, “Lalu, siapa yang patut dikatakan sebagai orang kaya menurut Kakek.”

Ia meneguk segelas air putihnya sampai tandas, kemudian membersihkan tangan kanannya di kobokan. “Orang kaya itu, Nak, bukan mereka yang menerima, tapi mereka yang memberi. Orang kaya adalah mereka yang selalu merasa berlebih, sampai mereka kuasa mencukupkan kekurangan orang lain melalui jalan sedekah. Siapa yang tahu soal itu? Ya, tentu diri kita sendiri,” katanya, dengan penuh keseriusan. “Kalau setiap hari kita hanya sibuk mencari harta untuk kepentingan diri kita sendiri, dan masih saja merasa kekurangan, kurasa, itu berarti kita masih miskin.”

Aku mengangguk saja. Tak lagi sanggup membalas atau sekadar bertanya. Seolah aku baru saja mendapatkan pelajaran makna yang berguna untuk jiwaku.

Hening sejenak.

Beberapa saat kemudian, sang kakek mengucapkan kalimat perpisahan, “Barangkali, saya pamit lebih dulu, Nak.”

Aku kembali menawarkan makanan yang masih tersisa di atas meja, “Tidakkah Kakek mau tambah makanan lagi?”

Ia menggeleng. “Aku sudah kenyang, Nak. Dan itu wajar, sebab aku makan lebih dulu darimu.”

Aku melayangkan senyuman, “Baiklah, Kek,” kataku, lalu teringat pada niat awalku, “Tapi izinkanlah aku mentraktir Kakek hari ini!”

Ia kembali menggeleng. “Tak usah, Nak. Biar aku saja.” 

Untuk sesuatu yang terlanjur kuniatkan, aku mencoba memaksa, “Tapi, Kek…”

“Biar aku saja!” timpalnya seketika, sambil tersenyum, kemudian melangkah dan berhenti sejenak di depan kasir, lalu beranjak pergi.

Lekas, aku menandaskan makanan di piringku. Selepas itu, aku merasa sangat kenyang.

Tapi kali ini, aku merasa tak betah duduk berlama-lama untuk menetralkan isi perutku. Segera saja aku melangkah ke kasir untuk menyelesaikan tagihan makananku.

Dan kuderngarlah keterangan dari sang kasir, “Tagihan makanan Bapak sudah dibayar Kakek Syukur,” katanya.

Seketika, aku merasa menjadi orang paling miskin di dunia.

Sambil menenangkan perasaan yang berkecamuk, aku pun melangkah keluar warung dengan sebuah keinsafan yang baru tentang makna hidup.

Dan kurasa, telepon genggam di dalam saku celanaku bergetar. Kucek, hingga kubacalah sebuah pesan singkat dari istriku: Hari ini, Papi cepat pulang ke rumah, ya. Sore nanti, temani Mami belanja ke toko. Kita perlu mengganti AC dengan merek keluaran baru yang lebih tahan lama. Mesin cuci juga perlu diganti dengan merek yang lebih hemat air. Terus, Dian, katanya minta dibelikan HP baru yang lebih canggih. Rami juga, dia minta dibelikan perangkat play station terkini. Nanti aku cari tahu lagi barang-barang yang perlu kita beli.

Semoga Kita

Betapa bodohnya aku yang dulu
Memendam kata yang engkau harap
Sembunyi dari diriku yang kini
Kembali menyusun serpihan cerita
Antara kita di dalam ruang yang bisu
Hanya ada inginku kembali
Pada satu waktu kita berdua
Untuk kubacakan sebuah cerita
Tentang lelaki yang masih berharap
Pada engkau yang mungkin telah berubah
Adalah aku yang terkutuk
Yang telah melewatkan kita yang mungkin
Bersama tapi akhirnya berpisah
Antara belum dan akan
Masih kupanjatkan doa-doaku
Semoga kita bersama

Dongeng Pahlawan

Hari ini aku pulang dengan perasaan gembira. Telah kucapai cita-citaku dari tempat yang jauh. Sebuah kesuksesan yang akan kuceritakan sesampainya di rumah. Seberkas cerita menggembirakan yang akan kututurkan menyusul tanya-tanya yang akan menyerangku. Dan tentu saja Ibu akan sangat bahagia mendengar bahwasanya aku telah menjadi seperti yang ia inginkan.
 
Rindu pun terus memacu ketidaksabaranku untuk segera sampai. Jarak terasa semakin membentang seiring semakin mendekatnya aku pada titik keberadaan Ibu. Aku ingin segera melihat rupanya. Aku ingin menyaksikan betapa lamanya ia harus berjuang untuk menuntunku menjadi seorang yang berhasil. Dan akan kutegaskan terima kasih padanya, sebab seluruh tetesan keringat dan air matanya, telah berhasil menyemai masa depanku.

Memang, hanya pada Ibu seorang aku akan pulang. Ayah telah tiada saat Ibu masih mengandungku. Namun aku bisa hidup dengan mimpi besar, juga karena Ayah. Dari cerita Ibu tentangnya, aku tahu seperti apa dan bagaimana menjadi seorang lelaki sejati, seperti dirinya. Menjadi seorang pemberani yang membela kebenaran meski harus bertaruh nyawa. Menjadi pemberantas kejahatan, meski harus terbunuh.

Kini, aku telah berhasil menjadi seorang polisi sesuai dengan keinginan kedua orang tuaku. Sebagaimana juga kata Ibu, Ayah memang menginginkan aku menjadi seorang penegak kebenaran. Pun, cerita tentang keteguhan Ayah membela kebenaran telah menjadi motivasi terbesar bagiku untuk menjadi seorang polisi. Sosok Ayah seakan terus menyertai dan memberiku semangat hidup, meski aku tak sempat mengindrainya secara langsung. 

Aku selalu suka ketika Ibu menuturkan tentang kepahlawanan Ayah di masa kecilku dahulu. Kurasa seperti dongeng yang sangat memukau. Tentang Ayah yang tampil sebagai pemberantas kejahatan dengan tangannya sendiri kala orang-orang pasrah menjadi penakut demi nyawa. Tentang Ayah yang meninggal ditikam setelah bergumul dengan kawanan penjahat yang tega menganiaya dan mencuri harta milik seorang wanita tua di terminal. 

Sungguh bangga aku pada Ayah. Sosok yang dahulu, di masa kanak-kanak, suka kusombong-sombongkan di tengah teman-temanku yang lebih suka menjago-jagokan karakter pahlawan fiksi dibanding sosok ayah mereka sendiri. Aku cukup mengulang-ulang cerita kepahlawanan Ayah sebagaimana yang diceritakan Ibu kepadaku, sampai teman-temanku terkesima, meski tak sedikit di antara mereka yang gerah dan malah menjelek-jelekkan sosok Ayahku. 

Kuyakini sudah kebenaran perkataan Ibu bahwa tiada yang pantas ditinggalkan di dunia selain jasa dan nama baik untuk anak-cucu kelak. Setiap orang akan mati, tapi mereka yang berjasa baik akan terus hidup dalam kehidupan orang-orang. Mereka akan mengabadi sebagai teladan. Nama mereka akan dilafalkan orang-orang di dalam doa. Demikian pula aku memandang Ayah dan jasa baiknya. Ia, sosok terbaik yang dilahirkan Ibu dalam benakku, akan terus menyertaiku sepanjang hidup.

Dan saat ini, di sebuah terminal, kurangkai lagi gambaran tentang akhir hidup Ayah di dalam imajinasiku. Kuarahkan pandangan ke segala arah. Kutelisik setiap sudut. Kucipta dugaan tentang letak darah Ayah bercecer dan meresap setelah ditikam penjambret, sebagaimana cerita Ibu. Kuhirup udara pagi sambil berkhayal memeluk sukma Ayah, lalu kunyatakan padanya bahwa di sini hidupmu berakhir, dan di sini pula aku mengokohkan tekad untuk menjadi pemberantas kejahatan, sepertimu.

“Ya, beginilah. Kita harus menunggu,” kata seorang lelaki tua yang menghampiriku tanpa aba-aba di satu bangku terminal. Ia lalu duduk di samping kiriku.

Aku yang tengah merenung sambil menunggu sopir mobil tumpanganku mencari penumpang baru, jelas saja dibuat pulih dari lamunan. Aku pun menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Setelah melayangkan senyuman singkat, kurespons ia sekenanya, “Ya, begitulah, Pak. Sekali-kali kita harus bersabar untuk melonggarkan rezeki orang lain,” kataku, kemudian melirik tato di pergelangan tangan kirinya yang tampak buram.

Ia kembali menoleh padaku sambil tersenyum. Setelah melepas batuk kering, ia lalu menuturkan taksirannya, “Aku menduga, Ananda ini seorang polisi. Benar?”

Sontak, aku tercengang menyaksikan kejeliannya. “Benar,” kataku. “Bapak tahu dari mana?”

“Dari pengalaman hidup, Nak. Aku bisa lihat dari penampilan fisik dan sikapmu,” terangnya, kemudian terkekeh sejenak. “Waktu masih muda, aku ini pendosa. Disuruh sekolah baik-baik di kota oleh orang tua, eh, aku malah menyeleweng.” Ia berhenti sejenak untuk membakar rokok di bibirnya dengan tangan kiri. “Dahulu, aku gemar mencuri, kemudian menggunakan hasilnya untuk perbuatan yang bejat pula. Karena itulah, aku terbiasa membaca situasi dan kondisi untuk memastikan bahwa tak ada aparat keamanan setiap kali aku beraksi.”

Aku menggangguk. Mengagumi keahliannya.

“Tapi syukurlah, umurku panjang, dan aku masih punya kesempatan untuk mengikis tumpukan dosa-dosaku,” katanya lagi. “Kamu beruntung, Nak. Kamu berhasil menapaki jalan untuk menjadi orang yang baik,” sambungnya, sambil menepuk-nepuk punggungku. Ia lalu berpesan, “Adililah jika kau menemui orang bejat seperti aku dahulu, sehingga mereka lekas pula jadi orang yang baik.” 

Aku melepas tawa. “Aku saja masih perlu untuk terus mengadili diriku sendiri, Pak. Aku masih muda, dan di depanku ada begitu banyak jebakan dan godaan. Aku masih harus belajar dari pengalaman,” balasku, berusaha menyesuaikan diri dengan ranah pembicaraannya. “Bapaklah yang mungkin lebih tahu tentang keadilan, tentang baik-buruknya budi, karena Bapak punya banyak pengalaman.”

Dia pun tertawa.

“Barangkali memang benar, Pak, kalau orang paling beruntung adalah orang yang mati di masa kanak-kanak, ketika mereka belum melakukan perbuatan buruk atas kesadaran mereka sendiri, dan mereka meninggal tanpa dosa,” kataku. “Tapi di umurku yang terlanjut dewasa ini, aku jelas telah melakukan banyak salah dan khilaf. Belum lagi jika umurku panjang.”

Ia menggeleng. “Tapi mereka yang mati di usia kanak-kanak, akan dilupakan. Mereka belum berhasil mengukir hitam-putih cerita hidupnya di dalam kehidupan,” sanggahnya. “Yang lebih beruntung adalah mereka yang mati di usia senja dan berhasil mengukir jasa-jasa baiknya dalam kehidupan. Kau masih punya harapan besar untuk merebut keberuntungan itu, asal kau teguh pada pendirian. Sedangkan aku telah menjadi seorang yang gagal.”

Seketika, aku kagum dengan cara berpikirnya.

Ia lalu menghisap dalam dan mengembuskan asap rokoknya yang panjang. “Tapi, yang lebih sial adalah mereka yang mati di usia tua saat ia tengah melakukan kejahatan. Semacam pencuri yang mati dimassa. Nahas!”

Lagi-lagi, aku terpukau pandangannya. “Kurasa, pendapat Bapak itu benar.”

“Lihat ini, Nak!” katanya, sambil memperlihatkan tangan kanannya yang puntung, yang sedari tadi tertutup jaket hitam yang ia selempang. 

“Apa yang terjadi?” tanyaku seketika.

“Ya, sebagaimana akhir hidup yang tragis bagi pencuri yang lain,” katanya, lalu mendongak, seperti terkenang pada masa lalunya. Ia lalu berkisah, “Dahulu, bersama seorang teman, aku menjambret seorang nenek. Tapi nahas, kami dikejar massa. Motor yang kukendarai selip dan terjatuh. Aku berhasil bangkit dan berlari menuju ke pos polisi, meninggalkan seorang teman yang akhirnya meninggal dikeroyok warga, tepat di sana, di sisi luar gerbang terminal itu.”

Aku lalu menoleh pada arah yang ditunjuknya, dan merasa ngeri.

“Sampai saat ini, aku terus mengenang temanku itu dengan penuh rasa bersalah,” akunya, dengan raut wajah yang sayu. “Sepintas, saat aku melihatmu, kau mengingatkanku padanya. Kau punya kemiripan wajah dengannya. Sama-sama tampan. Tapi tentu dengan nasib dan perilaku yang berbeda.”

Aku tertawa pendek atas singgungannya tentang diriku.

“Keadaan tanganku ini adalah akhir dari kedunguanku. Dan karena ini pulalah, aku benar-benar berhasil memaksa diri untuk berhenti mencuri,” jujurnya lagi. “Dan kukira, pertobatan yang paling rendah nilainya adalah tobat karena terpaksa.”

Aku sedikit terenyuh. “Yang penting Bapak telah berhasil kembali pada jalan yang benar. Tak ada kata terlambat dan jalan yang salah untuk menjadi orang baik.”

Ia tampak mengangguk. Lalu dengan tangan kiri yang cekatan, ia kembali mengenakan jaket hitamnya. “Aku harus bergegas. Mobil tumpanganku sepertinya sudah mau berangkat.”

“Tapi kita belum bertukar nama,” kataku sambil berdiri, berhadapan dengannya. “Namaku Arlian Sumingga. Panggil Lian saja, Pak,” terangku, lalu menarik kembali tangan kanan yang kuulurkan untuk berjabat.

“Sumingga?” selidiknya dengan wajah penuh keingintahuan. “Dan ibumu bernama Winarti?”

“Ya! Benar!” Seketika, aku jadi semakin heran atas kebenaran tebakannya. “Bapak tahu dari mana?”

Raut wajahnya berubah datar. “Dahulu, aku berteman baik dengan Ayahmu. Aku juga, mengenal baik Ibumu.”

Sontak, tanya-tanya pun bermunculan di benakku.

“Baiklah, aku harus pergi,” katanya, sambil menepuk lenganku dengan tangan kirinya. “Sampaikan salamku pada Ibumu. Sampaikan juga ucapan selamat dariku, sebab ia telah berhasil mendidik anaknya menjadi orang yang baik!”

Ia kemudian melangkah-menjauh dariku.

Aku hanya membisu.

“Oh, iya, namaku Sam Baril!” tuturnya. “Sampai jumpa!”

Lagi-lagi, aku hanya membisu.

Seketika, aku jadi semakin tak sabar bertemu Ibu. Bukan hanya untuk mengimpaskan rindu atau sekadar bertukar kisah selama perpisahan, tapi juga untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku tentang pertautan kisah di antara mereka.

Yang Tak Bisa Memiliki

Tangis terdengar di antara kerumunan orang-orang yang merasa kehilangan. Bersedu sedan mereka atas jasad di balik kain kafan. Mereka tampak berduka untuk satu sosok yang tak mungkin kembali seperti dahulu. Bersedih untuk seseorang yang kini menjadi penghias kenangan mereka. Entah karena pertalian keluarga, persahabatan, atau persaudaraan sesama manusia.
 
Namun aku merasa biasa saja. Tak ada bulir-bulir air yang tergelincir dari mataku. Seolah-olah aku tak mengenal seseorang yang kini terbujur kaku di hadapanku. Seolah-olah aku malah membencinya. Padahal, aku sadar kalau orang-orang menaksirku sebagai salah satu wanita yang seharusnya merasa sangat kehilangan. Aku yakin kalau mereka menduga aku akan menangis sejadi-jadinya. Dan karena itu, aku merasa malu.

Memang sudah semestinya aku meneteskan air mata. Sebagai seorang wanita yang direncanakan menikah dengan sang mendiang seminggu ke depan, aku seharusnya merasa tertimpa musibah atau kesialan yang sangat menyakitkan. Tapi sungguh, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, tak ada rasa sedih yang sanggup menggelitik kelopak mataku. Sedang tak ada air mata dari tangis yang tak berasal dari hati.

Akhirnya, dengan sikap bodoh, aku menunduk saja. Menyembunyikan raut wajahku yang hampa rasa. Mengalihkan bola mataku di balik kacamata hitam ke arah liang lahad sang mayat, atau ke mana saja yang luput dari perhatian para pelayat. Sesekali, aku melirik pada orang-orang yang kebanyakan belum kukenal baik, sambil bersikap awas kalau-kalau mereka balik menatapku dan terheran atas sikapku yang biasa saja.

Sebagaimana lumrahnya, kulihatlah bahwa orang-orang terdekat sang mendiang menjadi pihak yang merasa sangat kehilangan. Ibu, ayah, dan saudara kandung almarhum yang berada di sisi depan kerumunan, adalah orang-orang yang merasa sangat terpukul. Mereka tampak menangis penuh kedukaan. Seolah-olah menegaskan bahwa pada setiap kepergian, selalu ada kesedihan yang mendalam di hati orang-orang yang merasa sangat memiliki. Dan aku merasa tidak termasuk.

Sampai akhirnya, perhatianku teralihkan ke sisi belakang. Pada seorang wanita yang terisak dengan suara yang terdengar meraung di antara suara tangis yang lain, hingga membuat kekhidmatan suasana menjadi terganggung. Terus saja ia meronta, seakan-akan tak peduli pada orang lain di sekitarnya. Seolah-olah dirinya berhak dinobatkan sebagai orang yang paling kehilangan atas kepergian almarhum. 

Aku jelas tak tahu dan tak mengenal wanita itu. Tapi jika tangis adalah bahasa kejujuran, kukira, ia punya kedekatan yang lebih dengan almarhum calon suamiku. Hingga kutaksirlah kalau barangkali ia adalah wanita yang pernah sangat berharap menjadi pendamping hidup almarhum. Sebagaimana cerita yang kudengar dari ibuku, memang ada seorang wanita yang begitu tergila-gila dan mendambakan almarhum. Namun sayang, almarhum tak bisa membalas perasaannya dan malah jatuh hati pada seorang wanita yang lain: aku.

“Sayang…!” seru si wanita saat jasad almarhum perlahan dimasukkan ke dalam liang lahad.

Beberapa orang sigap mencegatnya agar tak mendekat ke tubir liang, kemudian menuntunnya ke arah belakang dengan sedikit kasar.

Dan aku yakin sudah, dugaanku tentang si wanita sebagai seseorang yang sangat mendambakan almarhum, memang benar.

“Harusnya tak berakhir seperti ini, Sayang!” serunya lagi dari sisi paling belakang, di sekililing beberapa orang yang mencoba menenangkannya dengan segala cara.

Perlahan-lahan, gundukan tanah mulai dijatuhkan dan menimbun liang kubur. Tangis orang-orang pun semakin menjadi-jadi. Namun tetap saja, kerasnya suara tangis si wanita mengalahkan suara tangis yang lain.

Beberapa waktu berselang, lenyaplah sudah jasad di balik kain kafan. Hanya tampak gundukan tanah dan batu nisan di atas kubur. Orang-orang pun tampak mulai menenangkan dirinya masing-masing. Sama-sama berusaha meredakan tangis yang mengiring prosesi penguburan sedari awal.

Sampai akhirnya, orang pun menyampaikan doa perpisahan untuk almarhum dengan cara masing-masing, kemudian mereka beranjak satu per satu. Begitu pula aku dan orang tuaku, juga keluarga almarhum yang pergi di waktu terakhir demi mengurai rasa sedih secara perlahan sebab masih berat melepaskan.

Dan tanpa kuduga-duga, sebuah dorongan kuat dari arah belakang membuatku jatuh tersungkur. 

Lekas, beberapa orang membantuku menegakkan badan. Kulihat, beberapa lainnya menahan si wanita agar tak menyerangku kembali.

Si wanita pun membentak dengan raut garang, “Dasar wanita penggoda! Sialan!”

Aku terkaget menyaksikan kemarahannya.

Ia kembali menyerapah, “Ini semua salahmu, bangsat!”

Perlahan, aku pun terenyuh menyaksikan ketidakwarasannya karena cinta. Aku memandanginya bukan dengan kemarahan, tapi dengan belas kasih untuk ia yang tak bisa memiliki cinta dari orang yang ia dambakan. Sungguh, rahasia perasaan memang serumit itu. Beberapa orang ditinggalkan oleh seseorang yang sangat ia cintai. Beberapa yang lain malah didatangi oleh seseorang yang tak bisa ia cintai.

Berselang beberapa saat, tampaklah keadaan yang semakin membingungkan. Beberapa anggota polisi datang menghampiri dan mengamankan si wanita. Dan setelah menyampaikan penjelasan ringkas, polisi pun memborgol tangan si wanita, lalu menuntunnya ke mobil dengan cara paksa.

“Apa yang terjadi, Pak?” tanya ayah sang mendiang.

“Kami menemukan bukti bahwa di malam ketika amlarhum meninggal dunia, ada racun mematikan di dalam segelas kopi yang ia minum. Dan kami pun menemukan petunjuk yang mengarah pada wanita itu sebagai pelaku. Tapi itu masih dugaan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terang sang polisi.

Seketika, dari tempat yang jauh, kupandangi si wanita dengan penuh belas kasih. Dalam sisi hatiku yang tidak berperasaan, kuucapkan terima kasih padanya yang telah menyelamatkanku dalam bingkai cinta yang tak pernah kuinginkan. Bagaimana pun, ia telah menyelamatkan aku dari rencana pernikahan yang akan terjadi atas keinginan orang tuaku dan orang tua almarhum saja, meski aku menolaknya sekeras hati.

Dan kini, aku pun mengerti bahwa beberapa orang akan hidup dengan seseorang yang tak pernah ia dambakan -yang jika saja tak ada aral melintang, akan terjadi padaku seminggu ke depan. Pun, beberapa orang harus merelakan kepergian seseorang yang sangat ia dambakan, seperti nasib si wanita. Hingga akhirnya, beberapa orang berhasil menjaga kewarasannya dalam tali cinta yang dipaksakan dengan menganggap itu sebagai takdir, tapi tak jarang pula yang menjadi gila karenanya.

“Kamu tak apa-apa kan, Nak?” tanya ibuku dengan penuh keprihatinan.

“Aku baik-baik saja, Bu. Mungkin lebih baik dari kemarin-kemarin,” kataku.

Roda Kenangan

Hujan sedang turun. Menghapus jejak-jejak langkah yang seketika berubah jadi kenangan. Seperti juga jejak kita yang berserakan di setiap sisi jalan kota ini. Masih kukenang jelas tentang semua itu. Tentang setiap titik yang kita jejaki sebagai dua orang sahabat dekat yang suka saling berbagi. Hanya tentang adegan senda-gurau, tanpa ada keseriusan berlebih.
 
Entah bagaimana pendapatmu tentang masa depan kita. Soal adakah rasa di hatimu untuk menjadi kekasihku, aku tak tahu. Aku tak pernah bertanya, dan kau tak pernah menyatakannya saja. Hingga ketidakjelasan itu masih membuatku berharap pada penyatuan cinta kita. Masih berharap bahwa kau belum menjadi milik siapa-siapa, dan aku punya kesempatan memilikimu.

Kini, aku terus saja mengulur-menggulung arah jejak kita, seperti orang gila. Datang ke satu titik ke titik yang lain, hanya untuk menghidupkan bayang-bayang kita yang terkubur waktu. Dan di sinilah aku, di tepi jalan bandara, di sekitar bekas kakimu yang terakhir kalinya sebelum beranjak ke kota seberang. Di sinilah aku, mendoakan segala ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Dan ketika akal sehatku memandu, kupikir juga untuk berhenti mengenang masa lalu di sini, kemudian pergi ke tempat yang lain untuk mengukir kenangan baru yang akan menutupi kenangan kita. Sesekali pula kupikir untuk mencari pekerjaan lain, dan berhenti jadi seorang pengemudi taksi, sehingga aku tak harus mengulang-ulang adegan kenangan yang sama.

Tapi nyatanya, aku tak bisa beralih dan malah terus meyakinkan diri bahwa kebiasaan bodohku itu memang wajar bagi seorang pendamba. Bahwa memang setiap orang hidup dalam dimensi kenangan, kenyataan, dan harapan. Bahwa aku boleh saja terperangkap di masa lalu bersamamu, tapi aku harus hidup untuk kenyataan di hari ini dan esok. Aku butuh rezeki untuk tetap hidup, meski hanya untuk mengenang.

Sampai akhirnya, kesabaranku kembali berbuah keberuntungan. Seseorang lelaki paruh baya melambaikan tangan ke arah mobilku, dan aku pun bergegas menghampirinya sambil menyetel radio untuk menciptakan suasana yang nyaman, atau untuk sekadar menutupi keheningan di antara penghuni mobil yang seringkali terjadi. 

Di bawah hujan yang deras, ia pun segera masuk dan duduk di sisi depan mobil, di sampingku. Sedang seorang wanita yang menyusul masuk ke mobil, duduk di bangku tengah seorang diri.

“Jl. Pasar Raya, Blok. IV, No. 12, Pak!” terang sang lelaki.

Seketika, berkas kenanganku kembali tersibak. Aku tak asing dengan titik rumah yang akan kami tuju. Terlalu sering aku berkunjung ke sana dahulu, ke rumahmu. Mungkin untuk saling berbagi tentang apa saja, atau menjemputmu menuju ke suatu tempat.

Dengan perasaan berdebar, kutiliklah sang perempuan di sisi belakangku. Tapi lekas ia memalingkan wajah ke arah samping, ke kaca jendela. Namun aku tak sedikit pun lupa detail wajah itu dari segala sisi. Dan kuyakini sudah, aku telah terjebak dalam kondisi yang tak kuinginkan. Dia adalah kau, seorang perempuan yang masih kuharapkan menjadi pendamping hidupku, kini hadir bersama seseorang lelaki yang mungkin telah menghancurkan angan-anganku tentang kita.

“Sudah lama jadi pengemudi taksi, Pak?” tanya sang lelaki yang mungkin merasa terasing setelah sedari tadi aku tak memulai pembicaraan.

“Ya. Sudah hampir tiga tahun,” balasku, seadanya.

Hening beberapa saat.

Aku lalu memikirkan pertanyaan yang sopan untuk seorang penumpang. Bagaimana pun juga, aku harus bersikap professional dan tak boleh mendahulukan perasaan diri sendiri dalam urusan pekerjaan. “Ada urusan yang mungkin sangat penting, sampai Bapak harus buru-buru di tengah hujan deras begini?”

Dia lalu mengungkapkan jawaban yang kurasa sangat menyakitkan, “Anakku sakit,” tuturnya, “Ya, mungkin karena dia masih kurang becus mengurus dirinya sendiri. Atau mungkin juga dia hanya rindu.” Ia lalu menoleh padaku sejenak. “Kami, orang tuanya, kini menetap di kota seberang karena urusan pekerjaan. Ia hanya diurus neneknya seorang diri.”

Aku benar-benar merasa kecewa mendengar keterangan itu. Tapi dengan keteguhan hati, aku tetap berusaha merepons. “Memang lebih baik kalau anak-anak tinggal bersama orang tuanya, Pak. Hidup terpisah di antara orang terkasih, tentu tidak baik.”

“Itu benar. Kami pun memiliki rencana demikian. Aku pun tengah mengurus perpindahan tempat kerja ke sini, juga mengurus perpindahan segala macam usaha kami dari kota seberang, demi anak,” katanya, kemudian menyinggung tentang diriku, “Bapak sendiri tentu merasa lebih tenang berada di kota ini. Tak harus jauh dari anak-anak.”

Aku melepaskan tawa pendek. “Tidak juga, Pak. Sopir taksir kan harus keseringan berada di luar rumah,” sanggahku. “Tapi beruntung, aku memang belum punya anak.”

Ia segera menanggapi dan berusaha membesarkan hatiku, “Mungkin belum waktunya. Kami juga harus menunggu tiga tahun untuk mendapatkan momongan. Itu memang butuh kesabaran.”

“Aku memang belum beristri, Pak,” kataku.

Seketika, ia tertawa lepas. “Oh, maaf,” katanya, kemudian menelisik, “Tapi kenapa belum menikah?”

“Ya, mungkin karena belum bertemu jodoh, Pak,” melasku, sambil mencoba melirik ke kaca tengah untuk melihat reaksimu yang ternyata masih saja tak acuh.

Ia berdecak-decak. Seperti tidak membenarkan alasanku.“Ah, itu alasan klise, Pak. Orang-orang selalu saja memanfaatkan istilah ‘bukan jodoh’ untuk seseorang yang tidak ia dapatkan, padahal ia memang tak mengusahakannya secara sungguh-sungguh.”

“Banyak laki-laki yang sengaja melepaskan kesempatan untuk mendapatkan jodohnya. Padahal itu kan butuh keberanian saja. Lamarlah seseorang seorang kalau memang punya perasaan!” tegas katamu, membenarkan ucapan suamimu sendiri.

Seketika, aku mengangguk bodoh dan tersenyum kecut. Aku benar-benar terenyuh dan menyesali diri mendengar pernyataan darimu. Seakan-akan kau hendak mengatakan bahwa kita tak bersama sebab aku telah menggantungkan hubungan kita begitu lama demi memapankan diri untuk menjadi calon pendamping hidupmu yang baik. Dan mungkin itu memang benar.

“Aku yakin orang tampan seperti Bapak belum menikah bukan karena belum ketemu calon jodoh, tapi karena telah menggantungkan atau melewatkannya,” kata suamimu lagi. “Kalau merasa saling cocok dan punya tekad yang kuat untuk saling menopang di dalam membangun rumah tangga, sebaiknya, langsung menikah saja, Pak. Kalau terlambat, penyesalanlah yang akan datang.”

Aku menyunggingkan senyuman terpaksa. “Tapi kalau pun vonis Bapak itu benar, bagiku, yang penting adalah soal alasan seseorang melewatkan jodoh. Maksudku, ketika seseorang menunda pernikahan karena merasa belum mapan, ya kukira itu lebih baik, daripada memaksakan pernikahan dan malah hidup dalam rumah tangga yang penuh ketidakbahagiaan,” sanggahku berdasarkan pengalaman hidupku sendiri terhadapmu. “Barangkali Bapak yakin untuk menikah karena keadaan Bapak memang sudah mapan. Dan kurasa, aku memang belum mapan untuk menjadi seorang suami.”

Seketika, suamimu menggeleng. “Ah, itu alasan kuno, Pak. Aku malah menikah saat pekerjaanku belum menentu. Aku baru diterima sebagai pegawai di sebuah perusahaan swasta setelah menikah. Usaha perdagangan juga baru kurintis setelah menikah. Sungguh, aku menikahi dia,” ia lalu menoleh sejenak ke arahmu, “tanpa syarat-syarat kemapanan itu.” 

“Yang penting itu, kita punya rencana yang jelas tentang masa depan. Pelaksanaannya biarlah dilakukan bersama-sama setelah menikah. Sebab untuk menikah, seorang laki-laki hanya perlu meyakinkan seorang perempuan dan orang tuanya bahwa ia akan menjaga rumah tangganya dalam keadaan suka maupun duka. Kalau mereka telah bersepakat, ya berarti seorang lelaki dan perempuan telah saling menemukan jodohnya,” segahmu lagi.

Aku tersentak untuk kesekian kalinya. Aku merasa semakin bersalah.

“Kalau Bapak punya keinginan untuk segera menikah dan mengusahakannya baik-baik, ya pasti akan menikah. Tapi kalau memang tak ada kecekatan dan keseriusan, ya, apa boleh buat,” pungkas suamimu.

Aku mengangguk bodoh.

Tiba-tiba, radio mengalunkan lagu Raisa-Nostalgia. Sebuah kebetulan yang kurasa sangat menggalaukan.

Hingga tak berselang lama, aku pun menghentikan mobil tepat di depan rumah orang tuamu yang kutahu betul.

“Luar biasa! Bapak berhenti tepat di depan rumah yang kami tuju tanpa harus dituntun,” puji suamimu. “Bapak benar-benar sopir taksi yang berpengalaman.”

Aku tersenyum singkat dan berharap ia tak menduga lebih dari itu.

Segera saja kau turun dan bergegas pergi untuk menghindari terpaan hujan dan tatapanku.

“Terima kasih, Pak,” kata suamimu, sambil menyodorkan uang sewa yang berlebih. “Ambil saja kembaliannya.” 

“Terima kasih,” kataku.

Ia lalu turun dan mengucapkan sesuatu sebelum menutup pintu, “Menikahlah segera!”

Dengan hati yang tengah hancur-lebur, aku berusaha melayangkan senyuman terpaksa.