Senin, 15 Januari 2018

Setelah Dewasa

Masa apa yang paling indah dibanding masa kanak-kanak? Kurasa tak ada, sebab di masa itulah, kita bebas dari perasaan dan beban pikiran yang terlalu. Hati kita yang egois, pikiran kita yang sederhana, hanya berkutat pada soal permainan. Sesekali, hari terhias dengan pertengkaran, tapi lekas juga berujung damai, demi permainan.

Dan, di sinilah aku. Duduk termenung, memerhatikan segerombolan anak-anak yang sibuk bermain di tanah lapang. Bermain karet dan bola kasti, menjadi pilihan mereka. Tak peduli laki-laki atau perempuan, semua larut dalam permainan yang sama. Jelas, jenis kelamin bukan halangan bagi siapapun, asalkan mau turut bermain.

Melihat anak-anak yang riang gembira, ada juga perasaan iri dalam hatiku. Ingin aku seperti  mereka, menghibur diri sendiri, tanpa memusingkan persoalan orang lain. Tak peduli sekat lawan jenis, atau kerumitan yang lahir karenanya. Semua hanya tentang canda-canda permainan, yang tak akan menyisakan cinta atau benci setelahnya. 

Kini, waktu telah merenggut keceriaan itu dariku. Aku telah dewasa, dan akan dicap aneh jika turut dalam permainan mereka. Aku telah terseret pada persoalan lain, yang kaku dan serius. Persoalan yang menguras pikiran dan emosi. Entah soal pekerjaan atau relasi sosial. Termasuk juga yang paling kubenci: soal pasangan hidup. 

Aku sering dilanda kekalutan atas permasalahan jodoh. Tanpa henti, pertanyaan soal pasangan hidup, ditujukan padaku. Para tetangga, sahabat, sampai ibuku sendiri, seakan kompak untuk itu. Dan aku tak tahu harus bersembunyi di mana. Tak ada ruang untuk bebas dari sangkar kedewasaan. Hingga, salah satu pelarian terbaik adalah meresapi keceriaan anak-anak. 

Sejujurnya, aku juga hasratku hidup normal sebagaimana lelaki dewasa pada umumnya. Aku ingin menikah. Ingin memiliki keturunan, sampai aku bisa bermanja-manajaan dengan anak-cucuku kelak. Tapi jalan ke sana, tak kuasa kutempuh, sebab perasaanku begitu rumit dan sulit dipahami siapapun. Hingga dicaplah aku sebagai lelaki dewasa yang berwatak kanak-kanak.

Dan di sela menunganku yang mendalam, seketika, mataku tertuju pada seorang anak perempuan yang cantik jelita. Aku tahu, namanya Milka. Ia memiliki rona wajah yang membuatku terkenang pada seorang wanita di masa lalu. Seorang teman sepermainanku dalam waktu yang lama, yang telah merenggut hatiku sejak aku tahu rasanya jatuh cinta. 

“Om, ambilkan bola kastinya dong,” serunya.

Seketika, setelah menerka jelas wajah anak itu, anganku pun melayang jauh ke masa lampau. Teringat lagi saat kuutarakan niatku mempersunting seorang wanita yang kupuja. Namun hanya luka yang kutuai, sebab ia menolak perasaanku mentah-mentah. Tinggalah aku yang hina, sendiri, dengan perasaan hina. Semua hanya karena aku tak lagi senormal lelaki pada umumnya. 

Dan Milka, kembali mengulang pintanya.

Khayalanku pun, buyar. Aku lalu beranjak, memungut dan mengumpankan bola kasti padanya.

“Hai! Ada masalah apa bengong begitu?” sapa seorang lelaki, sambil menepuk pundakku.

Aku yang terkaget, menoleh ke belakang. Dan kulihatlah sesosok lelaki, Bimo, yang juga teman sepermainanku semasa kanak-kanak. “Tak ada apa-apa,” sangkalku, segera.

Ia lalu duduk dan mengesot sedikit ke arah samping kananku. Bermaksud lebih dekat. “Aku tahu kau ada masalah, sampai-sampai rela menghabiskan waktu untuk sekadar memandangi anak-anak bermain.”

Kupandangi raut wajahnya beberapa saat. Kubaca, ia mengerti soal kekalutanku yang mendalam. Aku pun jadi tak ingin menyanggah. Hingga akhirnya, kutemukan balasan yang jitu. “Kau sendiri, ada masalah apa, sampai datang ke mari untuk memandangi anak-anak bermain?”

Seketika, mulutnya tersekat. Terdiam beberapa saat. Seakan butuh waktu untuk mengarang sebuah alasan. “Ya, sekadar cari-cari hiburan di sore hari,” katanya, kemudian menyengir. “Kita yang sudah dewasa, kadang butuh nuansa kekanak-kanakan untuk menghibur diri. Melihat anak-anak bermain, misalnya.”

Dalam hati, aku setuju dengan penyataannya. Dan karena itu, aku yakin, ia memang tengah dipusingkan sesuatu. “Ya, kau benar. Kalau begitu, bilang saja jika kau ada masalah, sampai butuh hiburan seperti ini!” desakku, berhasrat mengambil alih alur obrolan.

Dia menggeleng pelan. Tampak ragu-ragu berterus terang. Tapi akhirnya, ia bertutur juga dengan nada suara yang melemah, meski tak berkata lugas, “Aku kadang ingin kembali ke masa-masa kecil kita dahulu. Masa di mana kita tidak dipusingkan banyak masalah. Berbeda dengan apa yang kita rasakan setelah dewasa.”

Dan lagi-lagi, aku setuju dengannya. Ada juga inginku kembali ke masa kanak-kanak. Tapi tentu, ia punya motivasi berbeda, yang sebaiknya kuselisik. “Kau tak bahagia menjalani masa dewasamu?”

Dengan raut lesu, perlahan, ia menjawab, “Aku merasa, ada yang tercuri dariku. Aku merasa terpenjara. Tak bebas lagi. Perempuan sebagai istri, selalu punya keinginan yang tak berujung. Dan laki-laki sebagai suami, kadang-kadang jadi seperti budak,” jelasnya, kemudian menoleh padaku. “Kau tak akan tahu rasanya, sebelum menikah.”

“Begitukah juga istrimu?” tanyaku seketika. Lancang.

Tanpa berkata-kata, ia menampakkan senyuman canggung. Dan aku bisa membaca maksud isyarat itu.

“Milka, sudah hampir malam. Ayo pulang!”serunya.

Dengan wajah kesal dan memberengut, perlahan, Milka mendekati ayahnya. Jelas saja, ia tak senang jam bermainnya harus berakhir, meski karena malam sekalipun. Tapi dasar anak-anak, atas titah sang ayah, mau tak mau, ia terpaksa keluar dari lapangan, meski anak-anak lain terus saja bermain, tanpa peduli gelap. 

Beberapa detik berselang, mereka pun menghilang dari pandanganku.

Dan aku, dengan perasaan yang campur aduk, antara terpenjara atau merdeka, berharap atau merelakan, juga turut pulang. Kutiti jalanku dengan langkah pincang, berjengket-jengket, sebab tulang kaki kananku pernah patah, di masa lampau, di masa kanak-kanak, kala aku memburu seekor kupu-kupu hingga terjatuh ke jurang, demi seorang perempuan yang memintaku dengan sangat, yang telah melahirkan si cantik, Milka.

Posting Komentar