Senin, 30 Oktober 2017

Tentang Siapa

Di satu pagi, tanpa sebab yang bisa kuduga, kau datang menghampiriku seorang diri. Tanpa aba-aba, kau lalu duduk di satu bangku, tepat di depanku. Kau terlihat segan, dengan senyuman yang tanggung. Terkesan tersipu-sipu. Sesekali sanggup beradu tatap denganku, tapi lekas berpaling ke arah yang lain. 
 
Seketika, kau pun berucap dengan terbata-bata, “Kak, boleh-tidak aku bertanya sesuatu?” katamu, lalu tertunduk dan menggaruk-garuk pungung tanganmu.

Demi wibawa sebagai senior, aku pun berusaha menanggapimu dengan sikap yang biasa. “Ada apa, Dik? Tak usah permisi kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan. Kalau aku tahu, ya pasti aku jawab.”

Kau masih tampak malu-malu. Lidahmu kelu berterus terang. Tapi setelah melayangkan senyuman yang canggung lagi, kau pun memberanikan diri berucap, ”Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menulis cerpen, seperti Kakak?”

Jelas, pertanyaanmu lumrah saja. Sebagai anggota baru di sebuah organisasi penulisan, sudah sewajarnya kau bertanya pada senior, sepertiku. “Ya, tulis saja, Dik. Mulailah tanpa perlu memusingkan penilaian orang-orang! Tangan seorang penulis memang harus lebih gesit dari kecepatan berpikirnya. Tak baik kalau penulis terlalu banyak berteori. Baiknya, belajar dari aktivitas berpraktik,” kataku, sok-sok bijak dan filosofis.

Kau mengangguk, layaknya memahami. Kedua bibirmu berhimpitan, hingga kelok-kelok di dagu dan pipimu, timbul tenggelam. “Tapi bagaimana caranya aku bisa memulai, Kak. Kadang kala, keinginanku sangat kuat untuk menyelesaikan satu tulisan, tapi aku tak tahu bagaimana harus memulai. Akhirnya, tak satu pun tulisan yang bisa kuselesaikan,” keluhmu, dengan sikap yang lebih tenang.

Kulihat raut wajahmu yang cemberut dan menyiratkan keputusasaan. Kau seperti punya kemauan besar untuk bisa merampungkan tulisan. Maka, kuungkapkanlah satu rahasia besar di balik kesanggupanku selama ini. “Memulai itu, hanya persoalan motivasi. Untuk memulai dan terus menulis tanpa henti, kita harus punya alasan. Maka, carilah alasan yang membuat kita harus atau bahkan terpaksa menulis.”

Dahimu mengernyit. Kau tampak butuh penjelasan yang lebih mudah dipahami. “Alasan itu misalnya apa, Kak?”

“Ya, terserah kamu. Ada kalanya, seseorang penulis fiksi menulis untuk seseorang yang ia kagumi. Yang pasti, carilah alasan yang awet, yang tidak berlaku sementara saja, sehingga alasan itu akan membuat kita menulis tanpa henti.”

Kau pun tersenyum lepas mendengar penjelasannya. Sedikit tersipu. Seakan-akan kau telah menemukan motivasi menulis seketika itu juga.

Dan seiring waktu, sejak obrolan pendek kita di pagi itu, aku pun melihat ada perubahan pada kreativitas menulismu. Hari demi hari, tulisan cerpenmu terus bertambah. Cerita yang kau suguhkan, juga semakin mengagumkan. Kau bahkan telah mampu mengombinasikan diksi yang berirama, ide cerita yang tak lazim, juga alur yang membuat ceritamu sulit ditebak.

Atas pencapaian itu, kadang-kadang aku mamberimu pujian. Hanya sesekali saja. Aku takut pujianku akan membuat motivasi menulismu, terbunuh. Aku takut kau akan terbiasa dengan sanjungan, sampai merasa tak bersemangat lagi kala aku tak sempat atau lupa mengutarakannya untukmu. Itu pun kalau akulah motivasi menulis selama ini. Aku hanya merasa-rasa.

Sikapku yang dingin terhadapmu, sampai jarang mengomentari tulisan di blogmu, akhirnya membuatmu datang menghampiriku. Kau bermaksud meminta pendapatku secara langsung tentang beberapa tulisan yang baru saja kau unggah di bilik pribadimu itu.

“Kalau menurut Kakak, apa lagi yang harus kuperbaiki soal tulisan cerpenku?” tanyamu, tampak lebih berani ketimbang saat kau bertanya tentang tips menulis padaku.

“Sepanjang yang kutahu, kau menulis dengan sangat baik,” jawabku, tanpa semangat untuk merincinya, sebab itu hanya akan berupa puji-pujian terhadapmu.

Kau tersenyum sepintas. “Bagaimana dengan tulisan terbaruku?”

Aku menoleh padamu. Memandangimu lekat-lekat. “Maaf, aku banyak urusan belakangan ini. Aku tak sempat lagi membaca isi blogmu. Lain kali, kita bisa diskusi soal itu,” balasku, dengan sikap yang datar saja, tanpa ada maksud untuk membuatmu senang atau kecewa.

Kau pun tampak cemberut. Rona wajahmu yang cerah saat tiba, jadi padam seketika. “Baiklah. Aku berharap, Kakak berkenan membaca dan memberikan saran jika ada waktu,” pungkasmu, kemudian beranjak pergi.

Aku tahu, kau pergi dengan rasa kecewa yang mendalam. 

Sejujurnya, aku telah membaca tulisan terakhir yang kau unggah di blogmu. Dari cerita polos yang kau suguhkan, aku bisa menyimpulkan kalau dugaanku memang benar, bahwa kau menjadikan aku motivasimu dalam menulis cerpen. Dan, itulah yang tak kuinginkan terjadi. 

Entah sampai kapan, aku tak akan menghiraukan sikapmu padaku. Aku tak ingin peduli tentang perasaanku, juga perasaanmu, serta bagaimana hubungan keduanya. Aku tak ingin memusingkan tentang bagaimana akhirnya nanti, dalam kenyataan hidup. Hanya dengan cara itulah, kita akan terus menulis.

Mungkin kau masih ingat olokan teman-teman kita kepadaku, di suatu hari yang lampau. Saat itu, mereka menjulukiku sebagai penulis karatan. Seorang penulis cerpen melankolis yang tak juga menemukan pendamping hidup. Penulis yang selalu memenangkan percintaan dalam setiap gubahannya, namun tak pernah terbukti di dunia nyata.

“Apa gunanya menulis terus kalau menaklukkan hati satu orang saja tak bisa?” tanya seorang teman kita.

“Kawan, seorang penulis cerita fiksi, butuh motivasi yang awet untuk menulis. Sebuah angan-angan abadi, yang tak boleh diwujudkan dalam kenyataan. Sebuah hal yang akan membuat imajinasi terus hidup dan liar. Biarpun itu berupa harapan akan cinta, atau luka karena harapan itu. Dan mengikat hati pada cinta yang membuai, adalah kematian bagi seorang penulis,” kataku, yang membuat semua orang, juga teman kita, bahkan kau, mungkin sulit memahami maksudnya.

Posting Komentar