Pemaknaan Aktivis
Pemaknaan
aktivis dalam ruang-ruang gerakan perubahan sosial, senantiasa dilekatkan pada
sosok-sosok yang giat melakukan aksi bagi kepentingan umum. Aktivis
dipandang sebagai penggerak yang mampu membuat keadaan menjadi lebih baik.
Sedang, pemaknaan aktivis dalam KBBI adalah orang, terutama anggota organisasi
politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita, yang bekerja aktif
dalam mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya.
Jika
dilakukan perbandingan pada pemaknaan aktivis dalam dua sudut pandang di atas,
maka secara ringkas, pengertian aktivis sesuai pemaknaan kebahasaan merujuk
pada adanya aktivitas, sedangkan pemaknaan aktivis dalam ruang gerakan sosial menuntut
adanya perubahan nyata. Meski memiliki perbedaan pada soal titik tolak realitas
keaktivisan, kedua pengertian tersebut pada dasarnya sama-sama memandang
aktivis sebagai orang yang aktif melakukan gerakan untuk kepentingan umum.
Jikalau
esensi aktivis adalah gerakan, maka pemaknaan aktivis yang senantiasa merujuk
kepada adanya perubahan fisik-materi semata, harus dienyahkan.
Alasannya karena suatu gerakan sebagai usaha menuju perubahan, tidak pasti
akan menulai keberhasilan secara kasat mata. Tapi sebagai suatu usaha, ia telah terwujud dan terlaksana. Pun,
bisa jadi agenda perubahan memang tampak gagal secara fisik, tapi secara
metafisik, gerakan tersebut telah menghasilkan perubahan.
Berangkat
dari pemaknaan aktivis secara umum, maka selayaknya gerakan untuk memperbarui
atau meningkatkan derajat diri khalayak umum, baik dari segi kualitas dan
kuantitas, harus dipandang sebagai tindakan seorang aktivis. Oleh karena itu,
aktivis harus mengandung makna adanya laku dinamis, yaitu sebagai lawan dari
laku statis. Dan seharusnya disepakati bahwa predikat aktivis patut pula
disematkan pada setiap orang yang telah atau terus berupaya melakukan
perubahan, baik terbukti secara fisik-materi, maupun terbukti secara mental, rasio,
ataupun spiritual.
Semua Adalah Aktivis
Setiap
perubahan sosial, akan selalu menobatkan penghargaan kepada seorang atau beberapa orang sebagai aktivis, yaitu mereka yang tampil sebaga pionir.
Semua orang yang merasakan perubahan atau peralihan zaman, akan memuji dan
memuja sosok tersebut. Padahal, sejatinya, pengkultusan itu tak lain dari
perlambangan keberhasilan yang dicapai secara bersama-sama. Namun pribadi yang
diistimewakan, kadung dianggap sebagai satu-satunya penentu, sedang yang lain
hanya pelengkap atau pengekor. Akibatnya, posisi sebagai “aktor” perubahan
menjadi incaran setiap orang yang menggila-gilakan gelar, terutama bagi mereka
yang egois-pragmatis.
Jelas
bahwa dalam setiap gerakan perubahan sosial, selalu dituntut adanya kekompakan
antarpribadi. Setiap orang sebagai bagian dari massa gerakan, mempunyai peran
sendiri-sendiri. Karena itu, posisi dan fungsi dalam gerakan, tidak seharusnya
menjadi dasar untuk klaim-mengklaim keberhasilan sebagai milik pribadi atau
kelompok. Kedudukan dalam aktivitas pergerakan menuju perubahan, cukuplah dipandang sebagai
pembagian peran secara struktural untuk menjamin bahwa roda gerakan berjalan
dengan baik.
Pentingnya
mendudukkan keberhasilan pergerakan sebagai keberhasilan bersama adalah untuk
menjaga situasi dan kondisi yang telah dicapai. Jikalau keberhasilan dilekatkan
pada seseorang atau kelompok, atau diklaim secara pribadi, maka “kue”
keberhasilan rentan dibagi atau dicaplok secara tidak adil. Sebagian orang akan
menjadikan dirinya babu di hadapan mereka yang dianggap dalang keberhasilan,
tanpa sadar untuk menjadikan dirinya sebagai bagian dari dalang. Atau bahkan
sebagian orang itu, malah dihegemoni dan ditindas oleh aktivis pengklaim yang tak tahu
diri.
Menilik Aktivis Mahasiswa
Aktivis
mahasiswa dituntut untuk menjadi tangguh agar dapat merampungkan sekelumit
aktivitas setiap waktu. Apalagi aktivitas yang harus mereka tunaikan tidak
hanya mencakup pembelajaran teoretis di ranah akademik, tapi juga implementasi
pengetahuan akademik di dalam kehidupan sosial. Karena itu, seorang aktivis
mahasiswa harus mampu menyinergikan aktivitas kuliah dan tanggung jawab
sosialnya secara baik, sebab kedua hal tersebut, pada dasarnya, memang tak bisa
dipisahkan.
Fenomena
bahwa ada sebagian mahasiswa yang mencap dirinya aktivis namun tumpul secara
intelektual, sungguhlah memilukan dan memalukan. Mereka mengandalkan otot untuk mewujudkan
perubahan keadaan secara paksa, tanpa mengupayakan pendekatan rasional. Mereka
memaksa orang lain untuk menuruti alur perubahan yang mereka gariskan, tanpa berupaya melakukan
penyatuan persepsi melalui pendekatan dialogis.
Terciptanya
aktivis mahasiswa yang cemerlang secara intelektual, tentu patut diharapkan di
dalam kehidupan yang beringas dan tanpa arah ini. Mahasiswa demikian akan
cerdas dalam menganalisis masalah, menemukan solusi, kemudian melakukan
demontrasi gagasan atau unjuk rasa secara fisik. Mahasiswa demikian, juga
pastilah memiliki keteguhan dalam memperjuangkan perubahan, sebab gerakannya
didasarkan pada rasionalitas yang tidak mudah goyah. Pun, mahasiswa
demikian, bukanlah mahasiswa yang beringas dalam gerakan massa, sebab sentuhan
rasio adalah cara utama bagi mereka, bukan sentuhan fisik.
Harapan
atas lahirnya sosok-sosok mahasiswa yang cerdas secara intelektual sekaligus
cadas dalam aktualisasi gerakan, sangat penting untuk menjamin efektifnya
gerakan sosial mahasiswa. Keefektifan tersebut terjadi karena fokus gerakan tidak hanya pada perubahan
fisik semata, tetapi satu gerakan yang berusaha menciptakan perubahan yang utuh di dalam masyarakat, yaitu menyasar perubahan mental dan pola pikir.
Akhirnya,
mahasiswa yang melakukan gerakan sosial dengan pendekatan fisik-materi
semata demi meneguhkan dirinya sebagai aktivis, sungguh telah keluar
dari hakikat dirinya sebagai kaum intelektual. Jika patut dikatakan, mahasiswa
demikian telah keluar dari esensi kemanusiaan sebagai makhluk yang berpikir,
yang tidak sekadar mempertuankan aspek materi sebagaimana binatang.
Apa
yang terjadi jika mahasiswa kukuh pada gerakan perubahan fisik semata? Jelas,
mahasiswa yang mandamba-dambahan predikat aktivis dan hendak dinobatkan sebagai
pionir perubahan, akan fokus pada gerakan fisik, tanpa disertai
pendidikan sosial kepada masyarakat. Gelar sebagai aktivis mahasiswa menjadi tujuan akhir, sebagaimana gerakan semu yang mereka lakukan, yang tidak
melampaui perubahan fisik. Gelar aktivis mahasiswa menjadi incaran
untuk dijadikan modal dalam mengklaim perubahan, kemudian menagih atau merampok “kue-kue”
keberhasilan di masa mendatang, yang sejatinya gagal sedari awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar