Jumat, 06 Januari 2017

Citra Penampilan

Tentang pentingnya menjaga citra penampilan, film Tucker & Dale Vs Evil, dapat memberikan sedikit jawaban. Film bergenre thriller-komedi ini, jelas menggambarkan bahwa penampilan, senantiasa menjadi dasar orang lain dalam menilai kepribadian seseorang. Apa yang tampak di luar, rentan dianggap sebagai gambaran isi dalam. Istilahnya, judge book by its cover.
 
Pada film yang disutradarai Eli Craig ini, Dale ditokohkan sebagai pria kaku. Ekspresinya sulit ditebak. Caranya berpakaian serampangan. Yang paling unik, ia gugupan setengah mati jika berhadapan dengan orang baru, apalagi wanita cantik. Tampilan itu, tak jauh beda dengan Tucker, kecuali bahwa Tucker memiliki emosi yang lebih stabil.

Suatu hari, sekelompok mahasiswa dari kota datang ke desa tempat tinggal Tucker dan Dale. Melihat sikap kedua pria aneh itu, para mahasiswa pun, jadi berprasangka buruk. Mereka menstigma Tucker dan Dale punya kecenderungan untuk bertindak jahat, sebagaimana teori kriminolog Cesare Lambrosso, bahwa sifat seseorang dapat dilihat dari penampilan fisiknya.

Di tengah hutan, tempat para mahasiswa berekreasi, juga tempat Dale dan Tucker membenahi sebuah pondokan, keadaan semakin ruwet. Itu berawal ketika Dale dan Tucker menyelamatkan Allison, salah seorang mahasiswa yang terpeleset-terjatuh dan tenggelam di sungai. Mahasiwa yang lain pun memastikan keduanya hendak memperlakukan Allison secara keji.

Akibat prasangka buruk, keadaan semakin mengenaskan. Tanpa mencoba berkomunikasi terlebih dahulu, para mahasiswa langsung menyerang dan hendak membunuh Tucker dan Dale. Tindakan itu mereka maksudkan untuk menyelamatkan Allison. Lalu, terjadilah serangkaian kecelakaan yang membuat satu per satu di mahasiswa terbunuh atas dasar kesalahpahaman.

Membaca kepribadian melalui citra penampilan sebagaimana dalam film Tucker & Dale Vs Evil, masih sering dilakukan sejumlah masyarakat, termasuk di lingkungan perkotaan. Ragam-ragam tampilan, baik tampilan buatan atau bawaan, telah dikategorisasikan dalam sebuah identitas tertentu. Semisal, orang yang kulitnya buram dan tak mulus, serta berpakaian amburadul, dicap orang yang masih ndeso.

Di sisi masyarakat pedesaan, paradigma yang sama juga masih ada. Mereka selalu merasa inferior di hadapan orang yang dicap kekotaan, terutama dalam soal penampilan. Padahal sangat mungkin, orang kota saat ini adalah para pendatang yang terpaksa berpenampilan glamor agar tak dicap ndeso. Sisanya, memang penduduk asli yang terpaksa turut “kekotaan” kerena tak bisa menghindari arus modernisasi.

Aksi tipu-menipu melalui penampilan, berakibat lebih runyam. Orang terjebak dalam penampilannya, hingga tak sudi menampakkan kesejatian diri. Terpaksa berperilaku sesuai citra kostum yang ia kenakan. Jadilah, semisal seseorang pejabat atau bos berdasi pun, tak sudi lagi memungut sampah di tengah jalan, sebab merasa ada tukang sampah yang berpakaian lebih pantas untuk memungurusinya. 

Pada titik ini, maka teori Karl Marx terkait pembagian kelas, ternyata dapat juga ditelisik melalui citra penampilan. Orang berdasi, berjas, dan bersepatu kinclong, dapat dikategorikan sebagai kalas atas, pemilik modal dan kuasa. Sedangkan orang yang berpakaian seragam dan terkesan kumal, adalah kelas bawah, para pelayan yang harus bekerja untuk majikannya. Ringkasnya, penampilan menunjukkan strata kelas dalam sistem kerja.

Jika ditilik lebih jauh, pembagian kerja yang dibarengi dengan labelisasi penampilan, tidaklah menjadi soal. Hal itu memang dibutuhkan untuk mengefektifkan kerja dengan menempatkan seseorang sesuai keahliannya. Permasalahan baru muncul ketika terjadi ketimpangan beban kerja dan ketidakadilan pembagian profit yang dihasilkan bersama, yaitu kala segelintir orang kelas atas, menganggap dirinya berhak untuk mengeksploitasi kelas bawah. 

Disadari atau tidak, strata kekuasaan yang tampak melalui menampilan, selalu rentan menimbulkan korban. Itu terjadi kala muruah citra tampilan, diselewengkan. Pada sektor privat, bos berdasi di perusahaan yang seharusnya memerhatikan kesejahteraan karyawannya, malah bertindak semena-mena. Begitu pun di sektor public, para abdi negara yang berseragam aduhai, tidak lagi menampilkan dirinya sebagai pelayan masyarakat. 

Atas absurditas yang terjadi, tidak mengherankan ketika muncul sikap berlawan atas citra tampilan kelas atas yang wah. Sampai akhirnya, pemuda-pemudi dengan tampilan tak lazim, muncul di mana-mana. Rambut gondrong nan warna-warni, jins penuh sobekan, serta aksesoris cadas, membungkus tubuh ringkih mereka, para pembangkang kemapanan kaum hipokrit. Dalam bentuk ekstrim, mereka diistilahkan anak punk.

Adalah kesimpulan yang keliru jika menilai fenomena di atas, lahir tanpa sebab. Sangat kejam juga kalau mencap mereka, laknat. Jauh dari apa yang terlihat, tampilan mereka sebenarnya merefleksikan kenyataan bahwa kelas atas telah menghianatai muruah citra penampilannya. Pakaian tak ubahnya topeng untuk melancarkan tipu muslihat di ruang pendidikan, politik, agama, dan lainnya.

Akhirnya, di kehidupan kekinian, di masa orang rela berjubel demi memenuhi hasrat atas harta, tahta, dan lawan jenis, penting untuk melihat kepribadian seseorang secara utuh. Pesan film Tucker & Dale Vs Evil, perlu direnungkan kembali. Ringkasnya, jangan gantungkan kepercayaan dan ketidakpercayaan pada seseorang berdasarkan citra penampilannya semata. Berkomunikasilah dengan baik, dan lihat apa yang tersembunyi di lubuk hatinya.

Tidak ada komentar: