Rabu, 31 Desember 2025

Dalam Lima

Sekelabu matahari yang sedang malu
Bulat matamu teduh berpayung legam
Menafsir titik-titik pesan dari kitab langit
Mengintip dingin dari lensa yang berembun
Menyembunyikan gelisah asa yang buram

Sebimbang rasa yang tak berselera
Tegas bibirmu terbelai lembut lidahmu
Mengangkat berat suara berbenteng sula
Menggumamkan mantra dengan ketakutan
Merahasiakan alamat hati di dalam doa

Segamang getar rambat gelombang
Halus telingamu berhijab gerai sutra
Menyingkap morse yang terjahit cepat
Menguping dendang tanpa tuntunan lirik
Menikmati album kesenangan sendiri

Setawar embusan bau udara
Lekung cuping membangirkan hidungmu
Memerangkap aroma kembang kenangan
Menghirup haru dari cita-cita yang layu
Menanti musim menyemikan yang baru

Sehambar uluran yang tak terjabat
Lembut kulitmu tak pernah kusentuh
Karena nyata kata hanya bisa diraba-raba
Karena momentum tak berhasil merengkuhkan kepantasan
Sampai akhirnya, segalanya mungkin selain saling memiliki


Minggu, 07 Desember 2025

Bahasa Bisu

Bermula dari kepedulianku yang salah alamat
Yang terlalu khawatir dirimu diterkam bahaya
Selama menjajaki kediaman ruang bersuara
Sambil teriak untuk dapat kata penghubung
Menuju bersama mempertanyakan masalah
Untuk kepentingan orang-orang selain dirimu
Begitu pula aku, yang diam-diam menuju satu

Segalanya lantas mengalur selugu-lugunya
Menyamarkan rencana dalam bingkai berita
Bahwasanya kepolosan mengandung bencana
Sampai waktunya terlahir sebagai duka cinta
Setelah tangis dan tawa dalam peluh sejarah
Sebab kenyataan kita hanya bayang-bayang
Sebagai takdir yang tak pernah dituliskan

Dari pengalaman yang tak mendewasakan
Terpisahlah asa di antara garis batas kesatuan
Yang merentang dalam jaring acak lintasan
Yang membentuk kita dan mereka, kami dan kalian
Yang memisahkan segala yang tersambung
Yang memberaikan harapan dari kenyataan
Yang melampaukan kisah menjadi kenangan

Tetapi kejadian serasa baru selepas lalu
Tentang badai yang mengkhidmatkan bisu
Ataukah terik yang coba melelehkan beku
Di antara nada yang menautkan nadi kita
Di atas roda yang merangkai jeda penantian
Setelah melenceng dari tujuan kita yang buram
Dan berakhir pada bilik perenungan masing-masing

Demikianlah kesialan membawa kita
Dari rumah impian mengarah entah ke mana
Tanpa janji bertatap lagi, atau alasan untuk itu
Meskipun sesal, tak mesti bercucur air mata
Sebab tak akan luntur juga tinta di hati
Tentang kekalnya kisah yang tak selesai
Yang kita arsipkan dengan rasa rahasia

Dari pergumulan harapan yang mati
Paham juga aku sebaiknya begini
Sebab bertikai lebih baik daripada berdiam
Karena kepastian mendahului kebahagiaan
Sehingga hikayat menemukan warna asmara
Untuk kita yang gagal melukis dengan kata
Cukuplah sebagai tokoh penghiburan jiwa

Sampai tiba aku pada kerelaan mendalam
Selepas tragedi melumpuhkan khayalku
Diremuk ketinggian yang tak kucemaskan
Dari nirwana ke tanah bumi yang ganas
Hingga sadarku perihal langit yang agung
Yang kujunjung tanpa sepenuhnya kutinggikan
Yang meneduhkan dalam segenap kepasrahan

Sekarang, tegarkanlah tatapanmu ke depan
Pada yang memelukmu dan sejauh cita-cita
Pada siapa yang menjadi peraduan resahmu
Agar ketenanganmu menjadi ketenteramanku
Agar aku damai dengan segenap kekalahanku
Serupa kecamuk batin yang terusap sepoi angin
Yang mereda sebelum kekacauan yang mungkin

Memang telanjur keadaan menjadi benteng
Serupa alam yang beda dalam satu semesta
Dengan kehidupan yang saling mengasingkan
Meskipun udara masih mungkin menukar nyawa
Dan memori perasaan membahasakan kalbu
Tetapi raga semestinya jauh dari garis sengketa
Menutup pengindraan dari segenap risikonya

Sudah begitu jauh musim menyeret kita
Sampai kini, di bulan terakhir yang basah
Pada awal tahun penguburan kisah yang bisu
Pada titik keterlambatan menjadi keabadian
Yang kubaca dengan penafsiran yang baik
Bahwa pusara itu adalah album kerinduan
Untuk kita ziarahi sendiri-diri, sembunyi-bunyi


Kamis, 14 November 2024

Dari Sebuah Hidup

Rampung sudah cita-cita
Yang tergapai hanyalah kesabaran yang membatu
Karena penderitaan tak selalu terimpaskan bahagia
Kecuali dengan terbiasa merasakannya sebagai kebiasaan
Sampai lenyap beda antara separuh dan seluruhnya
Sampai melebur kecewa dalam amarah
Hingga tersisa hanyalah kesadaran saat ini
Bersama sendiri yang tersesak riuh keramaian
Dengan angan-angan yang penuh kekosongan
Yang membebaskan imaji menghitamkan putih
Yang melepaskan rasa dari kurung dunia
Untuk sepanjang-panjangnya cerita
Untuk sebermaknanya ketiadaan

 

Sabtu, 24 Februari 2024

Jauh dari Dekat

Aku merindukan jiwaku yang kanak-kanak

Tak tahu apa-apa selain yang diberitahu

Sekadar penasaran untuk bertanya

Tentang alam-alam kebangkitan

Yang mewajibkan kepatuhan untuk bahagia

Lalu menjadi taat karena harapan dan ketakutan

 

Aku makin jauh dari pengabdian

Karena kedewasaan meliarkan pikiranku

Mencari jawaban untuk pertanyaan yang tak perlu

Sampai merasa diri pintar dan menjadi berani

Mencari-cari alasan untuk ingkar dan membangkang

Melawan kodrat sebagai makhluk yang berasal dan berakhir jua

Meredupkan keyakinan perihal kefanaan raga dan kebakaan jiwa

Menganggap permainan berulang sebagai kemenangan selamanya

 

Aku sungguh telah jauh

Dari titik kebermulaan aku

Pada kediaman segala kepasrahan

Pada mana hatiku sangat ingin pulang

Berteduh dan bersemayam dalam damai