Gambaran
Kasus
Marsinah adalah seorang aktivis
buruh yang lahir di Nglundo, 10 April 1969. Ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Putera Surya
(CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur. Bersama teman-temannya
sesama buruh, pada awal bulan Mei 1993, ia mengadakan mogok kerja dan unjuk rasa
menuntut kesejahteraan buruh kepada pihak perusahaan. Salah satunya adalah
menuntut kenaikan upah dari Rp. 1.700,- menjadi Rp. 2.250,-. Tuntutan ini
dinilai wajar dan sudah seharusnya, sebab pada awal tahun 1993, Gubernur KDH TK
I Jawa Timur telah mengeluarkan Surat Edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi imbauan agar para pengusaha menaikkan gaji karyawannya sebesar 20% dari gaji
pokok.[1]
Setelah
melakukan kajian atas Surat Edaran tersebut, para buruh PT. CPS kemudian
berupaya menegosiasikan tuntutan dengan pihak perusahaan. Tapi tuntutan mereka
ditolak. Maka pada tanggal 3 Mei 1993, Marsinah dan kawan-kawannya pun melakukan
aksi mogok kerja. Ada 150 dari 200 buruh perusahaan itu yang turut. Namun aksi mereka
tak efektif karena Koordinator Aksi, Yudi Prakoso, akhirnya ditangkap dan
diinterogasi di Kantor Koramil 0816/04 Porong karena aksi mereka dianggap mirip
aksi Partai Komunis Indonesia (PKI).[2]
Keesokan
harinya, 4 Mei 1993, para buruh kembali menggelar aksi mogok. Dan akhirnya manajemen
PT CPS pun bernegosiasi kembali dengan 15 orang perwakilan buruh. Dalam
pertemuan itu, juga hadir petugas dari
Dinas Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, serta perwakilan polisi dan
Koramil. Dan semua tuntutan akhirnya dikabulkan, kecuali pembubaran SPSI (Serikat
Pekerja Seluruh Indonesia) di tingkat pabrik, karena merupakan kewenangan
internal organisasi tersebut.[3]
Namun
di hari itu juga, berdasarkan kronologi yang dirangkai Komite Solidaritas Untuk
Marsinah (KSUM), Yudo Prakoso, buruh yang dianggap dalang pemogokan, mendapat
surat panggilan dari Koramil Porong. Dalam surat bernomor B/1011V/1993 itu,
Prakoso diminta datang ke kantor Kodim 0816 Sidoarjo. Surat itu ditandatangani Pasi
Intel Kodim Sidoarjo Kapten Sugeng. Di Kodim Sidoarjo, Prakoso diminta untuk
mencatat nama-nama buruh yang terlibat dalam perencanaan 12 tuntutan dan aksi
mogok kerja.[4]
Esoknya,
12 buruh mendapat surat yang sama. Mereka diminta hadir ke kantor Kodim Sidoarjo,
menghadap Pasi Intel Kapten Sugeng. Tapi surat panggilan itu berasal dari
kantor Kelurahan Siring yang ditandatangani sekretaris desa bernama Abdul
Rozak. Tiga belas buruh itu dikumpulkan di ruang data Kodim Sidoarjo oleh
seorang Perwira Seksi Intel Kodim Kamadi. Tanpa basa-basi, Kamadi meminta
Prakoso dan 12 buruh lain mengundurkan diri dari PT CPS. Alasannya, tenaga
mereka sudah tak dibutuhkan lagi oleh perusahaan. Berada dalam tekanan,
akhirnya 13 buruh itu menandatangani surat pengunduran diri. PHK itu tak
dilakukan pihak perusahaan melainkan oleh aparat Kodim Sidoarjo.[5]
Berdasarkan
laporan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), emosi Marsinah memuncak
ketika tahu rekannya dipaksa mengundurkan diri. Dia meminta salinan surat
pengunduran diri tersebut dan surat kesepakatan dengan manajemen PT CPS, sebab
dalam surat kesepakatan itu, 12 tuntutan buruh telah diterima, termasuk poin
tentang pengusaha dilarang melakukan mutasi, intimidasi, dan melakukan PHK karyawan
setelah aksi mogok kerja [6]
Tanggal
6 Mei 1993, sehari setelah para buruh dipanggil ke Kodim, adalah libur nasional
untuk memperingati Hari Raya Waisak. Esoknya buruh kembali bekerja, tapi tak
ada satupun yang melihat Marsinah. Beberapa rekannya mengira Marsinah pulang
kampung ke Nganjuk. Pada 8 Mei 1993, tepat hari ini 25 tahun lalu, Marsinah
ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong,
Nganjuk. Ia meninggal terbunuh dengan lula-luka yang sangat mengenaskan.[7]
Kematian Marsinah berbuntut
panjang. Diam-diam, aparat membentuk Tim Terpadu kemudian menciduk 8 orang
petinggi PT CPS, salah satunya Yudi Susanto, pemilik pabrik PT.CPS. Mereka diduga
disiksa untuk mengaku telah membuat skenario membunuh Marsinah. Baru 18 hari
kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim
dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah.[8]
Seturut dengan itu, maka menurut kesimpulan
penyidikan polisi, Marsinah dijemput oleh pegawai PT CPS bernama Suprapto, lalu
dihabisi Suwono, Satpam PT CPS setelah disekap tiga hari. Sampai akhirnya, di
pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya
yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun. Mereka naik banding ke
Pengadilan Tinggi, dan Yudi Susanto dinyatakan bebas.[9]
Dalam proses selanjutnya pada
tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa
dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut,
menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak. Muncul dugaan bahwa penyelidikan kasus
tersebut direkayasa. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap
adanya rekayasa aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.[10]
Analisis
Hukum
Pembunuhan Marsinah merupakan
nuansa kelam dalam sejarah perjuangan buruh. Satu kisah yang menunjukkan bahwa tuntutan
atas hak yang adil oleh para buruh di negara ini, acapkali berhadapan dengan
kekuatan pengusaha dan penguasa yang represif. Para buruh yang menuntut
penghidupan yang layak sebagai hak asasi manusia, harus mempertaruhkan hidup
dan kehidupannya.
Sampai saat ini, Marsinah menjadi
contoh nyata betapa buruh berada dalam posisi yang lemah. Marsinah gugur dan menjadi
monumen perjuangan para buruh. Tapi nahasnya, pengungkapan kasus pembunuhan
atas dirinya, belum menemui titik terang hingga kini. Rezim pemerintahan terus berganti,
tapi janji-janji penyelesaian kasus pembunuhan Marsinah, hanya sampai pada
wacana dan retorika politis semata.
Pengungkapan misteri pembunuhan
Marsinah, jelas membutuhkan political
will dari pemerintah. Mekanisme hukum untuk menyelesaikan kasus yang
menggugah kemanusiaan itu, butuh keputusan hukum yang tepat dari para penguasa negara,
khususnya presiden dan DPR. Kasus tersebut merupakan satu peristiwa hukum yang
tentu saja membutuhkan penyelesaian secara hukum, sehingga mekanisme
penyelesaiannya pun, membutuhkan landasan hukum yang tepat dari pemerintah.
Mekanisme
hukum penyelesaian kasus pembunuhan Marsinah, memang masih menyisakan
kesimpangsiuran. Ada yang menganggapnya sebagai pidana biasa yang cukup diselesaikan
melalui mekanisme pemidanaan umum, tapi ada juga yang menganggapnya kasus luar
biasa yang butuh penanganan khusus. Pada titik ini, jawaban soal apakah
pembunuhan Marsinah masuk kategori pidana biasa ataukah termasuk pelanggaran
HAM berat, sangat dibutuhkan untuk menentukan mekanisme penyelesaian hukum secara tepat.
Dalam
pergulatan wacana soal pembunuhan Marsinah, memang sebagian orang sudah kadung
mengategorkan peristiwa itu sebagai pelanggaran HAM berat. Kesimpulan itu
didasari anggapan adanya upaya sistematis dari penguasa negara untuk
mengenyahkan Marsinah, yaitu dengan terendusnya keterlibatan aparat militer. Selain
itu, pembunuhan Marsinah bersangkutpaut dengan tuntutan buruh atas pemenuhan
penghidupan yang layak, yang jelas diakui sebagai hak asasi manusia. Pun,
Marsinah adalah aktivis buruh yang mati dibunuh secara sadis kala ia sedang
mewakili kepentingan umum yang bukan kepentingan dirinya secara pribadi.
Tapi
hukum positif di negara ini, pada dasarnya memiliki kriteria khusus untuk menyatakan
sebuah tindak kriminal sebagai pelangaran HAM berat. Dalam Pasal 7, 8 dan 9 UU
No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, kategori pelanggaran
HAM berat hanyalah kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan
genosida didefinisikan sebagai perbuatan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh
atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama.
Sedangkan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah perbuatan yang dilakukan
sebagai bagian dan serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa
serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.
Penduduk sipil yang dimaksud dalam kejahatan terhadap kemanusiaan di atas adalah kelompok penduduk sipil, bukan individu penduduk sipil. Hal itu merujuk pada penjelasan pasal 7 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang menyatakan, "Kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan" dalam ketentuan ini sesuai dengan "Rome Statute of The International Criminal Court" (Pasal 6 dan Pasal 7). Pasal 7 Statuta Roma itu menyatakan, “For the purpose of this Statute, "crime against humanity" means any of the following acts when committed as part of a widespread or systematic attack directed against any civilian population (Terjemahan bebas: Untuk tujuan Statuta ini, "kejahatan terhadap kemanusiaan" berarti setiap tindakan berikut yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematis yang diarahkan terhadap populasi penduduk sipil).
Penduduk sipil yang dimaksud dalam kejahatan terhadap kemanusiaan di atas adalah kelompok penduduk sipil, bukan individu penduduk sipil. Hal itu merujuk pada penjelasan pasal 7 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang menyatakan, "Kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan" dalam ketentuan ini sesuai dengan "Rome Statute of The International Criminal Court" (Pasal 6 dan Pasal 7). Pasal 7 Statuta Roma itu menyatakan, “For the purpose of this Statute, "crime against humanity" means any of the following acts when committed as part of a widespread or systematic attack directed against any civilian population (Terjemahan bebas: Untuk tujuan Statuta ini, "kejahatan terhadap kemanusiaan" berarti setiap tindakan berikut yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematis yang diarahkan terhadap populasi penduduk sipil).
Dari definisi di atas, maka sulit
untuk mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Marsinah termasuk dalam kategori
kejahatan HAM berat. Alasannya, Marsinah hanyalah korban individual, dan bukan
bagian dari populasi sasaran aksi kejahatan genosida, juga bukan bagian dari
penduduk sipil sebagai sasaran kejahatan terhadap kemanusiaan. Implikasinya,
instrumen Pengadilan HAM Ad Hoc yang bisa
dihadirkan secara khusus untuk mengadili pelanggaran HAM berat di masa lalu
menurut UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, tidak dapat
diberlakukan pada kasus pembunuhan Marsinah.
Kalau
kasus pembunuhan terhadap Marsinah bukanlah kompetensi Pengadilan HAM Ad Hoc, maka secara otomatis, ia termasuk
dalam kompetensi peradilan umum, sebagaimana tindak pidana pembunuhan yang
biasa. Dan nahas, sebab berbeda dengan tindak pelanggaran HAM berat yang tidak memiliki
masa kadaluarsa, tindak pidana dalam Pasal 78 KUHP memiliki masa kedaluwarsa. Untuk
pengajuan penututan kasus pembunuhan, misalnya, kedaluwarsa jika lewat dari 18
tahun. Berdasarkan ketentuan tersebut, pintu penyelesaian kasus pembunuhan
terhadap Marsinah, pada dasarnya telah tertutup.
Jika
demikian adanya, jalur nonlitigasi menjadi pilihan yang patut ditempuh. Paling
tidak, upaya itu diharapkan bisa menguak tabir pembunuhan Marsinah untuk
mewujudkan rekonsiliasi. Tapi kehadiran Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR),
tentu tak bisa diharapkan lagi, sebab MK telah membatalkan dasar
pembentukannya, yaitu UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi. Terlebih, KKR yang pernah ada memang khusus menyelesaikan
pelanggaran HAM berat di masa lalu, sehingga kalaupun diadakan kembali dengan
format yang sama, jelas KKR tak berwenang menangani kasus Marsinah.
Akhirnya,
yang menjadi tumpuan satu-satunya adalah Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Satu lembaga yang memiliki fungsi dan kewenangan khusus dalam soal penegakan
HAM, meski sifatnya terbatas. Berdasarkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia sebagai dasar pembentukannya, Komnas HAM memiliki fungsi dan
kewenangan untuk turut menangani kasus pelanggaran HAM secara umum, tidak hanya
pelanggaran HAM berat. Paling tidak, menurut UU No. 39 Tahun 1999, Komnas
HAM memiliki fungsi pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi
tantang HAM, dengan kewenangan yang rinci atas setiap fungsi-fungsinya tersebut.
Namun
sayangnya, hasil penyelidikan Komnas HAM senantiasa tidak ditindaklanjuti oleh
Jaksa Agung, yaitu dengan melakukan penyidikan dan penuntutan, yang kemudian dilakukan
pemeriksaan di Pengadilan HAM Ad Hoc.
Sedangkan alternatif kebijakan lainnya hingga kini belum tersedia.[11]
Tapi dalam deretan kemandegan tersebut, apresiasi patut diberikan kepada Komnas
HAM. Pada 2012 Komnas HAM telah menyelesaikan dan melimpahkan penyelidikan
beberapa kasus pelanggaran HAM kepada Jaksa Agung, meski tak ditindaklanjuti
sebagaimana mestinya. Kasus tersebut adalah Peristiwa Trisakti (Semanggi I-1998
dan Semanggi II-1999), Peristiwa Mei 1998, Penghilangan Orang Secara Paksa
1997-1998, Peristiwa Talangsari 1989, peristiwa 1965-1966, dan peristiwa
pembunuhan misterius (Petrus) tahun 1982-1985.[12]
Hasil
temuan dari Komnas HAM, pada dasarnya, memang tak bisa lebih dari sekadar
memperjelas permasalahan atas sebuah pelanggaran HAM. Upaya penyelesaian kasus
secara nonlitigasi oleh Komnas HAM, paling banter hanyalah upaya mediasi yang
jelas tak punya daya mengikat dan memaksa sebagaimana keputusan pengadilan.
Temuan Komnas HAM paling hanya berwujud saran atau rekomendasi kepada
pihak-pihak tertentu untuk dirindaklanjuti. Kedudukan Komnas HAM sebagai
penyelidik pelanggaran HAM dalam UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,
untuk kemudian disidik dan dituntut oleh kejaksaan agung, lalu disidangkan di
pengadilan HAM, juga tak dapat menghasilkan temuan yang berarti apa-apa bagi
kasus Marsinah, sebab kewenangan penyelidikan Komnas HAM tersebut harus terkait
dengan tindak pelanggaran HAM berat.
Sekali
lagi, sesuai dengan kewenangannya, Komnas HAM memang dapat menghasilkan temuan
yang membuat terang kasus pembunuhan Marsinah, namun tak ada jaminan bahwa
temuan itu akan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait. Saran dan rekomendasi
Komnas HAM atas temuannya kepada lembaga-lembaga negara, yaitu kepada DPR dan
Presiden, sebagaimana kewenangan Komnas HAM dalam Pasal 89 ayat (4) huruf d dan
f UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, jelas sangat membutuhkan political will dari para penguasa negara
untuk menghasilkan jalan keluar.
Secara
konkret, dampak yang diharapkan dari saran dan rekomendasi Komnas HAM adalah
adanya political will dari pihak
pembentuk undang-undang untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh pada
norma-norma hukum terkait pelangggaran HAM. Secara normatif, pembenahan utama
yang perlu dilakukan adalah memperluas ruang lingkup pelanggaran HAM berat, bukan
hanya pada kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, tetapi juga
kejahatan lain yang bersifat umum atau kejahatan yang bukan perkara pidana
antarperson, semisal tindak kejahatan yang melibatkan aparatur negara sebagai
pelaku, sedang korbannya mewakili kepentingan umum.
Perluasan
terhadap definisi pelanggaran HAM berat, sudah seharusnya dilakukan. Apalagi,
dalam UU No. 39 Tahun 1993 tentang Hak Asasi Manusia, pelanggaran HAM berat
memang memiliki definisi yang lebih luas daripada sekadar kejahatan genosida
dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal itu dapat dilihat dalam bagian
Penjelasan Pasal 104 UU tersebut yang menyatakan bahwa, “Yang
dimaksud dengan ‘pelanggaran hak asasi manusia yang berat’ adalah pembunuhan
massal (genocide), pembunuhan
sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan (arbitry/extra judicial killing), penyiksaan, penghilangan orang
secara paksa, pembudakan, atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis (systematic discrimination).”
Secara
sepintas, pembunuhan terhadap Marsinah menemukan ruangnya dalam pengertian
pelanggaran HAM berat menurut UU No. 39 Tahun 1999 di atas, meski perlu tahap
penelaahan yang lebih mendalam. Tapi setidaknya, dari gambaran itu, tampak
bahwa adanya political will dari
pemerintah untuk mengakomodasi jenis-jenis kejahatan HAM sebagai pelanggaran
HAM berat, kemudian memasukkannya sebagai kewenangan Pengadilan HAM, akan
membuka celah bagi upaya pengungkapan misteri pembunuhan Marsinah melalui jalur
litigasi, yang tentu akan lebih efektif dalam memberikan keadilan kepada
Marsinah dan keluarganya.
Pilihan
politik hukum pemerintahan di atas, patut pula ditindaklanjuti dengan upaya
lain berupa pengadaan kembali KKR melalui pengadaan UU yang baru. Perluasan
definisi pelanggaran HAM berat, yang kemudian menjadi ruang lingkup kewenagan
KKR, akan menghadirkan jalur alternatif yang sifatnya nonlitigasi dalam upaya
penyelesaian kasus Marsinah. Hal ini penting untuk mengantisipasi buntunya
jalur litigasi yang rentan diintervensi oleh person-person dan antek-antek
kekuasaan masa lalu yang tak ingin nama baiknya hancur, juga ogah dihukum.
Terlebih, KKR, sebagaimana yang pernah ada, memang menitipberatkan
rekonsiliasi, yaitu pemberian restitusi dan rehabilitasi kepada korban dan ahli
warisnya, juga amnesti kepada pelaku
*Unggahan ini telah diperbarui pada tanggal 1 Juni 2018.
[1] Tirto.id, 8 Mei 2018, Pembunuhan
Buruh Marsinah dan Riwayat Kekejian Orde Baru, https://tirto.id/pembunuhan-buruh-marsinah-dan-riwayat-kekejian-aparat-orde-baru-cJSB, diakses pada 30 Mei 2018, pukul 19.45
Wita.
[2]
Ibid.
[3]
Ibid.
[4]
Ibid.
[5]
Ibid.
[6]
Ibid.
[7]
Ibid.
[8]
Merdeka.com, 2 Mei 2016, Ini Kronologi
Hilangnya Marsinah Hingga Ditemukan Tewas, https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-hilangnya-marsinah-hingga-ditemukan-tewas.html, diakses
pada 30 Mei 2018, pukul 20.05 Wita.
[9]
Ibid.
[10]
Ibid.
[11] Wahyudi Djafar (Ed.), Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu:
Mendorong Inisiatif Masyarakat Sipil, Memastikan Negara Bertanggung Jawab, ELSAM
(Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), Jakarta Selatan, hlm. 3.
[12] Ibid., hlm. 21.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar