Sabtu, 15 Maret 2014

Menang dalam Kekalahan



Lama waktu yang dilalui, hingga kami ditetapkan sebagai petarung. Aku tak tahu apa alasannya, hingga penilai menganggap kami sebagai kombinasi tepat. Kulihat, aku bukan ahli dalam retorika. Baru pertama kali aku rela mempertentangkan sesuatu yang kuyakini tidak perlu dipertentangkan. Begitulah sebenarnya aku menilai lomba debat. Sebelumnya kuanggap ini sandiwara yang sia-sia, menguras emosi, dan tak ada perubahan ke arah lebih baik setelahnya. Tak ada gunanya! Kupikir kembali, kusimpulkan, semua pilihan dan peristiwa hidup akan bermanfaan jika kita maknai dalam kebaikan.

Temanku setimku pun amatiran. Juan dan Kina adalah mahasiswa angkatan baru. Karena lebih senior, aku dipilih sebagai ketua tim. Bagi mereka, untuk kontes skala nasional semacam ini pun baru pertama kalinya. Kupikir-pikir lagi, kami amatiran? Tapi bukan modal nekat saja kami berani, kurasa kami saling mengisi kekurangan. Sudah lebih satu setengah bulan persiapan kami hingga menjadi tim yang kurasa handal. Aku menilai kami handal pada posisi masing-masing.

Hari ini, tanggal 11 Maret, kami berangkat menuju arena pertempuran, sebuah universitas swasta di Banten. Aku tak tahu dengan siapa kami akan diadu. Yang pasti, kami akan menghadapi tim-tim professional dari berbagai universitas. Karena jam terbangnya tinggi, mereka katanya sudah ahli dalam mengolah kata dan membentuk mimik mengesannya dalam durasi waktu yang terbatas. Intinya, kudengar banyak dari mereka sudah sering mengikuti perlombaan semacam ini. Dan lagi, kami hanya tim amatiran.

Hampir pukul 20.00 hari ini, aku melintasi jauh jarak dalam dua jam saja. Terus terang, aku pertama kalinya menumpangi “burung besi” yang mampu menerbangkan orang ke mana saja. Pesawat terbang namanya. Kata orang yang kutanyai tentang kesan pertama kalinya menumpang, ketegangan akan membuat selalu was-was hingga sampai ke tujuan. Nyatanya biasa saja. Aku malah lebih menyukai getarannya. Kusuka memacu adrenalinku. Kupinta Kina bergantian kursi denganku. Aku memilih paling pinggir, sandar di jendela, lalu memandangi kemilau kerlap-kerlip lampu di kota dari atas udara. Ini lebih mengasyikkan dibanding sekadar memanjat pohon kelapa di kampung. Singkatnya, aku suka!

Setelah semalam menginap di rumah teman Kina, akhirnya tersambut tanggal 12 Maret. Aku sampailah di kolosium para matador. Kulihat tempat itu, seperti di luar negeri saja. Di sana sini terlihat tulisan bahasa Inggris, bule lalu-lalang, juga arsitektur bangunan seperti di zaman Yunani kuno. Tapi aku ke sini bukan untuk berlibur. Mengabadikan gambar saja aku merasa melenceng tari tujuan. Aku lebih suka merekam kesan-kesannya di ingatanku saja. Aku harus fokus pada teknik memenangkan pertempuran!

Khusus hari ini, sistem pertempuran ditentukan. Kami juga diberitahu dengan siapa kami akan “jor-joran”, dan apa yang menjadi masalahnya. Satu malam, waktunya bagi semua tim untuk menyiapkan amunisi. Akan kukumpulkan amunisi sebanyak-banyaknya. Agar tembakannya tepat sasaran, kami bertiga juga telah menentukan “pos-pos”, tempat kami menyelinap untuk menembak lawan.

Dalam penyusunan strategi menghadapi pertempuran, ternyata seluruh tim ditempatkan para tuan-tuan rumah di sebuah istana. Syukurlah tidak ada nyamuk di sini. Jika tidak, Kina akan merengek-rengek terus karena digigit nyamuk. Istilah tempatnya Hotel, bebintang tiga katanya. Suasananya sangat mengesannya bagiku, tapi tidak untuk Juan dan Kina. Mereka sudah sering melalui perjalanan dan menginap di tempat semacam ini. Inilah tempat yang sering diceritakan dan diidamkan orang-orang. Tempat di mana kita seakan menjadi raja. Tapi tentu untuk semalam saja menjadi raja di tempat ini, jutaan rupiah harus lenyap. Kenyataannya aku bukan raja. Sulit juga untuk menyamar jadi saja. Tapi tuan rumah telah mendandaniku bak seorang raja. Tanpa perlu memikirkan lembar-lembar “Soekarno-Harta”, aku jadi raja malam ini dan esok malam. Setiap sudut ruangan kupandangi. Peralatan-peralatan surgawi juga kepelajari. Kelak jika aku ingin menjadi raja, aku bisa mengurus diriku sendiri.

Sampai detik ini saja, aku bersyukur mendapatkan pengalaman pertama dalam hidupku. Sangat mengesankan!
***
Hari ini tanggal 13 Maret, waktu di mana 18 tim akan saling “membunuh”. Aku ditakdikan bertempur dengan dua tim. Kuharap mereka bukan petarung yang handal. Kutandai paras mereka di hotel semalam, mereka tidak terlalu garang. Bahkan satu tim lawan semuanya ratu. Mimik mereka terlihat culun, tapi manis juga, kata Juan. Satu gertakan saja, mereka sepertinya langsung keok.

Jam setengah sepuluh pagi, kami akhirnya diadu. Lebih dulu, kami melawan tim dari sebuah universitas yang namanya saja baru kemarin kutahu. Karena itu, aku tak gentar menghadapinya. Mungkin mereka yang malahan gentar mendengarkan kok-kokan ayam jantan dari timur. Itu nyata, setelah beradu, kuyakin mereka gentar dan kalah. Entahlah.

Tim kedua juga tidak terlalu menakutkan, malahan lucu. Mereka semuanya perempuan. Tapi sepertinya Juan tetap dalam ketakutannya. Mereka bisa membuat lawan gerogi. Tapi prediksi itu tidak berlaku bagiku. Aku berfikir, kenapa tidak mereka saja yang gerogi? Tapi tetap, bagi Juan, wanita memang punya potesi menaklukkan. Ia bahkan mengakui gerogian saat berpapasan dengan wanita. Setelah beradu, jika menimbang-nimbang untuk pertandingan kedua ini, aku tetap merasa kami unggul.

Prediksiku bukan tanpa bukti, nyatanya saat beradu, anggota kedua tim lawan lari pontang-panting mencari kandangnya. Mereka bak ayam potong. Besarnya  saja secepat kilat, tapi tak berisi. Bisa juga dibilang mereka seperti Ayam Cina, sebentar-bentar flu, lalu suaranya tersendat-sendat. 

Sesaat setelah wasit menghentikan pertempuran, keluarlah aku dan Juan berkok-kok kemenangan. Bahkan Kina berkoteknya lebih nyaring dengan penuh keyakinan, “Aku yakin kita menang! Meski kedengarannya hanya untuk kami bertiga saja, tapi kami yakin ayam kota akan heran melihat kami ayam kampung menjadi pemenang akhirnya.

Aku lupa menyadari, dugaan memang berkelakuan ganda. Begitulah yang terjadi. Jika boleh menilai, aku yakin kami adalah pemenang. Tapi, mungkin kami ayam kampung terlalu semangat menyerang, hingga juri mengasihani lawan yang babak-belur. Memang kami tak tahu tata krama kehidupan di kota, hingga seenaknya saja berekspresi. Juga tak bisa membuat “corak bulu-bulu menarik” agar para juri terhipnotos. Intinya, kami terlalu polos. Akhirnya, tim lawan kedua kami menjadi pemenang.

Terlepas dari sangkaanku, sebaiknya kuredam keegoisanku. Memang benar jika setiap orang tidak akan mempu menilai dirinya secara objektif. Aku pernah merasa tidak akan menang, tapi tuhan menakdirkanku untuk jadi pemenang. Begitupun saat ini, aku merasa menang, tapi tuhan tidak menakdirkanku untuk menang. Adilah jika setiap kemenangan yang dipaksakan akan terwujud? lalu adakah yang rela untuk kalah? Mungkinkah ada kedamaian jika setiap orang hanya ingin menang? Harus kurenungi kembali, “Manusia hanya bisa merencanakan, tuhanlah yang menentukan akhirnya.” 

Aku merasa lebih baik di hari ke dua ini. Satu malam lagi aku masih jadi raja. Tak perlu lagi aku berfikir tentang pertikaian seperti kemarin. Sudah, kutembakkan saja amunisi pada keegoisan diriku, hingga aku mampu mengendalikan diriku. Kusadari sekarang, menaklukkan diri sendiri adalah kemanangan yang paling berharga. Pelajaran dari kekalahan adalah mendidik diri menerima kekalahan, bahkan menyadari kembali peristiwa-peristiwa lalu, di mana kita ditakdirkan tuhan sebagai pemenang. Pantaskah aku masih mengingkari nikmat dan pelajaran hidup yang Tuhan berikan?

Sangat kunanti hari esok, tanggal 15 Maret, waktu di mana aku ikhlas bertepuk tangan untuk kemenangan mereka, juga kemananganku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar