Kamis, 22 Maret 2018

Sejuta Permainan

Seorang anak kecil berhenti di sela-sela gedung pertokoan. Berdiri di tepi jalan, sambil mengedarkan pandangan ke sisi depan. Hingga matanya tertuju pada ragam permainan di balik kaca jendela yang bening. Terpaku penuh hasrat pada alat permainan yang barangkali ia idam-idamkan. Mungkin mainan serupa mobil, pesawat, atau boneka.
 
Seperti tanpa peduli, ia terdiam saja di antara lalu-lalang khalayak. Menjadikan tubuhnya yang kurus, bak pemecah gerombolan manusia yang datang silih berganti. Membiarkan langkah-langkah kaki mendekat, lalu menjauhinya. Seolah-olah ia datang seorang diri di tengah pusat perbelanjaan yang ramai, tanpa seorang penuntun yang harus ia susul segera.  

Siapapun yang sudi memerhatikan sang anak, akan tahu bahwa ia berbeda dengan anak yang lain. Ia seakan keluar dari hutan, dan tersesat di tengah kerumunan. Baju kumalnya, tampak kebesaran untuk tubuhnya yang kurus. Pun, celana pendek yang tak sampai menutupi bekas luka di lututnya, terhias tambalan di sana-sini. Rambutnya kusut. Kulitnya kusam.

Tapi, siapa peduli. Di kota besar, sudah cukup jika memerhatikan anak masing-masing. Tak usah peduli pada anak siapa yang terbuang di tengah kerasnya kehidupan kota. Tak usah tanya ke mana mereka menuju, sebab hidup para anak gelandangan, memang tak perlu dipertanyakan. Semua tahu soalnya, cuma tak ingin peduli. Mungkin juga pada diri sang anak di depan toko.

Namun, aku merasa ada yang berbeda. Kukira, anak misterius itu, bukan sosok yang dididik secara berandal, sampai jadi berandalan sungguhan. Juga tak didik berpangku tangan, sampai jadi pengharap belas kasih. Pada matanya, terpancar kekuatan yang membungkam ketakberdayaannya. Seakan mengharap mainan secara cuma-cuma, tetapi tidak juga mencuri. 

Sebagai seorang perempuan, aku bisa merasakan kemalangan nasibnya. Aku memang tak punya anak, tapi aku punya naluri keibuan. Atau paling tidak, aku juga pernah hidup sebagai seorang anak-anak. Dan aku bisa memastikan, betapa ia berjuang menahan diri untuk tidak memperturut keinginannya sendiri. Satu keinginan yang sangat manusiawi sebagai seorang anak kecil.

Rasa iba yang begitu mendalam, akhirnya menuntunku pada sebuah rencana. Aku bertekad mewujudkan hasratnya. “Pak, aku ingin memberi mainan untuk anak itu,” pintaku, sambil menunjuk pada sang anak yang kumaksud. “Boleh kan?”

Suamiku pun menoleh pada sang anak yang berdiri kaku di luar toko mainan kami, hingga tampak raut keengganan di wajahnya. “Bukan aku tak mau, Bu. Kasihan sih, kasihan. Tapi anak jalanan semacam itu, tak baik dikasih hati. Sekali dikasih, selanjutnya minta lagi. Belum lagi kalau teman-temannya datang. Kita bisa bangkrut.”

Aku membantah, “Tapi aku yakin, anak itu berbeda, Pak. Dia bukan anak-anak berandal seperti yang kita bayangkan,” kataku, tegas, lalu meminta dengan nada memelas, “Aku mohon, Pak, untuk sekali ini saja. Bapak tahu sendiri, aku telah divonis tak akan bisa mengandung. Ya, paling tidak, aku bisa mencurahkan kasih sayang pada anak-anak, meski bukan anak kita.”

Walau tidak sepenuhnya menerima, ia akhirnya pasrah. “Terserah Ibu saja kalau begitu.”

Tanpa menunggu lama, aku pun melangkah ke luar toko. Menghampir dan menjemputnya untuk masuk ke dalam toko, memilih-milih permainan yang memikat hatinya.

“Mau mainan, Nak?” tanyaku, dengan sikap seramah mungkin.

Ia tampak heran dan bingung, kemudian mengangguk pelan.

Aku lalu menggenggam tangannya. “Masuklah. Pilih saja mainan yang kau sukai.”

Didorong hasrat yang menggebu, ia pun melangkahkan kakinya perlahan, sembari melemparkan pandangan para ragam permainan yang terpajang. Menerka-nerka warna, atau mungkin bentuknya. Hingga, langkahnya pun  terhenti di depan sebuah mobil-mobilan beremot kontrol.

“Mau yang itu?” tanyaku.

Ia pun mengangguk segan, kemudian memandangku dengan mata berkaca-kaca.

Aku pun berjongkok, lalu mengusap-usap rambutnya. “Namamu siapa?”

“Rinto,” jawabnya.

“Nah, Rinto, bawa pulang saja mainan ini,” tuturku, sambil menyodorkan mainan yang ia dambakan. “Kau tak usah malu-malu.”

Senyuman menggemaskan khas anak-anak pun, merekah di wajahnya. “Terima kasih banyak, Bu.”

Tiba-tiba, aku tergugah meminta dirinya. Hatiku seakan-akan menginginkan ia untuk tinggal lebih lama. Menjadikan ia anak bagiku dan suamiku. Menjadikannya sosok kesayangan. Dan, tak akan suramlah masa kecilnya jika mau. Ia boleh memilih mainan apapun yang ia sukai, tiap waktu.

“Nak Rinto tinggalnya di mana?” selidikku lagi.

Dia tampak enggan menjawab.

Aku pun mencoba membujuknya. “Kalau aku tahu, suatu waktu, aku bisa berkunjung dan membawakanmu sejumlah mainan.”

Tak lama, ia membalas, “Aku tinggal di sana, Bu,” katanya, sambil menunjuk ke arah sebelah kiri yang entah menyasar ke mana.

Kuterima saja kalau ia belum mampu mengeja alamat rumah secara baik. “Memang, tinggalnya sama siapa? Tadi ke sini sama siapa?”

Belum juga si anak sempat menjawab, terdengar langkah berkelepak ke arah kami, disusul suara bernada tinggi, “Rinto, bikin apa kamu di situ? Ibu kan sudah bilang, ikuti langkah ibu ke mana pun pergi, dan jangan keluyuran ke mana-mana. Kamu bisa hilang, Nak!” 

Selang beberapa detik, aku pun bertatapan dengan seorang wanita dewasa. Dan aku bisa membaca wajahnya. Aku seperti pernah melihat ia sebelumnya. Wanita yang serupa sosok bayangan di benakku, meski dengan penampilan yang jauh berbeda. Tampak memprihatinkan.

“Kau?” terkanya. “Kau mau apakan anakku?”

Dia mengenalku. Kami saling mengenal. Tapi aku tak kuasa berkata-kata.

“Sudah cukup kau rebut suamiku! Jangan lagi anakku! Aku yang melahirkannya! Dia keluar dari rahimku, bukan dari rahimmu yang mandul!” gertaknya, penuh emosi. “Bekasih-kasihlah saja dengan suamiku yang telah kau curi, sampai kau mengandung anak jika beruntung!”

Hinaan semacam itu, tak cukup juga menggugah suaraku untuk membalas.

Seketika, suamiku datang menghampiri. Kulihat raut kekagetan di wajahnya, kala menyaksikan kehadiran seorang wanita yang tak mungkin ia lupakan.

Mereka saling menatap beberapa detik. Tanpa senyum, tanpa kata.

Hingga sumpah serapah wanita itu, kembali bergema. “Bekasih-kasihlah kalian, seperti yang kalian lakukan di belakangku dahulu! Lanjutkan! Lakukan saja! Aku tak akan mengganggu!”

Lagi-lagi, mulutku tersekap untuk membalas. Suamiku pun demikian. 

Dan tanpa balasan sepatah kata pun dari kami, ia pergi, menyeret langkah gontai sang anak yang seketika menangis, meninggalkan sebuah mainan yang telah kuberikan padanya secara cuma-cuma.

Posting Komentar