Selasa, 23 Januari 2018

Rasa Cokelat

Ada rencana besar yang hendak kuwujudkan sesegera mungkin. Satu rencana yang kutunda-tunda sejak lama. Tentang rasa, yang selama ini kuabaikan demi sekelumit persoalan yang kuanggap lebih penting. Dan hari ini, atas sepi yang terus mendera, tandas sudah kesabaranku. Aku bertekad meluruhkan isi hati pada seorang wanita, agar aku tak lagi dirundung pilu atas kesendirian.
 
Sejujurnya, bukanlah kesendirian yang mendera perasaanku. Aku bisa menikmati kehidupan seorang diri, sebab aku yakin, relasi atas nama cinta, hanyalah kedok untuk saling menjajah. Tapi akhirnya, aku tak bisa menyangkal perlunya menggandeng seorang perempuan, setelah harga diriku sebagai seorang lelaki, diinjak-injak, dan aku dicap seumpama barang bermutu rendah yang tak laku-laku.

Dan dari beberapa perempuan yang kukenal, kupilihlah satu di antaranya sebagai sasaran. Dia tampak cantik dan menarik. Tingkahnya lugu dan polos. Tapi bukan karena itu aku menargetnya. Apalagi rupa seperti dia, jelas, masih terkalahkan oleh banyak perempuan lain. Ketetapanku itu, memang tak bersandar pada apa-apa, selain untuk memegang jaminan bahwa aku akan mengecap bagaimana rasanya memiliki kekasih.

Setelah kutimbang-timbang, aku memang yakin bahwa perempuan yang kusasar, tak akan menolak perasaanku. Dia bukanlah seorang wanita yang lahir dan besar di kota, sampai pola pikir kekotaan membuatnya perhitungan. Yang kutahu, dia hanyalah gadis desa, yang kini menjelma serupa gadis kota yang lain. Dan karena asal-usulnya itu, kutebak, ia masih menikmati kesederhaaan, seperti juga aku.

Dengan perasaan yang tak menggebu, kuajaklah ia berjalan-jalan menelusuri kota. Menuntunnya ke sejumlah tempat yang kuanggap menarik di mata perempuan secara umum. Entah untuk melihat kerlap-kerlip lampu, lalu lalang kendaraan, atau manusia yang bergumul di sejumlah tempat. Dan kuharapkan, ia tak meminta lebih dari sekadar melihat, sebab aku tak punya bekal yang cukup untuk nafsu yang tak terkendali.

Jelas saja, salah satu yang paling kutakutkan dalam perhubungan kekasih adalah masalah ketidakpengertian pada kondisi masing-masing. Atas nama hubungan, maka pengorbanan diharuskan tanpa pamrih. Bahwa seorang lelaki, berkewajiban untuk memenuhi permintaan sang kekasih yang neko-neko. Tak elok jika menawar-nawar, protes, apalagi menolak. Sampai akhirnya, uang jajan yang terbatas sebagai mahasiswa asal kampung, akan terkuras habis atas nama cinta.

Tapi sekali lagi, momok semacam itu, tak aku khawatirkan. Semua telah kuperhitungkan dengan matang. Atas wataknya yang mencintai kesederhanaan, pastilah, ia akan menyambut perasaanku dengan senang hati, tanpa syarat. Lalu sepanjang hubungan kami, nanti, ia tak akan tetap bersetia pada kesederhaan, sebagaimana aku. Yang akan ia dibutuhkankan hanyalah kenyamanan yang pas, yang tak berlebihan, dan aku bisa memberi dengan apa adanya.

Atas kepastian yang telah kupikirkan, aku jadi semakin tak sabar. Aku tak tahan lagi untuk segera memastikan bahwa esok hari, aku akan menggandeng seorang wanita di depan orang-orang. Tak sabar menyaksikan raut keheranan mereka-mereka yang menganggapku tak berharga di hari kemarin. Dan untuk itu, sesegara mungkin, aku hendak menuntunnya pada sebuah kedai sederhana, di tepi kota, sebagai latar tempat yang kupikir, pas untuk prosesi sakral.

Kulihatlah, ia telah puas memandangi hiasan-hiasan kota. Ada kebosanan yang terpancar di wajahnya, setelah sedari tadi, hanya melihat-lihat keramaian di sana-sini. Dan saat aku nyaris menyatakan maksudku untuk segera beranjak, sial, seketika juga, ia menyampaikan keinginannya untuk bersantap dan mengobrol di sebuah kedai modern, di dalam sebuah mall yang begitu megah.

Dan akhirnya, duduklah kami di satu meja yang bersih-mengkilap. Berhadapan dengan perasaan yang berbeda. Ada kegembiraan di wajahnya, sedang aku merasa kelimpungan sebab harus menanggung tagihan setelahnya. Hingga ketakutanku benar-benar menjadi kala ia memesan sejumlah makanan, juga dua porsi es krim dengan nama asing, yang akhirnya kutahu hanyalah semangkuk es rasa coklat. Satu untukku, dan satu untuknya.

Setelah selesai dengan urusan es krim yang terpaksa harus kuikhlaskan, kami pun beranjak pergi. Tapi sial bagiku. Belum juga keluar dari pusat perbelanjaan, ia menyeretku pada sebuah gerai yang menjajakan kue segala macam rasa. Seketika, ia lalu mendendangkan keinginannya untuk membeli beberapa. Dan akhirnya, lagi, aku harus merelakan uangku demi kue dengan nama asing, yang belakangan kutahu hanyalah pisang bertabur irisan cokelat.

Dan setelah urusan pembayaran yang kurasa berat telah selesai, bergegaslah aku melangkah, sembari berharap ia turut. Aku harap, tak ada lagi rupa-rupa yang akan menyita perhatiannya, sampai aku harus menyisihkan uang bekal hidupku yang mengkhawatirkan. Tapi lagi-lagi, sial. Aku harus berhenti beberapa meter sebelum gerbang, setelah ia meminta dibelikan es krim impor rasa cokelat. Dan lagi, aku harus mengalah.

Dan selanjutnya, legalah aku. Bersama kegelisahan yang tak tertahankan, aku berhasil menuntunnya keluar, menjauh dari ruang pemborosan, hingga kupastikan, tak ada lagi soal-soal cokelat dan segala macamnya. Yang tersisa sebelum kami berpisah menuju ruang perenungan masing-masing, hanyalah rencanaku untuk mengajaknya bersantap di warung sederhana, di mana aku akan menuturkan kata-kata membuai. 

Kini, tak ada lagi halangan untukku menuntaskan rencana itu. Tapi di balik kemudi sepeda motor, kuhitung-hitung lagi, ternyata dana untuk awalan prosesi malam ini, telah melebihi dari yang telah kuanggarkan. Akhirnya, setelah kupikir matang-matang, kukukuhkan tekadku untuk membatalkan rencana. Kupikir, untuknya, sudah cukup aku berkorban banyak demi sesuatu yang belum seharusnya, walaupun besok-besok, aku harus rela menerima olok-olokan lagi.

Akhirnya, kuingat lagi sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam telepon genggamku, kemarin. Pengirimnya adalah ibuku sendiri. Ia mengabarkan kalau ayahku butuh bantuan untuk mengurus kebun kakao yang belakangan tak banyak menghasilkan. Dan karena itu, di libur semester ini, ia berharap agar aku bisa pulang, membantu urusan kebun barang beberapa hari. Merawat dan memetik buah-buah kakao yang kini jatuh harga, yang di waktu selanjutnya, akan menjadi  pemahal santapan di kota.

“Bukankah kau mengajakku berjalan-jalan karena kau ingin mengatakan sesuatu yang penting? Perasaan, kau belum mengatakan satu hal penting malam ini,” katanya, polos, sedikit manja.

Tanpa pikir panjang, aku pun membalas, “Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang bisa membuatmu senang malam ini.”

Dari sadel sisi belakangku, ia terdengar tertawa gembira. “Jadi, kapan lagi kau mengajakku jalan-jalan?”

Mulutku tersekat seketika, seperti melihat sesosok makhluk halus. Dan demi diriku sendiri, aku tak hendak menjanjikan apa-apa lagi. “Entahlah,” kataku, tanpa berhasrat memancing obrolan selanjutnya, selain berbicara dengan hati nuraniku sendiri, di tengah kebisingan kota. 
Posting Komentar