Senin, 15 Januari 2018

Pencinta Kata

Entah beberapa kali kita berpapasan. Aku tak tahu, sebab aku tak menghitung jumahnya. Yang pasti, sering kali. Tapi semua berlangsung begitu cepat, dan berlalu begitu saja. Tak ada komunikasi berarti, yang membuat rangkaian perjumpaan itu, menjadi penting untuk kuarsipkan. Paling, kau hanya memandangku, sembari melayangkan senyuman terpaksa. Dan atas sikapmu yang dingin, aku sadar diri, tak akan menjadi pemeran utama dalam imajinasimu.
 
Akhirnya, banyak hari yang aku habiskan demi menemukan momen yang tepat bersamamu. Beberapa kali aku berkunjung ke sebuah toko buku favoritmu, sambil berharap-harap cemas, bahwa kau akan muncul tiba-tiba. Datang mencari buku yang akan menjadi teman sepimu, atau sekadar berjalan-jalan. Apalagi kulihat, beberapa hari sudah, blog pribadimu tak lagi memuat cerita-cerita baru. Kupastikan, sebagaimana penulis, kau sedang kehabisan ide dan butuh bahan inspirasi, semacam buku. 

Dan terjadi juga. Dari sekian banyak kemungkinan, akhirnya, kita bertemu di sebuah toko buku yang kumaksud. Kau muncul sembari melayangkan senyuman singkat padaku. Jelas, aku merasa gugup. Apalagi kala jarak kita semakin pendek. Bersisian berdua, di antara jajaran buku yang bisu. Entah bagaimana juga bentuk perasaanmu. Yang kulihat, kau sibuk sendiri, mencari buku yang kau tuju. Kau tampak enggan mengobrol denganku, atau setidaknya bersapaan.

Jelas saja, aku tak ingin melewatkan kesempatan emas itu. Aku ingin kita berkomunikasi, lebih dari sekadar berbagi tanda. Dan kuharap, perlahan, kelak, kita ditakdirkan menjalani sebuah kebersamaan, hingga kau tergugah untuk menjadikanku sebagai tokoh utama dalam cerita-ceritamu.

“Hai, Ringgo,” kataku, segan, sambil mengangkat tangan, sebahu. Kurasa, sebagai teman sekampus, meskipun kita tak pernah mengobrol, kau tak akan heran namamu kusebut tanpa perlu berkenalan lebih dahulu.

Kau menoleh padaku, tersenyum singkat, kemudian berpaling lagi dariku.

Aku pun jadi kikuk. Ada jeda tiga detik untuk aku meredakan kecanggungan, hingga ketenanganku pulih untuk segera melontarkan kata. “Cari buku apa?”

Kembali, kau menoleh padaku dengan tatapan yang tajam. “Entahlah. Aku tak punya target. Aku hanya melihat-lihat. Kalau ada yang menarik, ya aku beli,” katamu, kemudian lekas berpaling pada deretan buku yang terpajang. “Ada kalanya, kita tak perlu menetapkan sasaran, biar keadaan yang menuntun kita pada pilihan.”

Seketika, aku terkesan pada tutur katamu. Terdengar indah. Seakan-akan kau sedang membaca kalimat-kalimat yang kau tuliskan di blogmu. “Ya, kau benar. Aku ke sini, juga tanpa tahu akan beli buku apa.” Aku lalu berdehan. Memberi aba-aba sebelum menuturkan sebuah permintaan. “Kamu ada saran buku untuk pembaca fiksi pemula, seperti aku?”

Segera saja kau melangkah ke sisi kiri. Mengambil sebuah novel terbitan lama. “Karena kau mengaku diri pemula, novel ini, bisa jadi cocok untukmu. Ceritanya menarik. Tata bahasannya juga rapi, tanpa majas-majas yang berlebihan.”

Aku lalu menyambut sodoran buku pilihanmu. “Terima kasih,” kataku.

Sambil tersenyum, kau mengangguk. Mengucap kata berpisahan, kemudian beranjak pergi, sembari menenteng sebuah novel luncuran terbaru.

Dan kala hadirmu belum cukup membalas penantianku yang lama, kau telah menghilang. Tapi aku sadar, memang tak ada alasan untukmu berlama-lama denganku. Kita tak punya relasi dalam soal apa pun, sehingga kau boleh mengabaikanku setiap saat. Namun anggapanku bahwa kau adalah seorang lelaki yang cuek dan tak peduli, ternyata harus kuralat sesegera mungkin. Sungguh, aku tak benar-benar merasa diabaikan, setelah tahu, kau pergi dengan terlebih dahulu membayar tagihan untuk novel yang kau pilihkan sendiri untukku. 

Pertemuan singkat kita di toko buku, menjadi awal dari sebuah kisah penuh misteri. Kau memang tak seramah lelaki lain, tapi kukira, bukan berarti tak perhatian. Rasa-rasanya, kau hanya ingin menjajaki kedekatan denganku secara perlahan. Layaknya sebuah cerita fiksi, perlu juga mengulur-ulur adegan, untuk disambung di lain waktu. Kau sengaja pergi kala aku masih memendam tanya, agar aku mencarimu demi sebuah jawab. Kau bersikap cuek, setelah yakin bahwa benih-benih rasa yang kau tabur dengan pesona, akan tumbuh dalam hatiku. Kau meninggalkanku dengan sebuah buku, yang jelas akan membuatku terus terkenang tentang kita.

Benar saja, hari demi hari, kita menjadi semakin akrab karena sebuah buku yang kau hadiahkan padaku secara tidak langsung. Awalnya, aku menghampirimu, lalu pura-pura memaksa agar kau sudi menerima uang pengganti dariku. Tapi, kau berkeras menolak. Aku pun mengalah, setelah menegaskan padamu, bahwa aku akan tetap menganggap buku itu adalah milikmu. Aku berjanji akan mengembalikannya suatu saat nanti.

Dan status kepemilikan buku yang menggantung, menjadi kedok untuk kita lebih dekat. Bukan hanya aku, tetapi kubaca jelas, kau juga suka memanfaatkan benda itu sebagai alasan untuk berkomunikasi denganku. Kau rajin mengapeli perkembangan bacaanku. Kau menuntunku supaya membaca sampai tuntas, agar kita bisa membedahnya sama-sama. Kau berucap tegas, tak akan mau menerima kembali novel itu sebagai milikmu, sebelum aku mengkhatamkannya, dan mengerti sekilas soal sastra. 

Seiring waktu, hubungan kita jadi semakin dekat. Tak ada kepura-puraan lagi, sampai keseganan pun sirna. Kita berani jujur satu sama lain, untuk semua perihal tentang kita. Tak ada halangan untukku meminta kala membutuhkanmu, sebagaimana kau membutuhkanku. Ketulusanmu, sebagaimana ketulusanku. Kita, hanya kita. Hingga, sampailah pada saat-saat yang membahagiakan, pada puncak cerita, kala kau mengutarakan perasaan padaku, dan aku menerimanya dengan senang hati.

Pada hari-hari yang panjang, kita pun sering jalan beriringan. Kau tak lagi mengunjungi toko buku seorang diri, dan aku pun tak harus menanti kehadiranmu di ruang dan waktu yang tak menentu. Kita bersama, penuh kerelaan, sebab kau dan aku, telah mampu meleburkan ego pribadi ke dalam ego kita. Aku dan kau, di satu, kita. Hingga, kita pun tak pernah mempermasalahkan siapa gerangan pemilik novel yang telah mempertautkan kita dalam hubungan yang tak biasa.

Dan sebagai pujaan hati dari seorang penulis, harapanku yang lain pun terwujud. Kutilik beberapa cerita di blog pribadimu, dan aku bisa memastikan, bahwa kau menuliskan tentang kita. Kau menulis tentang pertemuan kita di toko buku, tentang kita yang berdiskusi soal karya-karya sastra, hingga tentang kita dalam momen penghabis waktu yang tak penting. Kau menuliskan semua itu dengan penuh perasaan, hingga narasimu kurasa lebih indah dari kisah nyata. 

Tapi akhirnya, yang kuduga, terjadi juga. Sebagaimana kegilaan penulis, kau larut dalam duniamu sendiri. Kehadiranku sebagai tokoh utama dalam ceritamu, malah merentangkan jarak di antara kita. Kau jadi sibuk bermain dalam imajinasimu tentang kita, sampai lupa dengan hubungan kita di dunia nyata. Perhatianmu tercurah pada kata-kata yang kau tuliskan, hingga kau tak berselera lagi bertutur sapa denganku. Tanpa rasa bersalah, kau bahkan abai mempertanyakan kabarku setiap waktu, seperti biasa. Hingga aku pun pasrah menerima kenyataan, bahwa aku padamu, hanyalah ilusi yang hidup dalam kata-kata.

“Aku merasa, hubungan kita cukup sampai di sini,” kataku, saat bertemu denganmu di sebuah kafe. Aku bertutur dengan sedikit rasa takut, bilamana kau berat hati menerima keputusanku. “Tapi aku tetap berharap, kita masih berteman baik, seperti seharusnya.”

Kau mengangguk-angguk. Seperti tanpa beban. “Ya, kalau itu keputusan yang kau inginkan, aku tak masalah.”

Sungguh, aku heran melihat sikapmu. Begitu tak acuh. Seakan-akan tak pernah ada rasa cinta dalam hatimu, untukku. Sampai kuduga, kau tak lagi peduli padaku sedikit pun. Kau telah menyimpan tentangku dalam dunia imaji. Kau mencintai kehidupan fiksi itu dan seisinya, sebagaimana seorang penulis sejati yang tak pernah tulus mencintai apa pun, selain kata-kata tertulis dan bayangan imajinasinya. Aku sadar tentang itu, bahkan sebelum kita bertemu di toko buku.

“Ambillah kambali novel milikmu ini,” kataku, sembari menyodorkan novel yang pernah menghubungkan kita. “Aku memberikannya padamu, bukan karena kita berpisah, tetapi karena aku telah memenuhi tantanganmu. Aku telah memahami arti dunia fiksi, dan orang-orang yang bergelut dengan itu.”

Kau tersenyum. “Apa kesimpulanmu?”

“Penulis fiksi, hanya seorang pencinta kata-kata. Tak lebih dari itu,” tandasku.

Kau mengangguk. Tampak setuju.

Aku tersenyum singkat, pamit, lalu menghilang dari pandanganmu.

Keesokan harinya, kulihatlah, kau menuliskan cerita terakhir tentang kita di blog pribadimu. Kau menuliskan, betapa tragis kisah seseorang yang jatuh cinta pada seorang penulis. Betapa tragis kisah seseorang yang tak pernah dicintai kekasihnya dengan tulus, sebab sang kekasih lebih mencintai kata-kata yang ia tuliskan.

Tanpa mengharap apa-apa lagi, aku relakan kisah kita untuk kau tuliskan, meski dengan sejumlah tafsir yang salah tentang diriku. Dan bagiku, apa yang telah kita jalani, adalah bahan cerita yang lengkap dan menarik untuk ceritaku selanjutnya. Cerita tentang penulis kisah cinta, yang tak pernah merasakan cinta sesungguhnya. Dan atas rencana besar yang telah kususun sebelumnya, aku yakin bisa mengalahkan kelihaianmu dalam soal menggubah cerita tentang kisah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar