Senin, 18 Desember 2017

Melepas Rindu

Aku telah menggantungkan perasaanmu tanpa khawatir. Kuyakin, hatimu telah terpaut padaku, dan kau tak bisa berpaling. Kau serupa pendulum yang terikat. Sejauh apa pun kau terhempas, kau tetap berada pada medan yang sama. Aku bebas kembali kapan pun, dan masih akan menjumpaimu dengan perasaan yang sama. Bahkan perasaanmu itu, bisa jadi semakin menderu, setelah dipacu rindu yang berkepanjangan.
 
Bukan tanpa alasan hingga aku yakin perasaanmu tak akan berpaling. Aku telah menyusun jalan cerita tentang kita. Dan semua, kupastikan, masih berada dalam kendaliku. Kau pasti tak menyadari, kalau keputusanku meninggalkanmu untuk waktu yang lama, sebab aku telah memberimu bekal yang cukup untuk bertahan. Aku telah menancapkan kenangan tentang kita di memorimu, dan itu akan mengikatmu agar tak pergi ke mana-mana. 

Bisa kupastikan, kau begitu menikmati setiap detik kebersamaan kita dahulu. Menikmati saat kita berjalan di taman, toko buku, atau segala ruang yang lain. Menikmati segala pemberianku, termasuk kata-kata yang aku ucapkan untukmu. Kau pasti masih mengarsipkan di memorimu, sebuah kalimat yang kuucapkan dahulu, sebelum pergi tanpa kabar: Jangan bosan merindu, sebab rindulah yang mengikat kita saat jauh.

Belum lagi tentang secarik surat yang kau sisipkan dalam tasku tempo dulu. Sebuah surat dengan tulisan yang indah, yang kuyakini diukir oleh tangan lembut milikmu. Seuntai pesan yang meyakinkanku, bahwa selama apa pun aku pergi, kau tetap menunggu. Aku masih mengingat beberapa bait kalimatnya di luar kepala: Jika itu demi kita, berlama-lamalah di sana, biar aku merindu. Aku ingin setelah kau pulang, dan kita hidup bersama, rindu itu tak habis-habis, sampai akhir hayatku. Aku ingin ingin rindu itu selalu ada untuk mengikatku padamu, selamanya.
 
Atas semua alasan yang ada, aku tetap dengan kesimpulan bahwa kita tak saling meninggalkan di titik yang terpisah. Kita hanya berjarak untuk sementara waktu, sampai aku pulang menuntaskan rindu dan mengikat cinta kita. Aku pergi di kota beserang untukmu, demi mendewasakan dan memantaskan diriku, hingga aku siap menjadi pendamping hidupmu. Aku pergi demi pendidikan dan jaminan hidup, hingga aku pulang sebagai kepala keluarga untukmu.

Dan hari ini, adalah awal di mana aku yakin bahwa kisah kita yang menggantung, akan berlanjut dalam dunia nyata. Hari ini, adalah momen kita mengulas kembali kenangan yang lalu, dengan beberapa sahabat yang lain, yang pernah tergabung sebagai pengurus organisasi kesenian di kampus. Semua hadir untuk memperingati hari jadi organisasi, sembari bereuni ria dan membahas kisah masing-masing. Dan aku sendiri, tak akan bisa berpaling dari kisah kita.

Hingga seiring waktu yang terus berdetak, satu per satu mantan pengurus organisasi, tiba dan menyesaki ruangan. Beberapa di antaranya menyapaku atau memberi salam. Tapi tak ada yang menetap dan bersedia mengobrol panjang lebar denganku. Hanya ada Reni, seseorang yang sangat dekat dengan aku dan kau dahulu, yang bersedia menemaniku di antara orang-orang yang berlalu-lalang.

“Sibuk apa sekarang?” tanya Reni, dengan kesan malu-malu, seakan kami baru berkenalan kemarin sore. Tapi kuduga itu wajar, sebab perpisahan yang lama, pasti melahirkan keseganan. 

“Tak ada kesibukan berarti selain urusan pekerjaan. Itu juga tak terlalu menyibukkan,” jawabku, tanpa balas bertanya. Kehendakku bertemu denganmu, membuatku jadi tak antusias bertele-tele dengan yang lain.

“Kalau begitu, sudah waktunya kau menikah. Kau akan punya kesibukan yang berarti setelah menikah,” katanya, sambil tersenyum dan memandang mataku sekilas. “Apalagi kau sudah mapan sekarang. Bukankah sebaiknya kau menyegerakannya?”

Aku mengangguk. “Ya, keinginan itu ada. Tapi aku merencanakannya tahun depan. Butuh waktu lama untuk mengenal baik seseorang calon pendamping hidup.”

Lagi-lagi, dia tersenyum tersipu, kemudian mengutarakan tanya yang tak sampai kucerna secara utuh. Itu karena aku tak menghiraukannya lagi, setelah menyaksikanmu masuk ke dalam ruang acara dengan tampilan yang sangat menakjubkan. 

Detik demi detik, jantungku berdebar semakin kencang. Ada ketidaksabaran di hatiku. Ada banyak kisah yang ingin aku bagi denganmu, dan aku harus menahan diri. Ada banyak cita-cita yang ingin kutegaskan padamu, dan aku harus menunggu waktu yang tepat.

Hingga akhirnya, kau berdiri tepat di depanku. Kau menyapaku lebih dulu, sebagai salah satu teman terdekatmu, di antara banyak teman-teman kita yang lain.

“Bagaimana kabarmu? Apa kalian?” tanyamu seketika, sambil melirik kami berdua, seakan tak sabar untuk mengajukan pertanyaan satu per satu padaku.

Aku dan Reni saling berpandangan.

Reni menggeleng sembari mengangguk. Tampak bingung. “Ya, kami baru saja tiba,” katanya.

Kuduga, kau cemburu melihat aku dan Reni duduk berdua.

“Oh, begitu,” katamu, sambil tersenyum. Terlihat sangat menawan. “Oh, kenalkan, ini suamiku.”

Seketika, aku monoleh pada seorang lelaki yang berdiri di sampingmu. Dan perlahan, aliran darahku terasa melambat. Jiwaku seakan melayang beberapa saat. 

Beberapa detik kemudian, etika kesopanan menyadarkanku untuk segera menyambut uluran tangan seorang lelaki yang kau sebut suamimu.

Lelaki itu pun menjabat tanganku, erat, sambil mengeja namanya yang kulupa sejak ia mengucapkannya.

“Aku permisi ke sebelah sana,” katamu, seperti hendak menjauh. “Aku tak ingin mengganggu kalian.”

Dan akhirnya, aku hanya melihatmu, bersama dia, berjalan beriringan, bergandengan tangan, menjauh dariku. Ada rasa tak terima dalam hati, ketika rindu yang kutumpuk, tak sempat kuluruhkan padamu.

Waktu-waktu pun berjalan hampa. Aku tak menikmati lagi sesi acara setelah kau pergi dengan penuh kemesraan dengan seorang lelaki. Bahkan Reni yang dengan betah mengobrol denganku, harus menerima kenyataan, bahwa aku tak ingin basa-basi lagi malam ini. 

Aku jadi dingin. Reni merasa terabaikan. Hingga, ia pun pergi dari sampingku, sebelum acara usai.

Setengah jam selanjutnya, rangkaian acara pun, berakhir sudah. Aku melewati semuanya, tanpa merasakan sebuah perayaan yang patut dinikmati.

Dengan kekalutan yang mendalam, aku pun memulai langkah pulang. Berusaha beranjak dari ruang yang mulai ditinggalkan orang, satu per satu. 

Tiba-tiba, langkahku tertahan di depan sebuah stereofoam yang terpajang di dinding. Di sana, tertempel lembar-lembaran kertas berisi harapan. Dan mataku, langsung tertuju pada selembar kertas. Di sana tertulis: Aku Ingin Menikah Tahun Depan – Reni.

Segera kutilik kembali secarik kertas yang kukantongi sedari tadi. Sebuah kenang-kenangan masa lalu yang rencananya kutunjukkan padamu, sebagai bukti bahwa aku setia menjaga perasaanku, sampai saat ini. Dan kulihat, sekilas tapi pasti, bentuk tulisan di kertas itu, serupa dengan bentuk tulisan tangan Reni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar