Senin, 30 Oktober 2017

Pencuri Hati

Awalnya, tak ada yang ganjil dari kepribadian Sutomo. Seperti lazimnya kepala keluarga, ia tetap bertanggung jawab demi keutuhan rumah tangganya. Tetap gigih mencari penghasilan untuk kebutuhan diri sendiri dan istrinya, Sumia. Bahkan tak hanya mengandalkan pendapatan sebagai pegawai negeri, ia juga menyambi sebagai penambak ikan lele. 
 
Harta benda yang berkecukupan, tak membuat Sutomo dan istrinya tampil bermewah-mewahan. Buktinya, ia hanya menggunakan sepeda motor jadul untuk menjalankan tugasnya sebagai sekretaris desa. Istrinya pun tak kalah sederhana. Jangankan menggunakan perhiasan di sana-sini, merias wajah dengan bedak seadanya saja, tak pernah ia lakoni.

Prinsip hidup Sutomo yang penuh kesederhaaan, sebenarnya bukanlah sebab Sumia rela tampil polos. Sebagai seorang wanita, besar juga keinginannya untuk berhias dan mengenakan anting, cincin, gelang, kalung, dan pernak-pernik lainnya. Apalagi, wajar ia berhasrat, sebab suaminya memang orang yang mampu. Namun kesederhaaan itu, terpaksa saja ia jalani, atas titah sang suami.

Setiap bulan, Sumia memang mendapat uang belanja yang cukup. Tapi penyerahan uang itu, selalu disertai wanti-wanti sang suami, bahwa ia tak boleh menggunakannya untuk membeli bahan tata rias, apalagi perhiasan. Jika ia membangkang, maka ia kemungkinan menuai gombalan kalau ia cantik tanpa perlu berhias, atau malah mendapat murka yang tak terkira. 

Larangan suaminya untuk berdandan dan berhias, tak pernah dipermasalahkan Sumia. Ia memang menyadari posisinya sebagai istri yang senantiasa harus patuh dan taat pada perintah suami. Kemauan dan kebahagiaan sang suami adalah tujuan utama baginya. Ia tak pernah menghiraukan olokan para tetangga atas penampilannya yang tawar.

Kepatuhan Sumia, sebenarnya, juga demi menjaga emosi sang suami yang kurang stabil. Apalagi ketidakstabilan itu paling sering terpancing karena soal penampilannya. Emosi yang meluap akibat kecembuaruan yang berlebihan. Emosi akibat prasangka yang tidak-tidak. Keadaan itu  pun, telah dipahami Sumia di awal pernikahan.

Jelas saja Sumia masih ingat kejadian dua tahun lalu. Kala itu, ia hendak berkunjung ke kediaman keluarga Kardi untuk membantu pengurusan mayat ibu sang bujang desa itu. Dengan riasan yang sesederhana mungkin, ia pun hendak berangkat. Namun Sutomo yang melihat gelagatnya menjadi geram, hingga melayangkan tamparan di pipinya. Sang suami menuding bahwa ia hendak bermain hati dengan Kardi. Sebuah alasan yang tak masuk akal sebab kala itu, Kardi telah mendekam di penjara atas kasus kepemilikan narkoba. Sebuah perihal yang harusnya diketahui juga oleh Sutomo, sebab ia bersama Kardi saat peristiwa penggerebekan terjadi.

Dan belakangan ini, emosi Sutomo jadi semakin liar dan sulit ditebak. Sebuah keadaan yang membuat pekerjaannya terbengkalai. Ia jadi suka bediam diri untuk waktu yang lama. Ketika disapa sang istri untuk hal-hal yang lazim, ia malah membalas dengan luapan amarah yang sulit diredakan. Karena itu, Sumia pun memilih untuk mendimkan keadaan. Hingga, jadilah suami-istri itu serupa patung yang tak bertegur sapa sepanjang waktu.

Puncak dari ketidakstabilan Sutomo, akhirnya pecah hari ini. Istrinya yang hendak berbelanja ke pasar, dicurigainya macam-macam.

“Mau ke mana kamu?” tanya Sutomo. Nada suaranya menggertak.

Sumia pun meringkuk takut. “Mau ke pasar, Pak. Keperluan dapur habis.”

Sutomo bangkit dari posisi duduknya. Ia menggeleng-geleng sambil berdecak-decak. Seakan menemukan kebohongan besar dari perkataan istrinya. “Jadi itu alasanmu, iya? Kau pura-pura pergi ke pasar lalu mengunjungi mantan kekasihmu yang hari ini keluar dari penjara. Begitu kan rencanamu?”

“Maksud Bapak?” tanya balik Sumia. Ia jadi semakin takut suaminya bertindak kasar.

“Kau jangan pura-pura tidak tahu kalau Kardi dibebaskan dari penjara hari ini. Dasar pembohong besar!” solot Sutomo. “Kau kira aku percaya saja selama ini, kalau kau tak ada rencana main hati lagi sama Kardi?” Sutomo lalu tertawa terbahak-bahak, seperti orang tak waras. “Aku tak bodoh, Sayang!” katanya, sambil menjumput dagu sang istri.

Bulir air mata pun meluncur ke pipi Sumia. “Sudahlah, Pak. Berapa kali sudah aku harus bilang kalau aku dengan Kardi tak ada hubungan apa-apa sejak dari dulu. Percayalah, Pak!” tegas Sumia, sambil menggenggam tangan sang suami. “Apa lagi yang tak aku syukuri menikah dengan Bapak. Sosok yang tak banyak menuntutku, segala macam. Mana bisa pula aku hendak hidup bersama penjahat macam Kardi, Pak. Percayalah!”  

Seketika, kata-kata dari sang istri, perlahan membuat ketidakwarasan Sutomo mereda. Ia merasa tenang dianggap lebih baik daripada Kardi. “Jadi kau benar-benar lebih percaya padaku kan, bahwa Kardi memang pemadat, pemilik barang haram, dan pantas dipenjara? Kau tak percaya kata orang-orang kan, bahwa aku telah menjahati Kardi?” tanya Sutomo, meminta penegasan.

Sumia mengangguk sambil tersenyum. 

Keadaan tersebut membuat Sutomo benar-benar tenang, hingga akhirnya membolehkan sang istri pergi ke pasar.

Dan, dugaan Sutomo tak benar-benar salah. Diam-diam, Sumia punya rencana bertamu ke rumah Kardi. Tapi maksudnya bukan untuk bermain hati. Ia cuma hendak meminta penjelasan, bahkan meminta maaf, sekiranya benar kata orang-orang kalau suaminya telah melakukan fitnah kepada Kardi karena cemburu buta di masa lalu.

Tidak ada komentar: