Senin, 30 Oktober 2017

Bilik Renungan

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dari desa, sampailah Judan di kota. Ditemani Mira, ibunya, ia hendak bertemu dengan sang ayah, Hamdi. Rindunya membucah setelah tak berjumpa hampir sebulan penuh. Tak berlebihan jika kaki mungilnya berlari kencang kala ayahnya tampak di satu titik. Ia pun bergegas memeluk sang ayah erat-erat, untuk beberapa detik.
 
Seusai berbalas salam dan berbagi kabar, Judan dan ayahnya pun duduk. Saling berhadapan di antara bekal yang digelar di atas meja. Saat ayahnya tengah bersantap dengan lahap, ia pun mulai bercerita tentang hari-hari tanpa sosok ayah. Ia menerangkan tentang anak ayam yang mulai tumbuh besar, buah rambutan di samping rumah yang mulai masak, juga soal prestasinya di kelas taman kanak-kanak.

Mendengar cerita anaknya, Hamdi jadi senang tak terkira. Ia pun bertanya banyak hal kepada sang anak yang dengan antusias menjelaskannya secara panjang lebar. Di sela-sela itu, Hamdi akan melemparkan pujian kalau anaknya memang sosok yang pintar, cerdas, baik, dan segalanya. Sikap itu jelas mampu mencitrakan dirinya sebagai seorang ayah yang peduli dan perhatian kepada sang anak.

Seusai melapas rindu dengan cara yang semarak, Judan pun menyampaikan harapannya dengan sikap yang polos. “Pekerjaan Ayah kapan selesainya? Ayah masih lama di sini?”

Hamdi mengelus-elus rambut anaknya. “Dalam waktu dekat, aku belum bisa pulang, Nak. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di sini. Memangnya kenapa?”

Raut wajah Judan jadi cemberut. “Minggu depan kan aku lulus TK. Ayah bisa hadir kan?”

Mengetahui keinginan besar sang anak, Hamdi tampak prihatin. Namun tetap senyuman juga yang ditampakkan di wajahnya. “Entahlah, Nak. Ayah tak bisa beri janji. Tapi jika Ayah berhalangan, kau tak usah bersedih. Kan, masih ada Ibumu,” katanya, lalu memandang sepintas pada istrinya.

Mira hanya melirik sekenanya pada sang suami, lalu mengalihkan wajahnya dengan sikap yang judes.

“Tapi aku mau Ayah datang juga! Teman-temanku bilang apa kalau Ayah tak ada!” kata Judan, lalu menoleh pada ibunya yang sedari tadi hanya berdiri dan mondar-mandir.

Mira terpaksa terlibat dalam obrolan. “Kalau Ayahmu tak ada, cukup Ibu saja yang datang, Nak.”

“Aku maunya Ayah datang!” tegas Judan, terkesan seperti merengek. “Kalau Ayah ada, kita bisa naik mobil ke sekolah.”

Lagi-lagi, Hamdi kasihan melihat anaknya, tapi ia memang tak bisa apa-apa. “Tak usah naik mobil, Nak. Jarak rumah ke sekolah kan dekat.”

Judan tampak semakin murung.

“Tak usah pikirkan kata orang-orang, Nak. Tampil dengan sederhana. Tak usah berlebihan, apalagi pamer,” nasihat Hamdi kepada sang anak, meski ia tahu betul, ego anak-anak mengalahkan segalanya.

Seketika, Mira berdengus mendengar kata bijak suaminya. Nasihat itu seakan tak pantas diutarakan sang suami kepada seorang anak yang belum mengerti apa-apa. “Judan, sudah waktunya kita pulang, Nak,” kata Mira, memecah kekhidmatan. Ia lalu menarik tangan sang anak untuk berdiri dari posisi duduknya.

“Tapi aku masih mau bersama Ayah, Bu,” kata Judan, sambil menarik kembali tangannya.

Hamdi yang harusnya membiarkan sang anak menuntaskan rindunya, malah tak membela. Melihat jam yang menggantung di dinding, ia tahu, memang sudah waktunya untuk berpisah. “Pulanglah, Nak. Jagalah dirimu baik-baik. Ayah akan segera pulang setelah urusan di sini selesai.”

Dengan berat hati, Judan pun menyeret langkahnya menjauh dari sang ayah. Hanya tatapan kesedihan yang terakhir kali ditampakkannya. Tak ada salam atau lambaian tangan.

Dan setelah melalui pelataran yang berkelok-kelok, melapor pada pos pemeriksaan, hingga melalui halaman depan yang luas, sampailah Judan dan ibunya di tepi jalan. Mereka lalu menunggu beberapa menit, hingga akhirnya sebuah angkutan umum berhenti. Mereka pun menumpang dan semakin menjauh dari papan nama gedung yang bertuliskan: Lapas Klas I Kota Pasir Selatan. Sebuah tulisan yang belum mampu dieja Judan secara baik, bahkan tak mungkin ia mengerti maksudnya. Yang ia tahu dari ibunya, gedung itu adalah tempat kerja yang baru bagi sang ayah sebagai kepala desa.

“Bu, panas!” ketus Judan, menaggapi ruang angkutan umum yang sempit dan pengap.

“Sabar, Nak. Sebentar lagi juga sampai. Kau tidur saja. Nanti ibu bangunkan kalau sudah sampai,” kata Mira, mencoba menenangkan anaknya.

“Mana bisa tidur kalau panas begini, Bu,” keluh Judan. “Harusnya kita pakai mobil ayah saja, Bu. Nanti setelah aku lulus, kita kembalikan lagi ke Ayah.”

Mira yang terus mengipas-ngipas sang anak pun, memelas, “Tak bisa, Nak. Setiap saat, Ayahmu membutuhkan mobil itu. Lagi pula, Ibu kan tak bisa menyetir,” katanya, meski mobil yang dimaksud sang anak, sebenarnya telah disita pihak kepolisian, sebab merupakan barang dari hasil korupsi dana desa.

Posting Komentar