Rabu, 21 Juni 2017

Elegi Waktu

Sepanjang hari, Rumi berdiam diri di rumah. Hanya duduk termenung di satu kursi yang hampir selurus dengan jendela. Meneleku pada meja, sambil memandang sebuah kalender yang tertempel di dinding. Matanya tertuju pada bulan Juni. Di sana, ia telah melingkari angka 1. Tepat di tanggal itulah, telah terjadi peristiwa yang membekas di memorinya. 
 
Teringat lagi oleh Rumi, kala dahulu, berbulan-bulan sebelum tanggal 1 Juni, ia telah melakoni serangkaian kisah. Panjang jalan yang ia lalui sebagai awalan demi mengenal seorang wanita bernama Rika, seorang pramusaji di sebuah kafe. Bahkan ia harus rela menghabiskan waktu yang lama di tempat kerja sang gadis, sekadar untuk mencuri perhatian.

Sesi penjajakan, rupanya tak berjalan mulus. Rumi, seorang lelaki pemalu, terus saja diam dalam kebodohannya. Sering kali hanya memandang sang pujaan hati berlalu-lalang dan berlaku ramah dengan para pengunjung kafe. Ia tak tahu harus berbuat apa. Barulah ketika hasratnya memuncak, ia berani berbagi senyum dan bertutur sapa, tapi hanya untuk kepentingan pelayanan.

Dan, di satu malam yang tenang, terjadilah peristiwa yang memaksa Rumi melangkah lebih jauh. Entah bagaimana ceritanya, secangkir kopi yang disajikan sang gadis di hadapannya, terjatuh. Cairan pekat pun, terpercik ke baju Rumi. Tapi atas perasaannya yang mendalam, ia tak marah sedikit pun. Terang saja, ia malah berlaku lembut pada si gadis jelita. 

Sejak malam itulah, Rumi telah menggenggam kisah yang pantas menjadi alasan untuk berbagi senyuman dan bertutur sapa secara intens. Mereka pun jadi semakin dekat.

Tak ingin melewatkan waktu lebih lama lagi, tepat di tanggal 1 Juni, Rumi pun menyatakan perasaannya pada Rika. Peristiwa itu dilakukannya dengan cara yang istimewa. Tepat ketika malam panggung bebas musik di kafe, ia menyanyikan sebuah lagu. Dan di akhir penampilannya, terucaplah kalau lagu itu, ia persembahkan khusus untuk Rika.

Setelah peristiwa di malam tanggal 1 Juni, tanpa perlu penegasan lagi, hati mereka saling terikat. Banyak waktu yang mereka lalui bersama. Mereka suka menelusuri bangunan kota, olahraga di ruang terbuka hijau, hingga begumul dengan huruf-huruf di perpustakaan. Dan yang mereka paling suka adalah duduk di tepi pantai sambil memandang sang surya tengggelam.

Begitulah cerita kedekatan mereka yang penuh rasa.

Dan kini, mata Rumi beralih dari tanggal 1. Pandangannya lalu tertuju pada angka 30 Juni di kalender. Di tanggal itulah, ia berencana mengakhiri hubungan semunya dengan Rika. Ia menginginkan hubungan yang sungguh-sungguh, dalam ikatan pernikahan. Apalagi, ia meyakini, gadis bermata sipit itu adalah sosok terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya.

Demi niat mulianya, di sepanjang waktu menjelang tanggal 30 Juni, Rumi pun senantiasa mengesankan diri sebagai sosok calon suami yang layak bagi Rika. Semasih atas nama pertemanan, sesekali ia bertandang ke kediaman sang pujaan, sekadar untuk mengenal calon mertua. Sebaliknya, Rika pun sesekali datang ke rumahnya untuk maksud yang sama.

Sejauh pandangan Rumi kala itu, tak ada rintangan yang berarti untuk rencananya mengajak Rika duduk di pelaminan.

Dan sontak, mata Rumi beralih lagi. Kini, perhatiannya tertuju di angka 15, satu angka di antara tanggal 1-30 Juni. Segenap hati dan pikirannya tersita, karena pada angka itulah, tercipta jarak antara harapan dan kenyataan yang telah dikira-kiranya sepanjang waktu. Angka 15 menjadi pembatas, sebab di tanggal itulah, Rika mengalami kecelakaan tragis. Ia meninggal seketika.

Kisah Rumi dan Rika, berakhir sudah.

“Nak, apa kau akan terus seperti ini?” Suara Rita, sang ibu, menyadarkan Rumi dari lamunannya.

Rumi bergeming.

“Peristiwa itu telah terjadi, Nak. Kau harus bisa menerima kenyataan,” ucap Rita lagi, menasihati.

Sejenak, Rumi berdialog dengan dirinya sendiri. Ada juga sedikit kesadaran dalam dirinya untuk berhenti berkabung. Tapi jika mengingat hari terakhir hidup Rika, ia jelas tak bisa keluar dari kesedihannya. “Aku butuh waktu, Bu,” kata Rumi.

Rita hanya menggeleng-geleng. Tekad untuk bangkit dari keterpurukan, sedari dulu telah dituturkan sang anak, tapi tak jua ada buktinya. “Nak, mungkin ada baiknya kau mencari wanita lain. Aku yakin, di alam sana, Rika tak ingin kau sedih seperti ini.”

Rumi menarik napas dalam-dalam. Seakan-akan ia ingin mengatakan kalau nesehat itu, sungguh berat baginya. Rasa cinta dan rasa bersalah, telah bersatu-padu menjeratnya dalam kenangan pahit bersama Rika.

Mungkin sampai kapanpun, Rumi tak akan melupakan hari terakhir Rika, tanggal 15 Juni. Sore itu, kala langit mendung, ia mengirimkan pesan singkat kepada Rika untuk segera menemuinya di tempat favorit mereka berdua, di tepi pantai. Ia menjanjikan sebuah kejutan. Diam-siam, ia berencana mengungkapkan tekadnya untuk menikahi gadis itu, di bawah naungan langit senja.

Dan hingga malam tiba, di bawah langit yang tak henti meneteskan titik-titik hujan, Rika tak juga datang menemuinya. Hingga datanglah kabar kalau gadis itu terlibat kecelakaan yang merenggut hidupnya, seketika.

Atas peristiwa itu, sampai kini, Rumi tak henti menyalahkan dirinya.

“Nak, ada baiknya kalender itu diganti,” saran sang ibu.

Mata Rumi seketika tertuju pada tahun yang tertera pada kalender yang menggantung di depannya: 2016. Sudah satu tahun berlalu. Tapi seperti sebelumnya, Rumi tetap menolak saran sang ibu tanpa menuturkan alasan yang sesungguhnya. “Jangan, Bu!”

“Tapi aku telah membeli kalender yang baru,” sergah Rita.

“Tempel saja di dinding yang lain!” tegas Rumi.

Untuk ke sekian kalinya, Rita mengalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar