Minggu, 04 Juni 2017

Demi Dendam

Bertahun-tahun lalu, Rustam meninggalkan kampung halamannya yang sepi. Tekadnya bulat, meski harus meninggalkan sang ibu, Aminah, seorang diri. Ia beranjak ke kota demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang polisi. Seperti ayahnya, ia berhasrat menjadi pemberantas kejahatan. Dan kini, harapan itu, terwujud sudah. 
 
Kesusksesan Rustam menjadi polisi, sedari awal, bukan untuk membanggakan siapa-siapa. Apa yang ia capai, hanya untuk dirinya sendiri. Ayahnya telah tiada, sedangkan ibunya tak pernah merestui ia menjadi seorang polisi. Karena itu jugalah, sejak dahulu, Rustam menutupi semua rencananya dari pengetahuan sang ibu. Hingga, sampai sekarang, ia masih merahasiakannya. 

Kini, setelah keadaan banyak berubah, kerinduan Rustam kepada ibunya, jadi semakin membesar. Ia pun memutuskan pulang ke kampung dengan segala kebohongan yang selama ini ia tutup-tutupi. Ia pasrah saja jika harus jujur kepada sang ibu soal keadaannya sekarang. Jelas ia sadar, tak mungkin menyembunyikan statusnya sebagai seorang polisi sepanjang waktu. 

Kala sore hari, sampailah Rustam di sebuah rumah, tempat masa kecilnya berlalu. Dengan perasaan yang campur-aduk, ia menegarkan langkahnya menemui sang ibu. Dan akhirnya, ia pun mendapati ibunya tengah duduk menyendiri di beranda depan rumah, bercengkerama dengan ayam-ayam yang telah menjadi teman sepinya selama ini.

Melihat sang anak datang, Aminah sontak menghampiri, kemudian memberi peluk dan cium untuk buah hatinya. Kata-kata kesyukuran pun, tak berhenti meluncur dari mulutnya. Air matanya lalu menetes, disertai pertanyaan yang meluncur secara bertubi-tubi. Dengan sabar, Rustam menjawab sambil berusaha menyela dan bertanya balik.

Setelah rasa rindu luruh dalam pelukan dan tangisan, Aminah pun bertanya tentang apa yang telah dilalui sang anak sepanjang waktunya. “Apakah kau telah menjadi seorang dokter seperti keinginan ibu?” tanya Aminah dengan raut wajah yang masih menyiratkan keharuan.

Rustam kelimpungan harus menjawab apa. Ada ketakutan dalam hatinya kalau-kalau sang ibu kecewa berat mengetahui kejujurannya. Tapi bagaimana pun juga, ia sadar sedari dulu kalau pertanyaan semacam itu, akan muncul. Apalagi, sepanjang waktu, kalau sang ibu menyelidiki kegiatannya di kota, Rustam selalu mengaku tengah menjalani studi sebagai mahasiswa fakultas kedokteran.

Beberapa detik berlalu, Rustam pun menggelang. “Aku bukan seorang dokter, Bu.”

Dengan senyuman yang membalut rasa penasarannya, Aminah kembali bertanya, “Lalu apa, Nak? Atau kau telah menjadi seorang ahli bedah?”

Rustam menggeleng lagi, kemudian berucap dengan tegas, “Aku seorang polisi, Bu!

Seketika, Aminah kaget setengah mati. Raut wajahnya berubah suram. Matanya terbelalak. Ia tampak sulit menerima kenyataan yang baru saja ia ketahui. “Bukankah Ibu sudah bilang, jangan jadi polisi? Apa kau tak paham maksud Ibu, Nak?” tuturnya, seperti membentak.

Rustam menggenggam tangan sang ibu. “Maafkan aku, Bu. Aku tahu, Ibu tak pernah menginginkan aku menjadi seorang polisi, tapi itu adalah cita-citaku sejak kecil. Aku ingin menjadi seperti Ayah, Bu.”

“Tapi, bagaimana jika…,” suara Aminah tertahan beberapa detik. “Aku sungguh tak ingin kau menjadi seperti ayahmu! Aku…”

“Kenapa, Bu? Apakah menjadi seorang polisi itu adalah pekerjaan yang hina? Bukankah polisi memiliki tugas yang mulia sebagai pemberantas kejahatan?”  timpal Rustam.

“Aku tahu, Nak!” Aminah segera menyela. Setelah melepaskan isakannya, ia lanjut bertutur, “Tapi aku tak ingin kau bernasib seperti ayahmu, yang meninggal karena ia adalah seorang polisi.”

Rustam sedikit terkejut mendengar ibunya menuturkan kenyataan itu. Tapi melihat ibunya menangis, ia tak hendak menuntut penjelasan segera.

Tak lama kemudian, Aminah melanjutkan penjelasannya, “Nak, aku memang telah lama merahasiakan ini padamu. Tapi apa boleh buat, kurasa, sudah waktunya kau tahu. Sejujurnya, ayahmu meninggal bukan karena panyakit jantung, seperti yang kukatakan sejak dahulu. Yang sesungguhnya terjadi, ayahmu meninggal karena ia seorang polisi; ia menindaki komplotan pencuri ternak kala sedang beraksi di kampung ini. Tikaman para pencurilah yang membuat nyawanya melayang,” kata Aminah, dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi. “Karena itulah, Nak, aku tak ingin kau menjadi seorang polisi.”

Seperti sebelumnya, Rustam tak terlalu kaget mendengar penjelasan ibunya. Cerita tragis tentang sang ayah, bukanlah rahasia baginya sedari dulu. Meski sang ibu telah berusaha menyembunyikan kenyataan itu, tapi sampai juga kabar di telinga Rustam tentang seluk-beluk ceritanya. Dan karena alasan itulah, tekad Rustam kukuh menjadi seorang polisi, atas nama dendam kepada para komplotan pencuri ternak yang kembali meresahkan warga di kampung halamannya. 

“Maafkan aku, Bu. Tapi aku janji, aku akan menjaga diriku baik-baik,” tutur Rustam.

Dengan perasaan yang entah bagaimana, Aminah terdiam saja. Ia jelas tak tahu bagaimana harus menyikapi keputusan anaknya yang sudah terlanjur.

Tidak ada komentar: