Selasa, 30 Mei 2017

Untuk A

Aku mulai mengagumimu di awal waktu pertemuan. Kala itu, di tahun pertama kita menginjakan kaki di kampus, perhatianku seketika tertuju padamu. Aku sering menatapmu, dan kau balas menatapku. Dengan cara itu, kau, si gadis pemalu dan penyendiri, seakan berhasil mengajakku mengobrol melalui batin. Dan seiring bergantinya hari, aku merasa semakin mengenalmu, meski dengan cara rahasia.

Berbekal namamu, kumulailah penelusuran sepihak. Sebuah perkenalan satu arah. Aku mengetik namamu di kolom pencarian internet, lalu mulai menjajaki tentangmu di semua lini media sosial, di dunia maya. Segenap beranda akun media sosialmu, kutilik di sepanjang waktu. Kutafsir-tafsir unggahanmu satu per satu, sekadar untuk mencari alasan menumbuhkan ataupun membunuh harapanku.

Akhirnya kujumpai juga sebuah blog, tempatmu sering mencurahkan kisah-kisah hidup, seperti yang juga kulakukan. Semenjak itu, aku semakin menyukaimu karena satu alasan yang membuat kita sama: kau suka menulis. Dan sebagai pengagum rahasia, apa yang kau tuliskan, bak makanan favoritku setiap hari. Setiap waktu, tanpa kau tahu, aku akan mencari informasi terbaru tentang dirimu, tanpa rasa bosan.

Di antara unggahan di blog pribadimu yang jumlahnya mencapai ratusan, kutahu, kebanyakan berkisah tentang kesukaan dan aktivitas keseharianmu. Aku tak menjumpai kau menulis untuk seseorang yang spesial. Tapi belakangan ini, kau tampak gemar menulis tentang perasaanmu yang berbunga-bunga. Kau menulis tentang rasa kekagumanmu yang entah kau tujukan untuk siapa.

Untuk R
Jika aku bisa mengulang waktu, aku tak perlu pulang di hari pertama aku lahir di bumi. Aku hanya butuh kembali di berapa tahun belakangan, di hari pertama kau merasa jatuh cinta pada seorang wanita. Di hari itu, aku ingin jadi wanita pertama yang kau tatap, hingga akulah cinta pertamamu.

Begitulah sepenggal curahan hatimu yang belum terlalu lama kau unggah.

Atas unggahanmu itu, untuk beberapa waktu, aku merasa pantas menerka-nerka jika yang kau maksud R adalah inisial namaku. Kalau pun bukan, kuharap tokoh itu, fiktif belaka. 

Dan seiring waktu, kau semakin sering menulis tentang sosok berinisil R. Padahal kita jarang saling menginderai untuk berbagi kesan. Kalau begitu, tentu sulit jika ada hal dariku yang bisa kau jadikan bahan cerita. Dan benar saja, setelah kuamati baik-baik setiap unggahanmu sedari dulu, aku mulai menyadari, bahwa aku hanya merasa-rasa saja menjadi tokoh ceritamu. Aku terlalu percaya diri, sampai lupa bahwa untuk mengobrol secara langsung denganmu saja, tak pernah kulakoni.

Menyaksikan bahwa aku bukanlah siapa-siapa dalam ceritamu, benar-benar menyakitkan. Begitu menyakitkan karena di waktu-waktu yang panjang, aku hanya akan jadi saksi atas luka-lukamu yang tak mungkin bisa kuhapus. Maka demi membalas luka-lukaku atas luka-lukamu, kulakukan juga kesadisan seperti yang kau lakukan. Kutulislah kisah tetang tokoh A dalam unggahan-unggahanku, sesuai dengan inisial namamu.

Sambil berandai-andai bahwa kau akan membaca kisah-kisah dalam blog pribadiku, kutulislah kisah tentang kita. Bahkan aku sengaja mencuri kata-kata dari blog pribadimu:

Untuk R:  
Kukira, aku mengenalmu di waktu yang tepat. Kukira, akulah yang akan mengawali kisah-kisah dalam kenanganmu. Tapi tidak. Semua sudah terlambat. Kau telah terperangkap di masa lalumu, sedangkan aku tak mungkin mengulang waktu. 
  
Untuk A:
 Jika aku bisa mengulang waktu, aku tak perlu pulang di hari pertama aku lahir di bumi. Aku hanya butuh kembali di berapa tahun belakangan, di hari pertama kau merasa jatuh cinta pada seorang lelaki. Di hari itu, aku ingin jadi lelaki pertama yang kau tatap, hingga akulah cinta pertamamu.

Tak lama setelah tulisan itu kumuat di blog pribadiku, sebuah komentar dari seorang pembaca dengan nama inisial A pun, terpampang di sana: Kita memang telah mendua. Kita telah mendua dalam imajinasi kita. Tapi bisakah dalam dunia nyata, kita memulai semua dari awal?

Aku berharap, komentar itu darimu.

Dan tak lama setelah itu, seorang pengunjung, yang juga menggunakan akun dengan nama inisial A, turut berkomentar: Cukuplah tentang masa lalu. Sekali-kali, tulislah tentang masa depan kita.

Aku tak tahu dia siapa.

Dan tanpa sadar, aku telah mempermainkan perasaan kalian di dunia maya.

Posting Komentar