Jumat, 12 Mei 2017

Pesan Titipan

Seminggu lalu, hujan deras menghujam kota. Sejumlah pelancong yang masih dalam perjalanan pun, terpaksa berlindung di bawah teras bangunan yang berjajar, menunggu hujan reda. Syukurlah, aku sampai tepat waktu, pada sebuah kafe yang kutuju. Aku bermaksud menemui seorang wanita, untuk menyampaikan sesuatu yang penting.
 
Kusibaklah pintu kafe, segera. Sambil menepis-nepis percikan hujan di jaket, kulayangkanlah pandanganku ke segala arah. Maksudku mencari wanita yang hendak kutemui tanpa janji terlebih dahulu. Dan akhirnya, kulihat ia menyendiri di sudut kanan ruang. Duduk berhadapan dengan satu-satunya kursi tak berpenghuni. Hanya memandang kosong pada butiran hujan di balik jendela yang buram-berkabut.

Aku pun menenangkan diri sejenak untuk meredam perasaanku yang deg-degan. Kusembunyikan kedua tanganku yang bergetar-menggigil dalam saku jaket yang tebal. Bersama gugup yang tak juga sirna, kulangkahkanlah kakiku menuju ke arahnya. Aku berjalan sambil menoleh ke kiri dan kanan, untuk memberi isyarat kalau aku tak punya pilihan selain duduk di kursi kosong yang berada tepat di depannya, meski ia tak juga menoleh padaku.

Setelah berdiri tepat di hadapannya, hanya terpisah jarak dua meter, aku pun berdeham untuk memberinya tanda atas kehadiranku. “Boleh duduk di sini?”
 
“Maaf, aku sedang menunggu seseorang,” timpalnya segera. Namun setelah menoleh, ia malah menebak-nebak rupaku. Tak lama kemudian, ia menerka, “Kamu teman Rian kan?” 

Aku mengangguk saja, sambil tersenyum. Lidahku tiba-tiba kelu. 

“Kenalkan, aku Mira,” tuturnya, sambil menyodorkan tangan kanan untuk berjabat.

Dan setelah mengelap telapak tanganku yang lembap pada jaket, kubalaslah uluran tangannya. “Dimas,” kataku, dengan rasa gugup yang semakin menjadi-jadi.

“Duduklah,” tawarnya, sembari tersenyum manis. “Maaf atas kataku tadi. Aku memang sedang menunggu Rian. Aku telah menunggunya hampir sejam.”

 “Terima kasih,” tuturku, sambil sesekali menatap matanya. Aku pun mencoba menggelitiknya dengan candaan yang kecil, “Kalau dia datang, aku siap menyingkir.”

Dia terlegak singkat. Memperlihatkan giginya yang berbaris rapi, yang dibalut lekukan pipi yang terlihat manis. “Aku kira, dia akan datang. Tapi, ya, seperti biasa, janji seorang lelaki tak ubahnya seperti butiran-butiran hujan yang menggenang; diucapkan berulang-ulang, namun akhirnya cuma menghanyutkan dalam harapan-harapan yang menyakitkan.”

Mendengar tutur kecewanya pada Rian, seketika menguatkan hatiku untuk tidak menyampaikan pesan yang sedari awal ingin kusampaikan. Ada bagian dari hatiku yang merasa sebaiknya aku merintis jalan untuk jadi pahlawan di matanya.

“Apa kau tahu di mana keberadaannya?” tanyanya lagi. “Nomor teleponnya tidak aktif.”

Aku menggeleng saja. Takut salah berucap.

Dalam beberapa saat, kami pun saling mendiamkan.

Selanjutnya, di antara obrolan kami yang terbata-bata, selalu ada jeda panjang yang membuatku mati kutu. Namun di tengah kecanggungan yang tak terkira itu, aku tetap berusaha tampil biasa. Menegarkan hati untuk tampil percaya diri di hadapan seseorang yang jelas membuatku sangat grogi. Grogi bukan karena dia wanita, tapi karena aku punya perasaan padanya. 

Sembari mengecap kopi hitam di depan kami masing-masing, aku dan juga dia, seperti sama-sama sibuk untuk mencari topik obrolan yang pantas. Awalnya, kami hanya membahas tentang perkuliahan. Namun dalam durasi waktu yang panjang, sembari menunggu hujan reda, kami pun membicarakan tentang hal pribadi; soal kesibukan, cita-cita, hobi, hingga latar belakang keluarga.

Berawal dari obrolan yang panjang di sore itu, kami pun jadi semakin akrab. Di awal hari setelah kebersamaan itu, ia memang hanya mencariku untuk bertanya kalau-kalau aku tahu kabar tentang Rian. Tapi belakangan, aku lihat, ia mulai terbiasa untuk mengobrol tentang kami saja. Kuduga, ia mulai kesal dan benci pada Rian, sosok lelaki yang meninggalkannya tanpa alasan.

Dan tiba-tiba, hari ini, saat aku tengah menyendiri di kafe, tepat di meja tempatku mengobrol panjang lebar dengannya seminggu yang lalu, hujan deras kembali turun. Angin yang berhempus pelan membuatku kembali merindukan kebersamaan yang direncanakan dengannya. Tapi sisi hatiku yang lain, seakan-akan tergetar atas dosa yang telah kulakukan.

Kuingat lagi, kala pagi hari, tepat seminggu yang lalu, sebelum aku menemuinya di kafe, Rian yang tak berdaya, menitip pesan padaku, “Aku minta padamu, temuilah Mira sore nanti. Aku ada janji dengannya. Aku mohon,” katanya, sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat.

Aku mengangguk saja. “Aku akan lakukan untukmu, kawan.”

Ia lalu melepaskan batuknya yang tertahan-tahan. “Tolong sampaikan padanya, kalau aku baik-baik saja. Jika tuhan mengizinkan, aku akan kembali,” pesannya. “Tapi jika aku tak kembali lagi, tolong jaga dia baik-baik.”

Kuiyakan saja pesannya, “Pasti kulakukan!”

Kala waktu belum sore di hari itu, Rian pun terbang ke luar negeri. Menuju sebuah negara yang katanya mumpuni dalam menangani kanker paru-paru stadium IV yang ia derita. Dan pagi tadi, aku dapat pesan dari adik kandungnya, bahwa Rian telah pergi, untuk selama-lamanya. 

Kini, perasaanku dilematik. Aku, yang atas keegoisan memilih merahasiakan pesan yang seharusnya kusampaikan. Memilih untuk menghianati permintaan terakhir sahabatku sendiri, demi perasaan yang juga telah lama kupendam untuk perempuan yang sama. Namun, kurasa, memang sebaiknya aku melakukan itu. Jelas, aku tak ingin di waktu mendatang, aku memiliki seorang kekasih yang hatinya masih terpasung pada diri yang telah tiada.

Dan di sela-sela keheninganku memikirkan kekejaman yang telah kulakukan, sesuai janji, wanita itu, Mira, datang menghampiriku, kala hujan tengah deras-derasnya. Dia muncul dengan senyuman yang tampak semakin menawan. Jelas saja, aku ingin memiliki keindahan itu sepanjang waktu, hingga rahasia besar tentang pesan-pesan Rian, akan tetap kusimpan, entah sampai kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar