Kamis, 25 Mei 2017

Penebus Dosa

Di usia senjanya, Dori masih memendam satu keisauan mendalam. Pasalnya, Milan, anak bungsunya, belum juga menikah. Padahal, anak yang terbilang luwes dalam bergaul itu, telah menginjak usia kepala tiga. Dori jelas khawatir jika sepeninggalnya, sang anak tak menemukan pendamping hidup. Sungguh, ia telah merasakan sendiri, betapa getirnya hidup tanpa seorang istri.
 
Sebenarnya, segala upaya telah dilakukan Dori untuk menikahkan sang anak. Beberapa gadis desa atau anak kerabatnya sendiri, telah ia tawari, hingga beberapa menunjukkan sikap penerimaan untuk menikah dengan Milan. Itu tidaklah sulit, sebab keluarganya begitu terpandang dan disegani warga kampung. Tapi akhirnya, Milan tetap tak berelera. Ia menolak keras semua tawaran itu.

Dori pun pasrah mengurusi masalah perjodohan anaknya. Ia tak mau lagi ambil pusing. Sebagai seorang ayah, ia merasa sudah cukup melakukan upaya untuk menikahkan sang anak. Sampai akhirnya, datanglah hari yang tak diduga-duga, di saat Milan mengungkapkan keinginannya untuk menikahi seorang wanita. 

“Ayah, aku ingin menikah dengan Santi,” tutur Milan dengan sikap sopan.

Bukannya semringah mendengar kabar itu, Dori yang tengah menikmati tehnya di pagi hari, malah terkaget. “Apa? Kau ingin menikahi janda beranak satu?”

Milan mengangguk segan.

Seperti tak habis pikir, Dori menggeleng-gelengkan kepala. “Nak, kau ini anakku. Anak seorang pengusaha kaya yang terpandang di desa ini. Mana bisa kau menikah dengan seorang wanita yang tak benar seperti itu?”

Meski sedikit tak enak dengan penuturan ayahnya, Milan tetap berusaha mengendalikan dirinya. Ia tak ingin kalau tujuannya tak tercapai hanya karena salah berucap. “Aku paham Ayah. Bahkan aku telah memikirkannya matang-matang. Dan aku merasa, menikahi seorang janda seperti Santi, tak ada bedanya dengan menikahi seorang gadis. Itu bahkan baik, agar aku bisa menafkahi hidup keluarga kecilnya yang tak menentu, juga menghilangkan fitnah yang berseliweran. Aku sanggup, Ayah.”

Dori tetap pada sikapnya. “Aku paham tentang itu, Nak. Tapi dia janda dengan cara yang tak beradab. Jandanya bukan karena ditinggal mati suaminya, tapi bergaul dengan sosok lelaki yang tak jelas, yang tak pernah diketahui siapa sampai kini.”

“Aku tahu, Ayah. Tapi apa salahnya jika begitu? Bukankah semua orang punya masa lalu? Lagi pula, kehinaan orang, akan menjadi kemuliaan kita, jika saja kita menyelamatkannya dari kehinaan itu,” tutur Milan.

Dori tetap menampakkan sikap tak terima, meski ia sedikit meluluh melihat kehendak kuat sang anak. “Tapi…”

“Ayah,” sela Milan seketika, “Kalau tidak dengan Santi, aku tak akan menikah seumur hidupku.”

Mendengar tekad sang anak, mulut Dori seperti tersekat. Ia merasa tak punya pilihan lain selain mengalah. Apalagi, akan lebih buruk jika Milan benar-benar tak menikah sepanjang hidupnya.

Dan obrolan selanjutnya pun, hanya membahas tentang prosesi pernikahan Milan dengan Santi.

Sungguh, atas persetujuan ayahnya, Milan benar-benar bersyukur. Tak lama lagi, ia akan menunaikan janjinya pada Santi. Sebuah janji nikah dua tahun lalu, kala Santi mengaku hamil. Sebuah janji untuk menebus dosanya sendiri. Janji untuk mengembalikan sang anak pada ayahnya sendiri.

“Nak, karena ini sudah jadi keputusanmu, aku ingin kau menyegerakannya. Kalau bisa, jangan sampai bulan depan,” tutur Dori.

Milan mengangguk senang, dengan satu senyuman yang membungkus semua rahasia masa lalunya.

Tidak ada komentar: