Rabu, 31 Mei 2017

Engkaulah Mereka

Untuk hatiku yang tak pernah terjamah, darimulah aku belajar artinya memendam. Setelah perkenalan kita di awal waktu, aku mulai belajar bahwa ada seni dalam hati setiap pengagum rahasia. Seni itu kadang menjelma sebetuk gambar-gambar nan mengangumkan, atau nada-nada yang menyentuh hati, juga kata-kata yang indah.
 
Di sela-sela waktu memendam itu, aku juga belajar tentang harapan darimu. Tentang betapa menegangkannya mengantungkan nasib perasaan pada orang lain, atau tentang candunya menggantungkan perasaan orang lain. Entah siapa di antara kita yang menggantungkan atau digantungkan. Yang pasti, selama memendam, aku menikmati asyiknya debaran jantung sekian lama, yang tak berakhir dengan kata-kata kepastian.

Setelah merasa puas bermain-main dalam ketidakpastian, datanglah juga inginku mencoba nuansa baru. Kukira, ada baiknya juga untuk belajar soal suka-duka menyayangi. Aku ingin tahu, bagaimana menantangnya terus-menerus menampakkan perhatian padamu, sembari membunuh kejemuan untuk kegiatan yang berulang-ulang, semisal bertanya tentang kabarmu setiap saat atau memelukmu kala bersedih.

Sebagaimana seharusnya, untuk berbagi kasih sayang secara nyata, kita butuh ikatan yang pasti, yang lebih dari sekadar pertemanan. Kita butuh mengikatkan diri dalam hubungan penghambaan, di mana kita tak patut lagi bertanya tentang alasan berkasih sayang, tetapi kita terikat dalam rangkain kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu, aku pun menyatakan perasaan padamu, dan kau menerimanya dengan senang hati.

Di waktu-waktu setelah kita menyatakan perasaan, aku senantiasa membuaimu dengan kata cinta, seakan-akan itu adalah jaminan atas kesetianku. Aku pun memaksa diriku sendiri untuk memperbarui kata cinta itu dalam varian yang berbeda, setiap waktu. Entah dengan simbol, puisi, atau lagu. Hingga akhirnya, kau pun memasrahkan diri padaku. Kau seakan hidup dalam surga imajinasi yang kau bangun atas kata-kata cintaku, dan kau tak bisa ke mana-mana lagi.

Tapi sebagaimana yang ditakutkan, rasa bosan akhirnya menggerayangiku juga. Aku merasa jenuh dalam rutinitas hubungan yang itu-itu saja. Aku ingin nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Dan untuk tujuan itu, aku ingin  perubahan. Aku berhasrat merasakan candunya kekecewaan atas sebuah perpisahaan. Sebab kurasa, perlu juga belajar tentang keilkhlasan dalam melepaskan.

Untuk benar-benar berpisah, tentu itu tak mudah bagimu. Kutahu betul, kau telah dipasung oleh kata cinta. Kau telah dikerangkeng dalam dunia khayal bersamaku. Tapi itu urusanmu. Aku merasa tak punya kepentingan dengan itu. Yang kubutuh hanyalah rasaku sendiri terhadapmu. Jadi, jika darimu aku pernah menikmati rasanya memendam dan menyayangi, aku pantas juga menikmati rasanya menyakiti.

Akhirnya, tepat saat ini, aku menyatakan perpisahan padamu. Aku ingin kau menganggap semua kisah tetang kita, sebagai hiburan dan pelajaran semata, sama seperti yang kulakukan. Jikalau semua kisah tentang kita itu tak tergambar dalam dunia nyata, maka hidupkanlah dalam dunia imajinasi.

“Tidakkah kau merasa berdosa telah menyakiti perasaan wanita dengan cara yang sadis?” Satu sisi hatiku yang berhubungan dengan dunia nyata, memberi nasihat.

Tapi aku, di sisi dunia imajinasi, merasa tak punya salah sedikit pun. “Tapi apa yang kuperbuat, tidaklah menyakiti siapa-siapa. Itu malah menyakiti diriku sendiri.”

“Kau bilang tak melukai siapa-siapa, tapi kau menyebarkan luka di balik harapan-harapan yang kau susupkan di setiap rangkaian kata ceritamu. Kau memang terlalu angkuh untuk menyadari kalau dengan cara itu, kau telah melukai seorang wanita, atau malah melukai banyak wanita. Kau benar-benar pendosa,” kata sisi kanyataanku.  

 “Apa salahku? Aku hanya menulis?” sergah aku di sisi imajinasi.
 
“Salahmu? Ya, karena kau menulis. Kau menulis seakan-akan itu bukan tentang siapa-siapa. Kau menulis seakan-akan semua cuma hasil karanganmu. Tapi kau bohong! Ada seseorang yang selalu hidup dalam tokoh ceritamu!” hardik sisi kenyataanku lagi.

“Lalu, apa salahnya? Toh, dia tak akan pernah tahu, sebab aku tak pernah mengatakannya secara langsung. Aku hanya menuliskannya,” kataku, di sisi imajinasi.

“Kau belum tahu kalau menulis itu adalah bentuk kejahatanmu? Kau menulis kata-kata dan menganggap semua itu hanya urusanmu. Kau menulis kata-kata seakan-akan kau tak berharap seseorang saja atau bahkan semua orang membacanya. Kau bohong!” tegas diriku di sisi kenyataan. “Sadarlah! Kau berdosa karena kau telah menulis cerita, sambil berdoa semoga satu hati yang kau tuju, mengejanya sambil berharap-harap cemas!”

Dan tiba-tiba, aku mengingatmu.

Seketika, aku pun hendak memendam saja semua yang kurasakan padamu, pada dirimu yang selama ini hanya hidup dalam cerita-ceritaku. Bahkan aku hendak mengurainya dari awal, lalu menghapus semuanya. Tapi lagi-lagi, dengan dosa yang kusadari, aku terlanjur menuliskannya.

Maaf.

Posting Komentar