Kamis, 20 April 2017

Tempat Berpulang

Matahari nyaris tenggelam di balik bukit. Sisa cahaya temaram yang tampak membias di lembah-lembah. Menerpa pemukiman warga dan tumbuh-tumbuhan yang terhampar sampai jauh. Maka kuputuskanlah untuk menyudahi pekerjaanku sore ini. Bergegas menyusuri semak belukar, hingga sampai di rumah sebelum gelap. Meninggalkan kebun kopi milikku yang sempit, sampai esok hari. 
 
Di persimpangan jalan, mataku kembali terpaku pada sebuah rumah tua yang agak menjauh dari pemukiman ramai. Rumah yang tampak reyot dan lapuk. Di sana, kulihat lagi sosok Darun yang hidup tanpa anak dan istri. Lelaki renta yang bertahan hidup dari hasil kerja serabutan. Kadang jadi buruh pemetik kopi, penjual kayu bakar dan sayur-mayur, hingga menjadi seorang tukang penggali kubur.

Rasa prihatin melihat Darun termenung sendiri, menuntunku singgah sejenak. Niatku hendak bercakap-cakap dengannya, agar ia merasa tak sendirian hidup di dunia. Aku tak lupa memberinya dua sisir pisang yang kupanen dari kebun. Setidaknya, itu bisa jadi tambahan pengganjal perutnya, setelah sekian lama ia hidup dengan pangan seadanya, dengan hanya mengandalkan buah nangka di depan rumahnya. Tanpa istri, jelas tak ada makanan yang layak.

Sebelum kepergian istrinya, hidup Darun sebenarnya tak terlalu melarat. Istrinya adalah sosok yang cerdas dalam urusan dapur. Tak perlu bahan-bahan mahal untuk meracik makanan enak. Cukup memanfaatkan tanaman sayur-mayur di halaman rumahnya saja, hidangan yang lezat, sudah bisa dihidangkan. Aku tahu itu, sebab dahulu, aku sesekali mampir kala dipaksa mereka untuk singgah bersantap ria bersama.

Kini, Darun yang hidup seorang diri di rumah sederhananya, benar-benar kesepian. Apalagi, selama beristri, ia tak sekali pun dikaruniai anak. Padahal, kehadiran sosok anak adalah harapan terbesarnya. Hingga pada sebelas tahun yang lalu, istrinya pun menghilang entah ke mana. Meski segala upaya telah dilakukan untuk menemukan sang istri, tetap saja tak ada tanda-tanda  untuk menelusuri keberadaannya.

Dan, semenjak kepergian istrinya, Darun sungguh banyak berubah. Fisiknya semakin tak keruan. Kurus dan dekil. Tampak tak terurus. Begitu pun dengan perilakunya. Setelah sang istri tak ada, perlahan-lahan, sifat emosionalnya mulai redam. Bahkan, ia tak lagi berselera menyentuh tuak, keluyuran entah ke mana, berjudi, hingga bermain-main dengan perempuan murahan di kota. Tapi itu bukan pertanda yang baik, sebab ia malah jadi pemurung dan pendiam. 

Berubahnya kehidupan dan sikap Darun atas segala yang menimpanya, sontak mengubah reaksi orang-orang terhadapnya. Warga desa tak dibuat risau lagi atas tingkahnya yang beringas. Tak terdengar lagi suara bentakannya seperti dahulu, kala menghardik istrinya yang hanya bisa mengangis dan menjerit kesakitan. Rumahnya benar-benar senyap. 

Kini, Darun lebih sering terlihat merenung di depan rumahnya. Duduk di bawah pohon nangka yang katanya, dahulu, ditaman oleh sang istri.

“Sepertinya, hidupku tak lama lagi, Nak,” tutur Darun, sambil terbatuk-batuk, melepaskan dahaknya. Wajahnya tampak kuyu dan penuh kepasrahan.

“Kenapa bilang begitu, Pak?” tanyaku, penasaran.

“Aku sudah siap menyusul istriku. Aku ingin meminta maaf padanya atas semua yang telah kulakukan,” katanya, seakan-akan ia bisa memastikan bahwa istrinya telah meninggal.

Aku pun berusaha membesarkan hatinya. “Jangan berpikiran begitu, Pak. Bapak harus jaga diri, biar panjang umur. Berdoalah, agar suatu saat, istri Bapak datang kembali.”

Ia hanya terdiam. Seperti menganggap saranku seperti tak akan membuahkan hasil apa-apa.

Beberapa detik berselang, ia pun mengungkapkan permintaan anehnya. “Nak, aku pesan, kalau aku sudah meninggal, kuburkanlah aku tepat di bawah pohon nangka ini, di samping batu ini,” pintanya, sambil menunjuk pada sebongka batu berukuran kepala manusia.

Aku menoleh padanya, menyiratkan tanya yang terpendam atas permintaannya itu.

“Aku ingin dekat dengan istriku,” sambungnya. “Tolong, laksanakanlah pesanku ini ketika ajalku sampai.”

Aku mengguk saja, dengan dugaan bahwa alasan permintaannya itu karena ia ingin jasadnya dinaungi oleh sebuah pohon nangka peninggalan istrinya, yang ia anggap sangat berarti dalam hidupnya.

Tak lama berselang aku pun pamit, bergegas pulang ke rumah. Hingga esok paginya, kusaksikanlah bukti bahwa kata-katanya, memang tak mengada-ada. Setelah aku hendak menitipkan sarapan pagi untuknya, di tengah perjalanan menuju kebun, kutemukan ia tergeletak di tengah rumahnya sendiri, tak bernyawa.

Dan, untuk prosesi penguburan sebelum tengah hari, kusampaikanlah pesannya kepada para warga, agar ditunaikan dengan baik. Liang kuburnya pun dibuat tepat di titik yang ia tunjukkan padaku sehari sebelumnya. Dan betapa kagetnya aku, juga segenap warga, sebab di balik tanah yang dipintanya, ditemukan tulang-belulang sesosok manusia.


Posting Komentar