Kamis, 13 April 2017

Kembali Terpendam

Sekian lama berada dalam hubungan persahabatan, aku jadi bertanya-tanya tentang isi hatimu. Apalagi, kau memang tak suka mengumbar isyarat untuk menggambarkan bentuk perasaanmu selama ini. Entah padaku yang pengecut, atau pada lelaki lain yang suka menggodamu, kau senantiasa bersikap tak acuh. Sungguh, kau sosok perempuan yang sulit ditebak.
 
Aku tak tahu persis, kapan aku mulai berhasrat mencampuri urusan hatimu. Semua terjadi begitu saja. Terjadi saat kedekatan kita begitu erat, hingga aku takut seseorang merenggutmu dan kau pun pergi meninggalkanku begitu saja. Ya, kurasa semua itu terjadi karena aku telah melalui waktu yang panjang bersamamu, hingga kenangan  pun mengikat hatiku sendiri, padamu.

Sejak perasaan tak keruan itu muncul, bayang-bayangmu selalu hadir menghias imajinasiku setiap malam. Bergentayangan di khayalku saat terjaga, dan bermain di mimpiku saat terlelap. Kau tak pernah jauh, apalagi lenyap, meski ragamu tak pernah benar-benar kudekap, kecuali pada momen yang mungkin kau anggap biasa saja. Itu sungguh ironis.

Nuansa kelabu, akhirnya kujalani dalam waktu-waktu yang panjang. Menyendiri di kamar sepi, sambil menerka-nerka isi hatimu. Mengharapkanmu hadir di sampingku, sedang aku tak berani memintamu secara langsung. Hanya menginginkanmu dalam diam. Hanya bisa mengirimkan sejuta pesan batin yang tak akan sampai padamu seumur dunia. 

Tapi sekarang, keadaannya berbeda. Malam ini, deru hatiku semakin mengencang. Perasaan yang kupendam, berubah jadi hantu yang begitu menyeramkan. Seketika, aku jadi takut membuka pintu kamar. Takut jika kau tiba-tiba datang menghampiriku. Aku juga takut mengecek telepon genggam. Takut jika kau mengirikanku pesan yang tak terkira.

Serangan batin ini, terjadi karena kelancanganku sendiri. Sore tadi, aku nekat menyisipkan pesan di sela-sela buku bacaanmu. Pesan di secarik kertas itu, berisi curahan hatiku. Kutuliskan kalau aku menginginkammu lebih dari sekadar sahabat, sejak lama. Dan aku yakin, malam ini, kala kau tengah membaca bukumu lagi, kau akan menemukan pesan itu.

Jelas, kelancangan itu kulakukan karena aku tak ingin dipecundangi lelaki lain. Tak ingin jadi pemendam selamanya, dengan nasib yang memprihatinkan. Meski sekarang kusadari, rasa galau di antara dua jawaban yang belum pasti, lebih menyiksa dibanding memendam. Jika dahulu perasaan yang kupendam menjadi urusanku sendiri, kini perasaanku jadi urusanmu juga, setelah aku mengungkapkannya.

Atas kelancanganku yang terlajur, aku pun harus melewati malam yang panjang dengan harap-harap cemas. Berharap kau segera mengirimkan respons seperti yang kuinginkan. Tapi di sela ketegangan itu, timbul juga rasa cemasku, jika kau mengirimiku jawaban yang kutakutkan, sebuah jawaban bahwa kau tak membalas perasaanku dengan setimpal. 

Tapi sepanjang malam yang kulalui dengan pertempuran batin, hingga aku terlelap dalam penantian, berlalu saja tanpa jawabanmu. Pagi-pagi, kala aku terjaga, tak ada satu pun pesan darimu. Maka, sesi waktu yang menegangkan pun berlanjut. Aku harus menghadapimu hari ini dengan perasaan yang tak sewajarnya lagi.

Siang hari menjelang, kita pun bertemu dan saling berhadapan di kantin kampus. Perasaanku sungguh berkecamuk. Tapi sebagaimana baiknya, aku tak ingin terlihat bermasalah. Apalagi, aku yakin, kau juga merasakan kekalutan yang sama. Kuduga, kau hanya  menyembunyikannya. Bahkan bisa jadi, kau hanya pura-pura tak tahu tentang pesan itu, dan berharap aku mengungkapkannya secara langsung.

“Kamu kok hanya diam? Ada masalah apa? Biasanya kau tak sekalem ini,” tanyamu lebih dulu.

Aku menoleh padamu dengan segan. “Tak ada apa-apa.”

Kau mengelak. “Kau jangan bohong. Pasti ada apa-apa. Aku mengenalmu sejak lama. Dan aku tahu, kau tak pernah menghadapiku dengan sikap dan mimik yang kaku seperti itu,” tegasmu. “Ceritalah kalau ada masalah.”

Aku menggeleng dengan kebodohanku, meski kutebak, kau mencoba mengarahkanku pada pembahasan inti. Kau coba menggiringku, memojokkanku, agar aku jujur saja tentang perasaanku padamu. Tapi, lagi-lagi, mentalku belum siap. “Kau tak usah khawatir secara berlebihan. Aku baik-baik saja.”

Kau pun terlihat kecewa melihat tingkahku yang mungkin penuh rahasia di matamu.

Akhirnya, aku coba mengurai rahasia hatimu secara perlahan. “Oh iya, buku yang kau baca kemarin sepertinya bagus, apa kau sudah selesai membacanya?”

Dahimu mengernyit. Entah karena mencoba mengingat-ingat, atau heran karena aku tiba-tiba bertanya tentang buku itu. “Buku yang mana maksudmu?”
 
“Buku yang sampulnya merah. Sepertinya, itu novel,” terangku, pura-pura terkesan menebak.

“Oh, itu. Itu bukan punyaku, itu punya temanku,” katamu. “Aku memang sudah membacanya. Dan kemarin sore, aku telah mengembalikannya. Memangnya, kenapa kau bertanya tentang itu?”

Perasaanku jelas tersentak mendengar penjelasanmu. Nalarku bekerja dengan cepat. Dan kini, mulai kuterka, kalau pertempuran hatiku sepanjang malam tadi, mungkin hanyalah tentang diriku sendiri. “Tak apa-apa. Aku hanya bertanya,” jawabku, dengan kebohongan yang kesekian kalinya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan, teman dekatmu, menghampiri kita dengan senyuman yang aneh ke arahku. Seketika, kuyakini sudah kalau aku harus kembali memendam perasaan padamu. Selain itu, aku juga harus segera menyelesaikan kesalahpahamanku dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar