Selasa, 11 April 2017

Jangan Bilang Aku Cantik!

Pada satu titik di masa lalu, pernah ada keinginan agar waktu berjalan cepat, untuk segera menikmati momen di satu waktu mendatang. Tapi ketika momen itu telah dilalui, masa depan akan menciptakan bunga-bunga rindu untuk kembali menikmatinya. Momen terbaik itu, niscaya akan dijalani, lalu menjadi sebuah kenangan. Mengurung rasa di satu waktu yang tak bisa dikendalikan.

Rena Mandalika, kini merasakannya. Di satu masa yang lampau, ia pernah berharap segera dipertemukan dengan lelaki yang ditakdirkan Tuhan menjadi belahan jiwanya. Ia senantiasa mengadu, sambil berharap-harap cemas. Hasratnya menggebu-gebu. Hingga dipertemukanlah ia dengan Sigi Prayoga, pemuda yang dalam sekejap meluluhkan hatinya, menikahnya.

Hidup di masa itu, benar-benar membuat Rena merasa beruntung. Bagaimana tidak, Sigi adalah lelaki yang tampan dan mapan. Sosok yang menjadi dambaan bagi setiap wanita. Tapi di luar semua keunggulan itu, yang membuat Rena semakin luluh adalah keromantisan Sigi. Suaminya itu suka menghadiahinya bunga, cokelat, boneka, disertai sanjungan yang membuai.

Tak akan pernah Rena lupakan, kala suatu hari di masa bersama, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Sigi pulang dengan serangkaian kejutan. Suaminya itu datang mengendap-endap. Begitu senyap. Ia lalu mendekati Rena di depan cermin, kemudian menutup mata sang istri dengan dua telapak tangannya.

“Sigi. Itu kau kan sayang?” Rena pura-pura menebak, sambil berharap perlakuan romantis selanjutnya.

“Aku tahu, kau tak akan salah menebak,” kata Sigi, tanpa menarik sekapan tangannya di mata sang istri. “Tapi apa kau tahu perempuan tercantik yang pernah kulihat, yang membuatku tak akan bosan-bosan memandanginya?”

Rena menggeleng, meski ia yakin, tak ada perempuan lain yang pernah dipuji oleh sang suami selain dirinya.

“Itu, kau!” tutur Sigi, sembari perlahan mengurai sekapan tangannya.  “Lihatlah lengkungan bibirmu yang manis itu, hidungmu yang mancung, mata jernihmu yang dinaungi alis yang sempurna alami, gigi rapimu yang diselingi taring yang unik, pipi tembammu yang menyembunyikan sepasang lesung pipi. Kau sungguh cantik!” sambungnya, sambil menyodorkan serangkai bunga di depan sang istri.

Rena menyambut bunga dari sang suami, kemudian menunduk. Ia merasa malu sendiri kala memandang dirinya di dalam cermin. Meski nilai sanjungan itu sungguh tak terkira, ia masih saja tak percaya diri di depan suaminya. Ia khawatir itu hanya pujian buta. “Apa kau mencintaiku hanya karena kau melihatku cantik?”

“Ya!” tegas Sigi, singkat.

“Bagaimana jika suatu saat aku menua dan tak cantik lagi di matamu?” telisik Rena lagi.

“Aku yakin, kecantikanmu tak akan pernah luntur dimakan waktu!” pungkas Sigi, bermaksud memudi.

Rena pun tersenyum, sambil bergelayut di tangan sang suami.

Dan kini, apa yang dikhawatirkan Rena, benar-benar terjadi. Di tahun ke 15 pernikahan mereka, Sigi pergi meninggalkannya setelah melalui serangkaian cekcok yang tak jelas sebabnya. Sigi pergi setelah watak romantisnya perlahan-lahan menyusut, kemudian benar-benar lenyap. Sigi pergi setelah keramahannya menghilang, seiring dengan menumpuknya rahasia yang ia tutup-tutupi.

Rena hanya bisa merenungi perubahan nasibnya. Ia tak menyangka, rangkaian kata-kata manis suaminya, dikalahkan juga oleh waktu. Padahal, cintanya masihlah seperti dulu. Tak ada yang berubah. Isi hatinya masih terserah penuh kepada sang suami. Jelas, tak ada yang bisa disalahkan, kecuali bahwa rupa-fisiknya sudah termakan waktu. Ia semakin menua, hingga kecantikannya pun luntur.

Kesimpulannya, Sigi pergi meninggalkannya untuk wanita lain yang lebih muda.

Atas semua kenangan itu, kini, Rena masih hidup dengan kepiluan yang mendalam. Tapi sedikit demi sedikit, perhatiannya mulai teralihkan pada Juwita, anak semata wayangnya, hasil penikahan dengan Sigi.

“Kau sungguh cantik, Nak!” puji Rena, setelah menyadari anaknya itu murung sepanjang hari.

“Ibu bohong! Jangan bilang aku cantik!” tegas Juwita yang kini duduk kelas II SMP.

Rena yang tengah menyisiri rambut sang anak di depan cermin, sedikit tersentak mendengar balasan itu. “Ibu tidak bohong, Nak. Kau memang cantik!”

Juwita tampak bersungut-sungut. “Ibu bohong! Tadi di sekolah, para lelaki, teman sekelasku, bilang kalau aku jelek!” keluhnya.

Seketika, Rena tahu, perasaan anaknya mulai terguncang oleh komenter-komerntar dari lawan jenis. Sebuah keadaan yang juga pernah dialaminya di masa puber. “Kau jangan hiraukan kata-kata para lelaki, Nak. Kalau mereka bilang kau jelek, bisa jadi mereka hanya mempermainkanmu. Begitu pun kalau mereka mengatakan kau cantik.”

“Tapi sepertinya mereka berkata jujur, Bu. Aku memang jelek,” sanggah Juwita.

“Tidak, Nak. Para lelaki selalu punya alasan tersembunyi untuk mengatakan seorang perempuan jelek atau cantik,” jelas Rena.

Juwita masih belum puas atas penjelasan ibunya. “Terus, bagaimana aku bisa yakin, Bu, kalau aku cantik, sedangkan para lelaki mengataiku jelek!”

“Percayalah padaku, Nak, kau itu cantik. Aku lebih jujur. Aku lebih tahu, karena aku ibumu, aku seorang perempuan!” tegas Rena.

Juwita tak lagi bernafsu membalas. Hanya terdiam, meresapi nasihat ibunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar