Senin, 10 April 2017

Boneka Kucing

Dua hari yang lalu, aku masih sempat menemuinya di bangku taman kampus, tepat di hari wisudanya.

“Selamat,” ucapku, sambil menyalami tangannya.

Dia tersenyum bahagia. “Terima kasih. Cepatlah menyusul.”

Aku balas tersenyum. “Iya. Akan kusegerakan,” kataku, lalu menyodorkan sebuah boneka kucing berukuran kecil padanya. Benda itu kumaksudkan sebagai kenang-kenangan, sebelum ia benar-benar pergi. “Terimalah,” pintaku.

Seketika, ia tampak keheranan. Dengan sikap segan, tangannya perlahan menyambut pemberianku. “Oh, aku tahu maksudmu,” tuturnya, sembari tertawa pendek. Ia pun pergi, berlalu dengan tingkah yang menggemaskan.

Aku yang sebenarnya bermaksud memperjelas sesuatu yang sangat serius, hanya berdiri mematung. Nyaris saja kututurkan isi hati yang telah kupendam selama dua tahun lebih. Tapi lagi-lagi, lidahku kelu waktu itu. Aku bodoh, tak segera menahannya. Hingga sore harinya, ia pun pergi ke kota seberang, di tempat yang jauh, tanpa mengabariku.

Seharusnya, semua telah berakhir sejak kepergiannya tanpa pamit. Sudah semestinya aku tak bertanya-tanya lagi tentang bagaimana perasaannya padaku. Tak perlu lagi aku mencemaskan atau merindukannya. Apalagi, nanti, di rentang waktu yang panjang sejak kami berpisah, aku yakin ia akan dipertemukan dengan lelaki lain, yang lebih baik untuknya.

Tapi melupakan, jelas tak semudah mengingat. Aku masih ragu, akan bisa melepaskan diri dari bayang-bayangnya. Tentang caranya terdiam dan bertingkah, semua masih membekas di memoriku. Bahkan aku masih mengingat jelas tentang empat buah tahu lalat di wajahnya. Semua terukir begitu dalam, dan mungkin akan kubawa sampai mati. 

Kini, aku benar-benar hidup dalam kebodohan. Mengenang kisah yang tak pernah disepakati sebagai cerita bersama. Mungkin, aku saja yang menganggap kebersamaan kami berdua, begitu penting. Aku saja yang terlalu melebih-lebihkan kenyataan. Sedangkan dia, mungkin menganggap semuanya biasa saja, hingga kenangan itu, menyaru di benaknya, kelak.

Atas kenangan yang masih memerangkapku, dia jelas tak pantas disalahkan. Semua kesalahan, ada pada diriku. Akulah lelaki pengecut yang menggantung perasaan di antara waktu-waktu yang tak menentu. Akulah lelaki pendusta yang tak berani mengakui isi hati di hadapan wanita yang terpuja. Hingga semua berubah menjadi bumerang bagiku.

Entah sampai kapan aku harus begini. Mungkin sepanjang  waktu, selama aku masih memendam rasa yang tak terucap. Sebuah rasa yang membuat kisahku dengannya, tak pernah benar-benar dimulai, juga tak pernah benar-benar berakhir. Mengambang di antara tanda tanya, hingga nanti kami berjumpa lagi, lalu memperjelas kisah yang tertunda. 

Dan sore ini, kala aku masih merenungi nasibku, kau, salah satu teman baikku selain dirinya, datang menghampiri. Wajahmu terlihat sangat ceria, sebagaimana dirinya, mahasiswa yang baru saja menanggalkan status sebagai mahasiswa. “Hai,” sapamu dengan suara manja. “Lagi bikin apa? Kok bengong sendiri?”

Aku menoleh padamu. Dan sebagai teman baik, sebisa mungkin aku tampil antusias. “Tak lagi apa-apa. Aku hanya memikirkan kapan aku akan diwisuda juga.”

Kau pun tertawa. “Kau semangat saja. Selama tekun mengurus, semua akan berjalan dengan baik,” katamu, tampak berusaha menyemangatiku. “Oh, iya, kau belum secara langsung memberiku selamat.”

Lagi-lagi, aku harus pura-pura memampang wajah cerah. “Baiklah, selamat!”
“Itu saja?” tanyamu.

 “Memangnya, harus apalagi?” Aku balik bertanya.

“Malam ini, aku akan pergi ke kota seberang. Artinya, kita akan berpisah. Kau tak ingin mengucapkan kata-kata yang lebih berarti daripada itu?” tanyamu lagi. Kau pun tampak sangat serius menunggu jawaban dariku.

Jelas, aku tak paham arah pembicaraanmu. “Maksudmu?”

“Maksudku…,” suaramu tertahan sejenak. “Maksudmu, setelah sekian lama kita bersama, apakah perasaanmu… Apakah kau tak merindukanku saat aku jauh di sana?”

“Jelas saja aku merindukanmu. Sebagai teman baik, aku tak akan melupakanmu,” balasku.

“Hanya itu?” Sikapmu tampak semakin aneh.

“Ya, memang harusnya seperti itu. Memangnya, kau ingin aku bagaimana?” tanyaku kembali.

Tanpa berkata-kata lagi, kau pun pergi, meninggalkan aku seorang diri, bersama sebuah boneka yang keberikan padanya kemarin, pada dia, teman baik kita. 

Perlahan, aku pun tahu bagaimana rumitnya persahabatan di antara kita bertiga.

Kini, aku hanya bisa membatin: Maafkan aku. Hatiku bukan untuk siapapun, bukan juga untukmu. Hatiku masih terperangkap dan tak bisa berpaling darinya.

Posting Komentar