Senin, 27 Maret 2017

Meja Makan

Pikiran Roni masih disesaki bayang-bayang tentang makanan lezat di hari-hari kemarin. Masih terngiang-ngiang di kepalanya tentang hidangan lengkap yang membuat ia bisa bersantap-ria bersama istri barunya. Tapi karena citra makanan banyak yang berubah, selera makannya pun menurun. Ia tak bernafsu lagi mejamah seisi meja sampai begah. 
 
Sebenarnya, seisi meja makan masih memenuhi unsur-unsur makanan sehat. Kualitas rasanya saja yang belakangan ini diturunkan. Tak ada lagi hidangan dangan cita rasa terbaik. Yang ada hanya nasi dengan warna dan aroma yang tak semenggairahkan seperti sebelumnya. Lauk-pauk pun hanya ada ikan asin dan telur goreng, juga ada sayur kangkung dan buah pisang. 

Penurunan standar kelezatan makanan keluarga kecil Roni, jelas bukan karena perubahan selera. Bagaimana pun juga, Roni adalah penggemar berat makanan-makanan impor. Masalahnya lebih karena pendapatan Roni tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan lidahnya. Sekitar dua bulan yang lalu, ia tidak lagi bekerja di perusahan, tempatnya dahulu mengais rezeki.

Di sisi lain, istri Roni, Rahmita, malah tak mempersoalkan kualitas sajian makanan mereka. Bisa dikatakan, Roni lebih pilih-pilih dalam soal makanan dibanding sang istri. Istrinya itu, sama sekali tak banyak menuntut. Bahkan, sebagai juru masak, ia sangat pengertian dan cerdas menyesuaikan jumlah uang belanja dengan kebutuhan makanan. 

Tapi, biarpun tak ada keluhan dari istrinya, Roni tetap merasa bersalah. Sebagai seorang suami, ia merasa bertanggung jawab atas kenyamanan hidup istrinya. Namun apa daya, nasibnya berkata lain. Terpaksa, setelah merahasiakan statusnya di perusahaan selama ini, ia pun mencoba mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Ia tak ingin menanggung dosa dua kali lipat.

“Ibu, maafkan aku, uang belanja yang kuberikan pada Ibu belakangan ini, jauh dari cukup,” aku Roni.

Rahmita mengalihkan pandangan pada suaminya. “Tak apa-apa, Pak. Toh, itu masih cukup untuk kebutuhan makan kita sehari-hari.”

Mendengar jawaban istrinya, rasa bersalah Roni belum juga sirna. “Tapi aku tetap merasa tak bertanggung jawab. Ibu selayaknya menyantap makanan dengan kualitas yang lebih baik.”

“Yang penting bersyukur, Pak. Kalau bersyukur, makanan pasti terasa enak. Kalau pun Bapak ingin ada hidangan yang lebih lezat, ya nantilah, kalau Bapak dapat bonus lagi dari perusahaan,” kata Rahmita.

“Tapi, Bu…” Suara Roni tertahan, “Sebenarnya, aku tak lagi bekerja di perusahaan dua bulan belakangan. Aku dipecat.”

“Apa?” Rahmita tersentak mendengar penuturan sang suami. “Jadi selama ini, Bapak berbohong padaku?”

Roni mengangguk takut, seperti maling yang kepergok sedang beraksi.

“Harusnya Bapak jujur saja. Kita ini kan baru menikah. Kalau persoalan Bapak yang penting begini saja dirahasiakan, maka bisa kita saling mengerti,” keluh Rahmita.

“Maafkan aku, Bu,” sesal Roni.

Rahmita terdiam sejenak. Seperti berusaha mencerna baik-baik kenyataan yang diungkapkan suaminya. Tak lama kemudian, ia mengutarakan nasihatnya. “Aku tak pernah mempermasalahkan pendapatan dari pekerjaan Bapak. Kalaupun usaha kerja Bapak tidak mencukupi kebutuhan kita, kan aku bisa kerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Kita ini suami-istri, Pak. Segala masalah harus kita bicarakan dan kita hadapi bersama.”

Suasana senyap beberapa saat. Roni tampak masih meratapi kesalahnnya, sedangkan istrinya tampak kehabisan kata-kata untuk menasihati.

“Ngomong-ngomong, kenapa Bapak dipecat?” tanya Rahmita.

Roni jadi kikuk. “Anu, Bu, atasanku di perusahaan kesal karena aku menolak menandatangani blangko pencairan dana perusahaan untuk kegiatan fiktif. Aku takut makan uang haram, Bu. Kurasa, itu tindakan yang benar,” katanya.

Istinya mengangguk. Raut kekaguman tampak di wajahnya kala mengatahui suaminya benar-benar pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. “Aku benar-benar bersyukur punya suami seperti Bapak. Setidaknya, biarpun hidup kita sederhana, bahkan miskin sekalipun, yang penting makanan kita halal.”

Roni pun tersenyum mendengar pujian istrinya. Kepercayaan diri dan wibawanya sebagai suami, bangkit kembali. “Terima kasih banyak, Bu. Semua ini juga karena Ibu yang ajar,” katanya, sambil terus menyembunyikan dosa-dosanya, bahwa ia dipecat karena ketahuan menggelapkan uang perusahaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar