Senin, 27 Maret 2017

Bukan Tokoh Cerita

Aku tak menyangka kita akan jadi teman dekat. Kau tampak cuek, sedangkan aku pemalu. Tak ada titik temu untuk kita saling berkomunikasi. Tapi semua terjadi tanpa rencana. Tiba-tiba saja, pada suatu hari, kau  bergegas menghampiriku sambil menenteng sebuah buku. Kau lalu menyampaikan dugaanmu, bahwa akulah sang pemilik buku itu. Tapi jelas, bukan. Kukira kau hanya mengarang.
 
Dari soal buku itulah, kita akhirnya punya alasan untuk saling berbagi pesan. Awalnya, kita cuma sanggup berbagi lirikan dan senyuman. Beberapa hari selanjutnya, kita pun mulai berani berbagi salam dan sapa. Dan pada puncaknya, setelah kita bertukar nomor telepon dan alamat akun media sosial, kita akhirnya resmi menjadi teman dekat. Segala hal, bahkan yang remeh-temeh, selalu suka kita perbincangkan.

Seiring waktu, lingkungan pergaulan kita pun melebur. Temanku, menjadi temanmu juga. Tapi sebaliknya, tidak. Sedari dulu, kau tak punya teman dekat di kampus. Mungkin itu karena sikapmu yang tertutup dan lebih suka menyendiri. Bisa dibilang, akulah teman dekat pertamamu. Sedangkan Rino, seorang teman terbaikku, adalah teman dekat keduamu. Hanya kita bertiga.

Di antara kita bertiga, kau dan akulah yang lebih dekat. Rino, entah kenapa, tak bisa melebur dengan cara kita bergaul. Tapi kuduga, itu terjadi kerena ia masih menyimpan trauma tentang masa lalunya, tentang seseorang yang ia lukai empat tahun sebelumnya, kala masih berada di bangku kelas III SMA. Seseorang wanita yang ditinggalkannya tanpa alasan. Hingga setelahnya, ia tak berselera lagi membangun relasi apapun dengan seorang wanita, sebab ia tak ingin jadi peluka.

Aku tak terlalu tahu detail cerita tentang masa lalu Rino. Lagi pula, ia memang tak mau terbuka dalam membagi cerita hatinya itu. Sebagaimana orang yang berusaha melupakan kenangan pahit, menceritakannya adalah tindakan yang bodoh, yang malah bisa membuat kenangan itu bergentayangan. Tapi satu pelajaran yang aku tahu darinya, bahwa menggantungkan dan meninggalkan seorang wanita tanpa alasan, adalah cara yang salah.

Tanpa Rino, kita tetap asyik melalui waktu berdua. Dalam kebersamaan itu, aku bisa membaca keanehan pada sikapmu. Setiap kali kita bersama, raut wajahmu selalu tampak kegirangan. Kau suka berbagi apa saja denganku, meski tanpa kuminta. Bahkan, kau jadi tak segan dan suka meminta bantuan padaku, termasuk untuk hal yang remeh-temeh. Itu jelas membuatku berarti. Dan, dari semua pertanda itu, aku sampai pada satu kesimpulan, bahwa kau jatuh hati pada temanmu sendiri: aku.

Tanda-tanda yang kubaca darimu, tak lantas membuatku melakukan tindakan yang semestinya. Atas apa yang telah kupelajari dari kisah Rino, aku tak ingin menyatakan perasaan padamu. Aku takut melukaimu dan diriku. Jadinya, sepanjang setahun persahabatan kita, semua berlalu begitu saja. Bahkan setelah kita memperoleh gelar sarjana, aku sudi meninggalkanmu sepanjang dua tahun, demi melanjutkan studiku di luar negeri.

Keputusanku meninggalkanmu untuk waktu yang lama tanpa ada beban apa-apa, adalah caraku menjaga hatimu. Aku pergi bukan untuk selamanya, tapi hanya sejenak, lalu kembali dengan mimpi-mimpi yang besar. Aku pergi dengan membawa satu rencana, bahwa aku akan pulang, lantas menemuimu segera untuk memulai masa depan kita dalam kepastian: menikah. Itulah cara terbaik yang akan kulakukan. 

Dan hari ini, setelah studiku selesai, aku pun bergegas menemuimu. Aku yakin, setelah sekian lama kita tak berbagi kabar, juga tentang kedatanganku yang tiba-tiba, kau akan terkejut dan terkesima. Akan kuceritakan semua pencapaianku padamu, bahwa aku telah memperoleh gelas master di bidang arsitektur dan telah bekerja di sebuah perusahaan besar. Pada saat itu pula, akan kuminta pendapatmu tentang kepastian masa depan kita, dengan semua bekal yang kumiliki.

Sesampainya di halaman rumahmu, segera kuparkirkan mobil yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Setelah itu, kuamati baik-baik tampilanku di cermin, sembari mengatur emosiku agar sanggup menuturkan mimpi besar yang sekian lama kupendam. Selanjutnya, aku melangkah dengan hati-hati dan penuh harap, menuju ke gerbang pintu rumahmu. Berdoa semoga kau segera menyibak daun pintu dan menjumpaiku dengan penuh kesenangan.

“Ringgo?” tebak seorang lelaki di pelataran depan rumahmu. Dahinya berkerut. Matanya menyorotku tajam. “Kamu Ringgo kan?”

Aku mengangguk pelan, sambil mencari gambaran wajahnya di memoriku. Dan setelah kuterka baik-baik, aku masih mengenali wajah yang telah banyak berubah itu, yang kini ditumbuni rambut di sana-sini, “Rino?”

Tawanya pun, lepas. Dia lalu bergegas memelukku. Tak lama kemudian, ia mengurai pelukannya, lalu memandangiku dengan penuh semangat. “Kau terlihat semakin tampan dan mapan kawan!” tegasnya, sambil menepuk-nepuk kedua lenganku.

“Bisa saja. Akulah yang seharusnya mengutarakan pujian itu untukmu,” balasku.

Kami kembali saling pandang-memandangi dengan segudang tanya di benak masing-masing. Kebingungan tentang persoalan apa yang sebaiknya dibahas terlebih dahulu. 

“Ada urusan apa di sini?” tanyaku, seakan kehadirannya adalah sebuah keanehan. 

Wajahnya pun tampak kebingungan. Mengisyaratkan kalau ada yang salah dengan pertanyaanku.

Aku lalu menyadari kalau kalimat pertanyaanku kurang tepat, “Maksudku, kenapa bisa kebetulan kita berjumpa di rumah ini?”

Senyumnya pun merekah. Seperti hendak mengutarakan sebuah kabar bahagia, “Kamu belum tahu?”

“Tahu apa?” Aku jadi penasaran.

“Itulah kalau kau kelamaan di negeri bule sana,” katanya, lalu berdeham, melegakan tenggorokannya, “Minggu depan, aku dan Rina akan menikah.”

“Maksudmu?” tanyaku seketika, seakan tak yakin mendengar jawaban itu darinya. Tepatnya, aku tak ingin mendengarnya.

“Ya, kami akan menikah.” Suaranya terdengar tegas.

Perasaanku pun terguncang, hingga tak sadar mengulik dengan tanya yang tak sopan. “Kok bisa, tiba-tiba…?”

“Tak ada yang tiba-tiba kawan. Kau masih ingat tentang kisah cintaku di bangku SMA, yang pernah kuceritakan padamu, kan? Nah, perempuan yang kumaksud itu adalah Rina,” jelasnya, dengan bola mata yang berseri-seri.

Aku semakin tak mengerti jalan ceritanya. “Bukannya kalian telah berpisah dan saling membenci? Bukannya orang tuamu menolak keras jika kalian menjalin hubungan?”

“Aku juga tak menyangka orang tuaku akan memberi restu. Ya, alasannya, mungkin karena sekarang aku telah lulus kuliah dan punya pekerjaan yang lumayan menjamin. Kau tahulah, orang tua pasti tak menginginkan jika kehidupan anak dan menantunya, juga cucu-cucunya, berada dalam kesengsaraan,” tuturnya dengan raut wajah bahagia. “Waktu bisa mengubah segalanya kawan.”

Tiba-tiba, kau muncul di balik pintu. “Ringgo?” tebakmu, dengan bola mata yang berkaca-kaca.

“Hai, Rina,” balasku, canggung.

Kita pun bersalaman.

Kini, kulihat lagi senyummu yang indah. Tapi aku tak lagi memaknainya secara berlebihan. Kuajarkan diriku untuk menilainya dengan biasa saja. 

“Kau tak ingin memberikan selamat pada dua orang sahabatmu yang akan menikah?” tawar Rino.

Dengan perasaan canggung yang sulit kugambarkan, aku pun kembali menyalami dirimu dan dia, sambari mengucapkan selamat atas rencana pernikahan kalian. Sebuah kenyataan yang menyadarkanku, bahwa sebenarnya, aku tak pernah menjadi tokoh cerita dalam kisah ini. Aku hanya selingan. Hanya perantara untuk mengaitkan kisah cinta kalian yang sempat terputus. Dan kini, kusadari, aku seharusnya tak menempatkanmu sebagai tokoh dengan kata ganti orang kedua dalam sudut pandang ceritaku.

“Oh, ya, ada persoalan penting apa sampai kau harus datang sepagi ini?” tanya Rino tanpa beban apa-apa. Sebuah pertanyaan yang menurutku kurang berkenan.

Aku tersenyum, dengan terpaksa. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya berencana mengunjungi teman lama. Dan, ya, kebetulan sekali, aku menjumpai kalian berdua, pasangan serasi, dua teman baikku, di tempat yang sama,” pungkasku, dengan gejolak hati yang sedikit demi sedikit, harus kuredam.

Tidak ada komentar: