Selasa, 07 Februari 2017

Pelajaran Pertama

Usia Budiman terbilang muda saat menikah, baru 21 tahun. Tapi itu bukanlah sebuah keanehan. Di kampungnya, malah ada beberapa lelaki yang menikah di usia belasan tahun. Yang aneh dari pernikahannya itu adalah tentang pasangannya. Dari banyak gadis jelita yang ia kenal, entah mengapa, cintanya malah tertambat pada seorang janda beranak satu yang usianya lebih tua tujuh tahun, Martina.
 
Jelas tak ada yang menduga Budiman akan mengorbanankan ketampanan dan kemapanannya pada seorang janda bertampang pas-pasan. Karena itu, sebelum menikah, ayahnya turut memperingatkan agar ia berpikir ulang. Ayahnya takut jika cintanya kepada sang istri hanyalah buaian sesaat dan akan luntur seiring waktu. Apalagi sudah jadi anggapan umum kalau perempuan lekas tua dibanding laki-laki.

Apapun kata orang-orang, Budiman masih saja tak peduli. Ia tetap kukuh menikahi Martina. Hatinya telah terpaut, sebagaimana pepatah bahwa cinta itu buta. Tiap kali ada orang mempertanyakan tentang keputusannya, maka cintalah yang selalu menjadi alat penangkisnya, tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia selalu berucap bahwa cinta tak memandang apapun. Cinta tak butuh alasan, katanya.

Tiga tahun berlalu di awal pernikahannya, semua berjalan seperti seharusnya. Budiman jadi suami yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai karyawan perusahaan. Di sisi lain, istrinya mengurus rumah tangga dan anak dengan telaten. Sehari-hari, mereka larut dalam rutinitas seperti itu, sampai lupa menghibur diri dan bermanja-manjaan.

Sampai akhirnya, di pertengahan tahun ke empat pernikahan mereka, terjadilah peristiwa yang lebih mengejutkan daripada keputusan menikah dahulu. Tanpa sebab yang jelas, istrinya pulang kampung, ke rumah orang tuanya, tanpa pamit. Pergi hingga lebih sebulan. Bagi warga desa, itu adalah pertanda kerelaan untuk bercerai. Maka, muncullah desas-desus kalau keluarga mereka mulai tak harmonis.

Setelah kepergian istrinya, kesepian pun melanda Budiman. Tapi beruntung, di rumah, ia masih punya seorang teman mengobrol. Ada Masdi, ayahnya yang sudah tua renta, seorang pensiunan guru. Umurnya sekitar 62 tahun. Uniknya, lelaki berusia lanjut itu memiliki jalan jodoh yang berbeda dengan Budiman. Ia terlambat menikah, hingga lambat pula dikaruniai anak. Saat menikah, istrinya yang cantik-jelita berusia 19 tahun, sedangkan ia telah berusia 37 tahun.

Sikap Budiman yang terus berubah setelah kepergian sang istri, lambat-laun membuat ayahnya curiga. Saat mereka tengah sarapan pagi dengan hidangan seadanya, ayahnya pun mulai mempertanyakan tentang keadaan keluarga kecilnya. “Sudah hampir sebulan istrimu tak pulang. Kalian ada masalah?” tanyanya, sambil sesekali menyeruput secangkir kopi hitam.

Budiman tersentak mendengar pertanyaan itu. Apalagi, selama mereka hidup serumah, tak pernah sekalipun ayahnya mempertanyakan persoalan asmaranya semasih muda, maupun persoalan rumah tangganya setelah menikah. “Tak ada apa-apa.”

“Syukurlah kalau begitu,” ujar ayahnya. “Tapi belakangan, gosip-gosip tetangga semakin kurang enak didengar. Ada baiknya kau sampaikan pada istrimu untuk segera pulang. Itu demi menjaga nama baik rumah tanggamu di mata orang lain.”

Seketika, raut wajah Budiman berubah jadi masam. Ia lalu meletakkan secangkir kopinya di atas meja. Terdengar kasar. Sepertinya ia tak suka komentar dan nasihat ayahnya tentang keluarga kecilnya. “Keluarga kecilku baik-baik saja, Pak. Aku bisa menjaga keluargaku dengan segara kekurangan yang ada. Aku tahu bagaimana jadi suami yang baik. Mungkin Martina hanya butuh waktu lebih lama dengan orang tuanya.”

Ayahnya berdeham. “Aku tahu kau paham bagaimana tanggung jawab sebagai suami. Aku hanya mengingatkanmu, Nak.”

“Mengingatkan?” sergah Budiman. Nada suaranya meninggi. “Aku tak pernah lupa, Pak. Tak usah ingatkan aku. Ingat-ingat saja kegagalan Bapak menjaga rumah tangga, hingga akhirnya Ibu pergi.”

Untuk kesekian kalinya, Budiman menyalahkan ayahnya. Ia memang ditinggal pergi ibunya saat masih berusia 3 tahun. Karena itu, ia tak ingat betul bagaimana rupa sang ibu. Yang ia tahu, ibunya adalah wanita muda yang cantik, sebagaimana tampak di foto-foto dan terbayang dari cerita-cerita ayahnya sejak dulu.

“Aku mengaku gagal, Nak. Tapi kan sudah kuceritakan padamu sebab-musababnya sampai Ibumu pergi,” tutur ayahnya. “Aku tak pernah menginginkan itu, Nak.”

Budiman terdiam. Tak membalas. Ia sedikit menyesal telah menyalahkan ayahnya untuk ke sekian kalinya. Apalagi, jauh-jauh hari sebelumnya, ia telah mendapatkan penjelasan dari sang ayah tentang sebab hingga ibunya pergi: cinta ibunya tak lagi bermekaran seiring penuaan ayahnya, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, juga sang ibu yang terlalu penuntut demi gaya hidup kekinian.

Atas kisah rumah tangga ayahnya itulah, Budiman menikah dengan Martina, seorang wanita yang sederhana. Ia ingin menghindari nasib buruk serupa ayahnya: ditinggal pergi sang istri. Ia tak ingin rupa-wajah memalingkan cinta istrinya pada yang lain. Ia tak ingin masalah penghidupan melunturkan harmoni keluarga. Tapi kini, semua itu hanya keinginannya. Istrinya telah pergi dan entah kapan kembali.

“Kau harus tahu, Nak, pelajaran pertama bagi seorang yang telah menikah adalah saling menerima satu sama lain. Mencintai kelebihan dan kekurangan pasangan. Jangan ada yang merasa lebih berharga di antara yang lain. Dua-duannya harus saling menghargai,” kata ayahnya lagi.

Budiman bergeming. Tapi diam-diam, ia meresapi juga nasihat ayahnya. Selama ini, ia memang sering menempatkan dirinya lebih berharga dibanding sang istri. Di pikirnya, sebagaimana penilaian orang lain, istrinyalah yang beruntung bersuamikan dirinya, sedangkan ia patut merasa biasa saja beristrikan Martina.

“Bagi yang telah menikah, anggaplah setiap hari adalah hari pertama pernikahan. Jangan sungkan untuk saling memuji,” sambung ayahnya.

Beberapa detik terdiam, Budiman pun melontarkan sebuah pertanyaan pamungkas. “Jika ayah tahu semua itu, kenapa Ibu tetap pergi?”

Ayahnya merenung beberapa saat. Seperti berdiskusi dengan perasaan dan kenangannya sendiri. Setalah itu, ia pun berucap dengan tutur kata yang terdengar berat, “Itu karena ibumu merasa dirinya lebih berharga dibanding aku. Ia merasa biasa saja menjadi istriku, dan dipikirnya, akulah yang harus merasa beruntung mendapatkannya. Aku tak bisa mengubah sikapnya, dan aku tak bisa memaksa ia untuk setia,” jawabnya. “Cinta itu harus dengan keadilan, Nak.”

Budiman takzim. Diam-diam, ia berpikir untuk segera menjemput istrinya, dan meminta maaf.

Tidak ada komentar: