Rabu, 15 Februari 2017

Arti Menunggu

Sepanjang lima tahun lalu, kutinggal pergi kampung halamanku, beserta semua orang yang kukenal sejak lahir. Aku menetap di kota demi menyelesaikan masa kuliah di jurusan keguruan. Dengan sabar, aku menjalani pola hidup yang jauh berbeda. Tapi satu hal yang tetap kupegang erat, bahwa aku tetaplah pemuda desa dengan seperangkat prinsip hidup. 
 
Kadang, kekhawatiran juga menyerangku. Sudah jadi rahasia umum, kalau pergaulan di kota, penuh dengan godaan. Aku takut terbuai dan terseret arus kehidupan yang kebablasan itu. Apalagi, jauh dari orang tua, memberiku peluang untuk berbuat apa saja yang kumau. Tapi beruntunglah, aku berhasil pulang, masih dengan pribadi yang sama. 

Sikapku pada lawan jenis pun, tak berubah. Dugaan orang-orang bahwa kehidupan kota akan menggodaku untuk membuang waktu secara tak berguna dengan sejumlah perempuan, juga berhasil kutepis. Aku masih seperti yang dulu, lelaki yang dicap cupu dan mematematikakan perasaan. Seseorang yang memilih fokus mewujudkan cita-cita, sampai tak ada waktu menyesatkan diri dalam istilah cinta. 

Lima tahun kepergianku, bukanlah waktu yang singkat. Peluangku besar untuk mencatat nama berberapa wanita di daftar kenanganku. Membanggakan, lalu menyombongkannya. Tapi aku memilih jalan lain. Aku lebih suka mengisi memoriku dengan bacaan-bacaan dan meteri kuliah. Sampai akhirnya, aku menyelesaikan masa studiku, tanpa ada cerita tentang perempuan.

Kesendirianku sepanjang waktu berlalu adalah kesengajaan. Itu adalah aksi senyapku menuju perjumpaan yang pasti. Aku selalu yakin, ada seseorang yang melakukan hal yang sama untukku: menunggu. Entahlah, aku tak tahu siapa dan di dibelahan dunia mana ia berada. Aku hanya meyakininya, bahwa setiap orang mendapatkan balasan yang adil untuk perjuangannya.

Sepanjang penantian pula, aku sering mengkhayalkan menjadi diri seseorang yang menunggu untukku. Aku merasa-rasa, betapa beratnya ia menanti, selama aku mencari. Kuyakini, sunggguh, kami merindu, tanpa pernah saling mengenal. Jelas, aku tak ingin menghianatinya diam-diam. Aku rela berkorban untuknya, sebesar ia memberi pengorbanan untukku, demi kebersamaan kami.

Sekali-kali, kala aku sadar bahwa waktu telah banyak membawa perubahan, ketakutan pun menghantuiku. Takut jika takdirku diubah karena sikapku yang lebih suka berkhayal tentang perjumpaan terindah, tapi tak ada aksi nyata untuk menyegerakannya. Bagaimana pun juga, dia yang entah siapa, adalah perempuan yang sabar menanti pertanyaan, dan aku adalah lelaki yang harusnya bernyali.

Maka, berselang tiga bulan sepulangku dari kota, aku pun memberanikan diri memperjelas takdirku, di antara banyak kemungkinan ke mana arah hatiku berlabuh. Aku meminang seorang perempuan desa, dan kami pun menikah. Dia adalah tetanggaku sendiri, seseorang yang tak pernah kurencanakan untuk menjadi tambatan hatiku.

Begitulah akhirnya. Semua serba tak terduga. Entah bagaimana bisa, di perjumpaan kami sepulang aku dari kota, aku merasa telah lama merindukannya. Ketakutanku pun memuncak kalau-kalau hatinya direnggut sosok yang lain sebab aku menggantungkannya lebih lama lagi. 

Dan akhirnya, dia adalah wanitaku, sosok tercantik yang sepanjang waktu telah kuperjuangkan.

“Apa Kakak tak pernah dekat lebih dari teman dengan seorang wanita pun?” Ia bertanya dengan nada manja, saat kami tengah bersantai sambil menonton acara talkshow kesukaannya di layar televisi.

Aku sedikit kaget mendengar pertanyaannya. “Tak pernah. Memangnya kenapa?”

Dia merebahkan kepalanya di bahuku. “Tak apa-apa. Aku hanya penasaran saja kenapa Kakak tak pernah melakukannya,” katanya, tanpa ada kesan menelisik. 

Secara tersirat, aku memaknai jawabannya sebagai sebuah pertanyaan. “Alasannya? Itu karena aku hanya ingin memiliki kenangan bersamamu,” jelasku, sembari merangkulnya erat-erat. “Kurasa, aku berlaku tak adil jika menduakanmu dalam kenangan.”

Dia terdiam beberapa saat, kemudian mengutarakan sesuatu yang tak kuduga, “Tapi aku punya kenangan dengan lelaki lain di masa lalu.” Ia lalu menengadah, menatapku tajam. “Kakak tak merasa sikapku itu tak adil kan?”

Perasaanku tiba-tiba berkecamuk. Kulepaskan rangkulanku padanya. Aku hendak marah, tapi tak siap melakukannya tiba-tiba. Bagaimana pun juga, kami baru saja menikah. Menghancurkan angan-angan indahku bersamanya di awal waktu pernikahan adalah sebuah ironi, sebab cintaku tengah mekar-mekarnya. “Siapa lelaki yang kau maksud?” tanyaku, sedikit tegas, sambil memandangi bola matanya dalam-dalam.

Dia malah tertawa. Seakan tema perbincangan yang sensitif dan bukan pada waktu dan tempatnya itu, patut dianggap lelucon. “Cemburu, ya?” ledeknya, sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan kedua jari telunjuknya. “Masa Kakak tak tahu? Kalau akhirnya aku menikah dengan Kakak, bukan dengan lelaki lain, masa tak tahu?” 

Lama-lama, aku pun jadi kikuk. “Jadi lelaki yang kau maksud itu, aku?” 

Diam tersenyum simpul. Terlihat sangat senang mengerjaiku. “Aku yakin, Kakak akan datang selama aku menunggu.”

Seketika, aku merasa jadi lelaki paling beruntung di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar