Jumat, 10 Februari 2017

Adik Manis

Ishak dan Prabu adalah dua orang sahabat baik. Mereka banyak melakukan aktivitas bersama-sama. Sangat akrab. Padahal, mereka baru berkenalan dua tahun terakhir, di waktu mereka berstatus sebagai mahasiswa. Persahaban mereka sangat erat, bahkan sampai ke tataran keluarga. Tak heran jika ayah-ibu Ishak telah menganggap Prabu sebagai anak sendiri.
 
Karena kedekatan mereka merembes ke ranah keluarga, sekat-sekat di antara mereka pun, hilang. Mereka bisa saling mengunjungi di kediaman masing-masing, tanpa perlu janjian terlebih dahulu. Entah untuk belajar, menghadiri acara, sekadar bermain, bahkan saat tak ada keperluan apa-apa.

Keseringan berkunjung ke rumah Ishak, akhirnya menimbulkan dilema bagi Prabu. Belakangan, ia baru menyadari bahwa sahabatnya itu memiliki seorang adik yang cantik jelita bernama Liana. Seiring waktu yang mempertemukan mereka, perasaan Prabu pun semakin bersemi. Ia jatuh hati. Bahkan ia merasa hampa jika dalam sehari tak melihat si adik manis itu. 

Suasana dilematis bagi Prabu semakin menjadi-jadi kala ia menerka bahwa perasaannya pada Liana, berbalas. Pertandanya terbaca dari gerak-gerik dan ekspresi Liana kala mereka berpapasan. Isyarat itu pun semakin jelas di hari setelah ia memberikan kado ulang tahun berupa boneka kepada gadis kelas III SMA itu.

Perasaan Prabu yang berkecamuk dari hari ke hari, memaksanya menahan diri. Mengutarakan perasaannya itu, tidaklah semudah cinta biasa. Bagaimana pun juga, jatuh hati pada saudara sahabat sendiri, harus dinyatakan dengan cara yang bermartabat. Harus ada kesungguhan untuk mewujudkannya secara bertanggung jawab.

Demi menjaga persahabatannya, Prabu pun mulai mengarang alasan untuk mengurangi intensitas kunjungannya ke rumah Ishak. Tentu saja, ia tak mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Dan beruntung, Ishak memercayainya. Akhirnya, mereka pun hanya sesekali saling mengunjungi. 

Pada posisi sebaliknya, bahwa Ishak mengunjungi rumah Prabu, itu juga bukan pilihan yang mudah. Ishak lebih sering menolak jika Prabu mengajaknya bertamu. Ia banyak alasan. Dan jika Prabu memaksa, Ishak akan mengungkapkan kalau ia tak enak hati bertamu, karena Prabu hanya tinggal bersama seorang adik perempuannya, Rosa. Terlebih lagi, belakangan, Rosa tak menunjukkan sikap yang ramah pada lelaki yang bertamu, termasuk Ishak. Prabu akhirnya tak bisa mengelak.

Prabu sendiri masih tak tahu betul apa alasan di balik perubahan sikap adiknya. Padahal, sedari awal, adiknya itu biasa saja kala temannya berkunjung ke rumah kontrakan mereka. Tapi sepintas, Prabu menerka-nerka, perubahan adiknya disebabkan rasa pilu perihal perasaannya pada seorang lelaki yang entah siapa. 

Melihat kondisi adiknya yang sering murung dan menyendiri, yang ia duga karena soal lelaki, membuat Prabu tak ingin menumbuhkan perasaan pada adik temannya sendiri, Liana. Itu karena ia tahu bagaimana perasaan seorang perempuan yang telah dipermainkan oleh seorang lelaki. Itu terjadi pada adiknya sendiri, dan ia tak ingin itu terjadi pada Liana, karenanya.

Di satu hari, kala Ishak dan Prabu tak ada keinginan untuk saling mengunjungi, mereka pun memilih kafe sebagai tempat nongkrong. Di sanalah, kedua sahabat itu, saling mengobrol tentang rasanya jadi kakak dari seorang perempuan yang telah pubertas.

“Akhir-akhir ini, aku baru merasakan, ternyata tak mudah memiliki seorang adik perempuan. Jauh dari orang tua, membuatku harus mengurusi adik perempuanku dengan baik,” keluh Prabu, setelah obrolan mereka yang serius dan panjang perihal perkuliahan. “Seperti kau tahu sendiri, perempuan lebih rumit dari pada lelaki. Mereka punya banyak masalah dan sulit keluar dari masalahnya sendiri. Ya, memang harus pandai-pandai mengurusi mereka.”

Sejenak, Ishak kaget mendengar sahabatnya membahas soal yang tak lazim. “Entahlah. Aku tak terlalu mengerti tentang adikku. Bisa jadi, itu karena aku tinggal bersama ayah-ibuku. Makanya, aku tak perlu pusing mengurusinya” tuturnya

“Tunggu-tunggu saja. Kurasa adik-adikmu belum pernah menyukai dan disakiti seorang lelaki,” kata Prabu, kemudian tertawa pendek. “Kurasa, adikku belakangan ini banyak berubah. Dan kuduga, ia sedang bermasalah dengan seorang lelaki. Jika saja ia mau jujur memberitahuku siapa lelaki yang telah memperlakukannya dengan buruk, aku pasti membantunya menyelesaikan masalah.”

Ishak menarik napas dalam-dalam. Ia pun merasa sepatutnya bertanya. “Memangnya kenapa? Ada apa dengan adikmu?” uliknya, lalu menyeruput secangkir kopi pesanannya.

“Kau saksikan sendiri kan, kalau dia tampak murung dan mudah marah-marah. Dia bahkan tak suka jika aku membawa teman-teman ke rumahku, termasuk kau juga. Entahlah, mungkin dia pikir semua lelaki brengsek seperti sosok yang telah menyakitinya. Kau tahu, ia bahkan mencopot foto-foto kita di dinding rumahku. Kurang enak dipandang, alasannya. Ya, aku terpaksa mengalah, daripada ia mengamuk,” urai Prabu. 

Mendengar penjelasan Prabu, Ishak pun terdiam dengan rahasianya. Tak ingin menanggapi secara berlebihan. Pura-pura tak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi sampai ia enggan berkunjung ke rumah Prabu, juga tentang perubahan sikap Rosa. Yang pasti, nomor telepon adik sahabatnya itu, telah terhapus dari daftar kontak di telepon genggamnya. “Mudah-mudahan perasaan adikmu lekas normal,” tanggapnya, singkat.

Prabu mengangguk-angguk. Seperti mengaminkan sebuah doa. “Karena tahu begitu akibat jika perempuan sakit hati, ya, pilihannya hanya dua: jangan sentuh hatinya, atau menjadikan ia satu-satunya. Dan karena aku tahu bagaimana hubunganmu dengan Linda sekarang, kau harus kukuh pada pilihan kedua, kawan. Bukan begitu?” singgungnya, beserta senyuman yang merekah sempurna.  

“Kau sepertinya sangat paham soal perasaan,” balas Ishak, disusul tawanya yang pendek. Terkesan meledek. 

“Adikmu, Liana, yang hampir seumuran dengan adikku, apa tak mengalami perubahan sikap juga?” selidik Prabu.

“Entahlah. Tapi sepertinya, belakangan ini ia lebih sering mengurung diri di kamar,” jelas Ishak.

Diam-diam, Prabu berharap, itu bukan karena dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar