Jumat, 06 Januari 2017

Serangkai Bunga

Waktu terasa memburu. Kekhawatiranku semakin meninggi. Sepuluh menit lagi, aku harus sampai di sebuah restoran. Ada seorang yang harus kutemui tepat waktu. Seorang wanita, pujaanku. Jelas, aku takut jika telat memenuhi janji. Apalagi, sedari kemarin, aku telah merencanakan sebuah kejutan besar untuknya, sembari mempersembahkan serangkaian bunga. 
 
Akhirnya, aku sampai di posisi yang berseberangan dengan toko bunga. Segera saja kutempatkan mobil yang kukemudikan di tepi jalan. Sekadar memarkir dengan baik, atau menuju jembatan penyeberangan jalan yang tak terlalu jauh, ogah kulakukan. Aku tak mau membuang-buang waktu. Jadi, tanpa pikir panjang, kuseberangi saja jalan raya di alur yang tak semestinya. 

Sungguh, aku tegang. Apalagi, hanya sesekali aku melintas di jalan sesak kendaraan secara serampangan. Maka, di posisi yang serba salah itu, kakiku dilanda kekakuan. Melangkah tak terkendali. Mempertaruhkan nyawa sendiri dan menguji ketangkasan para pengemudi. Tak pelak, cemoohan pun kutuai. Namun akhirnya, aku selamat sampai di seberang jalan. Lega. 

Baru beberapa langkah setelahnya, kala masih di gerbang toko, aku berhenti. Ternyata, aku lupa mengantongi dompet yang kuletekkan di dasbor mobil. Sungguh menyebalkan. Maka, segera kurogoh kantong jaket, baju, dan celanaku. Coba mengumpulkan beberapa uang pecahan kecil yang biasanya kupersiapakan untuk membayar parkir. Dan, syukur, jumlahnya cukup.

Segera kumasuki toko, kemudian mengamati dan merasa-rasa jenis bunga mana yang kira-kira cocok untukmu. Hingga akhirnya, pilihanku jatuh pada serangkai bunga berwarna merah dan putih. Perpaduan warna yang melambangkan perasaanku yang suci dan membara. Tanpa menunggu lama, aku pun mengambilnya, lalu menyelesaikan urusan pembayaran di kasir.

Tak sampai tiga menit, aku sudah berada di luar toko. Dan lagi, aku harus meyakinkan diri bahwa menyeberangi jalan di lintasan terlarang, adalah pilihan terbaik. Setidaknya, untuk saat ini saja. Nanti, kenekatan ini akan menjadi salah satu pengorbanan yang akan kuceritakan kepadanya. Semua demi menepati janji pada pada si gadis pujaan.

Namun sebelum langkahku menyentuh badan jalan, tiba-tiba, seorang Kakek terlihat berjalan menghampiriku. Aku tak paham apa maksudnya. Ia hanya melambaikan tangan sambil mengaum dengan ejaan kata yang tak jelas. Seperti ada masalah dengan kantong suaranya. Tapi kukira, ia hendak mengikutiku menyeberang jalan, ataukah menawarkan koran yang ditentengnya.

Aku pun hanya melemparkan senyuman padanya, lalu dengan perasaan was-was, mulai menyeberangi jalan. Jelas saja, aku tak ingin mempertaruhkan nyawanya di dalam penguasaanku. Membeli korannya juga aku tak mungkin. Bukan tak mau, tapi karena uang yang tersisa di kantongku sudah tak cukup. 

Kupandu lagi langkahku. Mataku berpadu dengan perhitungan sebab-akibat yang bekerja dengan cepat di balik kepala. Sesekali melangkah seperti melompat kala ada ruang lowong untuk melangkah maju. Beberapa kali juga harus berdiam diri, melewatkan pengendara yang melaju kencang dan tak ingin memberiku kesempatan. 

Setelah merangsang adrenalin, aku pun tiba di seberang jalan. Segera kuarahkan langkahku ke parkiran mobil yang telarang. Aku bergegas sambil mengecek satu per satu saku pakaianku demi menemukan keberadaan kunci mobil. Tapi aku tak menamukan apa-apa. Kunci itu hilang entah ke mana. Padahal, sisa lima menit lagi, waktu yang kujanjikan akan sampai.

Kala aku masih gusar kehilangan kunci, bunyi gesekan ban mobil dengan aspal, terdengar dari arah seberang jalan. Seiring itu, bunyi dentuman menyusul. Seketika, orang berlari dan berkerumun di satu titik, di dekat sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan. Sebuah kecelakaan terjadi. Seseorang tertabrak mobil.

Tiba-tiba, aku teringat pada sosok Kakek yang hendak menyampaikan sesuatu kepadaku. Entah kenapa, aku tiba-tiba yakin, ia terlibat dalam kejadian itu. Aku pun berlari, memastikannya. Dan benar saja, dalam keadaan setengah sadar, Kakek tua itu tersungkur dengan darah yang mengalir deras di pelipisnya. 

Orang-orang pun segera membawa sang Kekak ke tepi jalan, di sisi kanan mobilku yang terparkir.

“Ayo, segera cari mobil dan bawa ia ke rumah sakit,” tegas seorang yang tak kutahu namanya.

Orang di sekelilingnya pun berseru dan mengangguk setuju.

“Ada yang punya mobil?” tanya lelaki itu lagi. “Atau cepat tahan angkot. Sewanya biar aku yang tanggung.”

Aku jelas dibuat kagum atas sikap lelaki muda itu. Ingin juga melakukan sesuatu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatiku yang terdalam, jelas ada keinginan untuk menawarkan tumpangan di mobilku untuk sang Kakek, jika saja kuncinya tak hilang.

Dalam kondisi yang lemah terkulai, sang Kakek mengaum lagi. Tapi orang-orang hanya saling menatap. Tak ada yang mengerti. Hingga akhirnya, sang Kakek mengangkat tangan kanannya yang terkepal. Setelah tersibak, telihatlah serangkaian kunci. Dan, betapa terenyuhnya aku. Kunci itu adalah kunci mobilku yang sedari tadi kucari

Aku pun segera mengambilnya.

Orang-orang menatapku curiga. 

Seketika, rasa bersalah menggerayangiku. Apalagi, semua kejadian nahas ini, terjadi karenaku. 

“Biar aku saja yang mengantarnya. Itu mobilku,” tuturku, sambil menunjuk ke arah mobil yang kumaksud.

Segera saja kerumunan orang-orang menggotong sang Kakek.

Kini, aku tak peduli tentang keakuanku. Rasa bersalahku pada sang Kakek mengalahkan rasa cintaku pada siapapun, termasuk kepada seseorang yang hari ini, hendak kubuai.

Tiba-tiba, gadis pujaanku menelpon. Tapi kali ini, aku tak ingin menjawab.

Berselang beberapa detik, di balik kemudi, aku mengarahkan mobil ke rumah sakit. Serangkaian bunga yang baru kubeli untuk seorang wanita, kubiarkan saja tergeletak di pinggir jalan.

Posting Komentar