Kamis, 12 Januari 2017

Cerita Hati

Cerita ini tentang Lion, seorang lelaki yang bingung atas rasa kagumannya yang mendalam pada seorang wanita, teman baiknya. Seorang lelaki yang menggantungkan perasaannya sendiri, sebab takut pada kepastian. Takut  jika perasaannya bertepuk sebelah tangan, dan semuanya hancur-lebur, termasuk hubungan pertemanannya. Takut juga jika perasaannya bersambut, dan ia malah bingung bagaimana cara yang pantas memperlakukan perempuan secara spesial.

Akhirnya, semua jadi serba salah. Hubungan yang sudah begitu dekat, jelas beresiko jika dipaksakan sakral dengan sejumlah komitmen. Terlebih, cara mengubah status hubungan itu, juga membingungkan. Seperti membiasakan sesuatu yang sudah biasa. Begitulah resikonya jika jatuh cinta pada teman sendiri. Maka bisanya, ia hanya merangkai buaian dalam khayalnya sendiri. Sesekali jujur dalam perkataan yang lalu dicapnya sebagai guyonan belaka. Sesekali memuji, tapi segera ditepisnya dengan ungkapan, “aku bercanda saja”.

Sampai suatu hari, di tengah perih tak tertahankan dalam upaya menggantungkan perasaan sendiri, Lion pun bertekad untuk menyatakan perasaan kepada sang gadis pujaan. Dan, atas nama pertemanan, ia pun meminta Ralin untuk membantunya mengonsepkan langkah-langkah secara tepat.

Pertama-tama, ia mempertanyakan tentang selera perempuan. “Tempat yang suasananya paling disukai perempauan seperti apa sih? Apa harus yang mahal-mahal?”

Sejenak, Ralin terlihat menerawang isi kepalanya. “Aku rasa, tidak juga. Asalkan suasananya nyaman dan tenang, kukira perempuan pasti suka. Di taman, misalnya.”

Lion menganggukkan saja saran itu. “Kalau simbol yang cocok untuk menyatakan perasaan? Bunga, cokelat, atau apa?”

“Kupikir sih, dalam soal itu, perempuan lebih suka pemberian yang awet. Ya, kalau cincin kemahalan, setidaknya bukulah,” jawab Ralin.

Lagi-lagi, Lion tak mempertanyakan saran tertutup itu. Menerima aja. “Kalau tentang sikap seorang laki-laki dalam mengungkapkan perasaan, perempuan suka yang bagaimana?” 

Ralin merenung beberapa detik. “Ya, tidak perlu terlalu lebaylah. Tak perlu berlutut segala macam. Cukup minta komitmen, semisal, ‘bersediakah kau menjalani hidup yang penuh tantangan ini bersamaku, dalam janji yang suci, selamanya?’ Kurasa, sesederhana itu sudah cukup,” tuturnya, sembari tersenyum manis.

Lion balas tersenyum. “Tapi kok, saranmu aneh-aneh. Kau tak mengira kalau aku hendak mengatakan perasaan padamu kan?”

Sontak, raut wajah Ralin berubah jadi tak enak dipandang. Seperti mengisyaratkan kalau ia sedikit pun tak ada harapan. “Ya, tidaklah. Yang ada, kau yang bawa perasaan. Catat ya, saran ini jangan kau terapkan padaku. Tak akan mempan.”

Melihat mimik Ralin, Lion jadi tak bisa menahan tawanya. “Maukah kau menjalani kisah hidup bersamaku…?” ledeknya.

Seketika, Ralin menyela. Bercerocos. “Dasar penggombal kacangan. Ekspresimu tak meyakinkan. Bagaimana perempuanmu bisa yakin? Kau harus berlatih baik-baik, kalau tidak mau nasibmu berakhir tragis.”

Dan lagi, Lion mengulang kalimat topengnya selama ini. “Aku bercanda. Jangan ambil hati,” pungkasnya, sambil tertawa pendek.

Waktu pun terus bergulir. Hingga, datanglah hari yang ditetapkan Lion untuk mengucapkan isi hatinya pada seorang gadis. 

Setelah merapikan pakaian dan dandanan sebaik mungkin, ia pun beranjak ke sebuah bangku taman kampus. Saran Ralin untuk menjadikan buku sebagai simbol perasaannya, juga akan dilakukannya. Ia memilih sebuah novel yang berkisah tentang cinta sejati. Dan, tentu saja, agar tak kaku, ia terus mengulang-ulang ejaan kalimat kejujuran hati yang juga disarankan Ralin: maukah kau menjalani kisah hidup yang penuh tantangan ini bersamaku, selamanya?

Saat menunggu waktu yang dijanjikan tiba, sebuah pesan singkat dari Ralin, masuk ke telepon genggamnya: Maaf, mungkin aku tak bisa membantumu hari ini. Aku ada urusan keluarga yang mendadak. Jelas saja, semangat Lion menyusut drastis. Apalagi, di awal rencana, Ralin telah menyanggupi sebuah tugas untuk merekam kejadian penting itu.

Tepat jam empat sore. Waktu yang dijanjikan tiba. Tapi kemungkinan besar, sang gadis idaman tak akan datang. Bahkan, menit berganti menit, perempuan yang dimaksudnya, tidak juga terlihat. Harapannya yang meninggi di awal, kini mulai lenyap. Meredupkan angan-angannya. Dan setelah sejam berlalu, tiba-tiba, Ralin muncul dan menghampirinya.

“Kamu kok? Aku kira kamu ada urusan keluarga?” tanya Dion.

“Tak jadi. Aku kan bilang ‘mungkin’,” jawab Ralin dengan enteng. Ia lalu duduk tepat di hadapan Lion. “Mana perempuan yang kau bilang. Atau dia menolak perasaanmu, lalu pergi begitu saja? Atau sedari kemarin, kau sebenarnya hanya mengarang cerita?” 

Lion memandangi Ralin. Dengan sikap yang sama, Ralin membalas. Mereka saling memandang. Dan, entah mengapa, ada keanehan pada sikap mereka.
 
Segera, dengan raut wajah yang tegas, Lion pun menuturkan sebuah kalimat sakral di hadapan Ralin, “Bersediakah kau menjalani hidup yang penuh tantangan ini bersamaku, dalam janji yang suci, selamanya?”

Wajah Ralin berubah runyam. Tampak dipenuhi berjuta rasa yang masih sulit ditebak. “Maksudmu?”

“Bersediakah kau menjalani hidup yang penuh tantangan ini bersamaku, dalam janji yang suci, selamanya?” Lion mengucapkannya lagi. Masih dengan mimik yang tegas.

Ralin masih tampak ragu. “Aku?” 

Dion menguatkan perasaannya. “Ya. Yang aku maksud itu kamu.”

“Kenapa kau tak bilang dari awal?” keluh Ralin dengan wajah yang menyiratkan keharuan.

“Jadi?” Raut wajah Dion, penuh harap. 

Tiba-tiba, air mata Ralin menetes. “Ya. Asalkan kau tak mengakhirinya dengan kalimat ‘aku sedang becanda’.

Dan, hanya beberapa bulan setelahnya, mereka pun menikah. Terikat dalam bingkai kasih-sayang sesungguhnya.

Tidak ada komentar: