Rabu, 14 Desember 2016

Wanita Terbaik

Ada gundah di hati Yuni. Tiap kali membayangkan tudingan miring tentang Rangga, suaminya, ia pasti bersedih. Jelas, ia tak suka kondisi ekonomi keluarga kecilnya, disangkut-pautkan dengan kemampuan sang suami. Baginya, Rangga adalah sosok suami yang bertanggung jawab, meski tak mampu memberikan harta yang berlimpah-ruah
 
Di awal pernikahan, orang tua Yuni memang tak memberi restu. Alasannya tak lain karena pertimbangan ekonomi. Ayah-Ibu Yuni yang kaya-raya, khawatir Rangga tak mampu memberi nafkah yang mencukupi bagi anak-istrinya kelak. Tapi Yuni tetap memaksa. Ia yakin akan bahagia bersama Rangga, walau harus hidup dalam kemelaratan.

“Hari ini, apa ada surat yang sampai ke rumah, Bu?” tanya Rangga. 

Yuni menggeleng. “Tak ada, Pak.”

Rangga pun menghempaskan dirinya pada sofa. Menenangkan perasaannya yang kalut. “Besok orang tua Ibu jadi datang?” tanyanya lagi, sembari mengurai seragam perusahaan yang melekat di tubuhnya.

“Jadi, Pak,” Yuni menyambut seragam sang suami, lalu mengantungnya di dinding. “Memangnya kenapa?”

“Tak apa-apa, Bu.” Rangga lalu bangkit, menatap ke luar jendela, memandangi hamparan alam. 

Yuni mendekat pada suaminya. “Bapak jangan khawatir. Aku bisa meyakinkan mereka kok kalau kehidupan kita baik-baik saja,” tuturnya, berserta utaian senyuman manis.  

Rangga balas tersenyum. Ia merasa damai, sebab kasih sayang istrinya tak berubah sedikit pun.

Secara perlahan, Yuni menggandeng tangan kiri sang suami. Ia lalu menyandarkan pelipisnya di pundak lelaki yang menikahinya dua tahun lalu. “Yang aku inginkan adalah kebersamaan kita, Pak. Aku tahu, kita hidup dalam kesederhaan. Tapi apalah arti harta kalau itu malah membuat kita bercerai-berai.”

Rangga pun merangkul dan mengusap lembut rambut sang istri.

Dalam hati, Yuni jelas memahami pergulatan batin suaminya. Di waktu lampau, ia menyaksikan sendiri ketika Rangga menghadap orang tuanya untuk menyampaikan maksud hati ingin menikahinya. Di sela itu, juga terucap janji untuk membahagiakannya, terutama menjamin kecukupan materi. Dan sekarang, itu rentan untuk kembali dipermasalahkan.  

Rangga melepaskan pelukannya. “Ibu masih punya stok baju yang bagus kan? Ya, paling tidak, besok, Ibu mengenakan baju yang lebih baiklah dari hari-hari biasanya. Aku ingin membuat orang tua Ibu tenang melihat keadaan kita.”

“Masih. Baju-baju lamaku kan masih bagus, Pak. Tinggal disetrika, jadi tampak baru lagi,” balas Yuni, sambil tertawa pendek nan menggemaskan. Ia mencoba menenangkan perasaan suaminya. “Kamarin, di pasar, aku juga beli baju baru untuk Bapak. Itu,” sambungnya, sambil menunjuk sebuah baju yang tergantung rapi di dinding. “Besok, kenakanlah, Pak. Pasti cocok.”

Dan untuk yang ke sekian kalinya, Rangga merasa berutung dianugerahi cinta dari wanita sesempurna Yuni. Ia merasa sangat beruntung memiliki istri yang rela hidup bersama dalam kesederhanaan.

“Aku benar-benar beruntung memiliki istri seperti Ibu,” puji Rangga, sambil membelai rambut sang istri. “Apa perasaan Ibu tak akan berubah, meski kehidupan kita sesungguhnya lebih memprihatinkan daripada yang Ibu tahu?”

Yuni menepuk-nepuk lengan suminya. Seperti memberikan sugesti untuk menguatkan hati menghadapi kenyataan yang ada. “Aku tak akan berubah, Pak. Sebelum aku mengiyakan pinangan Bapak dahulu, aku sudah menyadari pahit-manis dalam mengarungi biduk rumah tangga. Aku adalah istri Bapak, dan aku punya tanggung jawab untuk mempertahankan rumah tangga kita.” 

Seketika, Rangga mengecup dahi istrinya. “Aku juga. Aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumah tangga kita, Bu.”

Setelah bermanja-manjaan beberapa lama, Yuni pun melangkah menuju dapur. Menyiapkan hidangan ringan untuk suaminya.

Dan, ada satu pertanyaan Rangga di awal percakapan yang jawabannya kini menjadi rahasia Yuni: tentang surat. Sejujurnya, pagi tadi, sebuah surat sampai di rumah mereka. Yuni yang menerima surat dari kurir pos, awalnya kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, ia menerima surat perihal Pemutusan Hubungan Kerja dari perusahaan untuk suminya.

Demi menjaga perasaan sang suami, Yuni pura-pura tak tahu soal surat itu. Ia yakin suaminya bermaksud merahasiakan tentang keadaannya di perusahaan. Ini soal harga diri. Ia paham, sebagai lelaki yang bertanggung jawab, suaminya tak ingin ketahuan sebagai pengangguran, apalagi di depan kedua orang mertua.

Akhirnya, Yuni memutuskan untuk tak membahas perihal pekerjaan sang suami, sampai kapan pun, kecuali sang suami mengutarakan sendiri tentang keadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar