Kamis, 08 Desember 2016

Rasa Sendiri

Sepi pernah menuntunmu menuju ke arahku. Kau datang menawarkan cinta dengan bahasa isyarat. Sangat tersirat, namun masih bisa kuterka. Kutahu pasti, kau mencari ruang kosong di hatiku, untuk kau diami. Tapi aku memilih mengabaikan maksudmu. Bukan berarti aku tak mengerti, hanya tak ingin.
 
Akhirnya, kau pun kembali kepada siapa seharusnya kau berlabuh. Bukan aku, tapi dia. Dialah sosok lelaki yang telah merenggut cintamu sejak awal. Maka, sudah sepatutnya kau tak berpindah ke lain hati, apalagi mengetuk hati yang telah mati, hatiku. Aku telah bertekad untuk tak mencintai dan dicintai olehmu, selamanya.

Dan hari ini, kita mengobrol lagi, saat aku dan kalian bertemu di sebuah kafe tanpa sengaja.

“Bagaimana kabarmu?” Pertanyaan klasik itu meluncur dari mulutku kala gugup, saat dia meninggalkan kita berdua untuk memesan minuman. 

Kau pun mengangkat wajah, sembari tersenyum singkat. Kedua bola mata di balik lensa kacamatamu, menatapku segan. “Baik. Kau sendiri?”

Segera kurespons tanyamu untuk menyembunyikan kekakuan, “Ya, baik-baik saja. Masih seperti dulu. Tak ada yang berubah.” Kemudian, aku mulai menyelidik dengan hati-hati. “Hubungan kalian masih baik-baik saja kan?” 

Kau hanya mengangguk sembari tersenyum simpul. Tak berkata sepatah kata pun.

Aku pun jadi bingung bagaimana melanjutkan percakapan. Kurasa, aku telah salah menanyakan perihal kalian. Tapi memang, hanya itulah yang sepantasnya kupertanyakan. Adalah salah besar jika aku mengulas kembali tentang kedekatan kita di masa lalu. Aku takut ada hati yang terluka. 

Dan, di tengah obrolan kita yang kaku, belahan hatimu yang juga senior kita di kampus, datang memecah suasana. “Hai, ini untukmu kawan,” tuturnya, sambil meletakkan secangkir kopi di depanku. “Dan ini, untukmu sayang,” tuturnya lagi, sembari meletakkan secangkir teh di depanmu.

Kita pun terjebak dalam kebekuan. Aku dan kau pastilah sama-sama bingung menyikapi kanyataan bahwa kita tak mungkin lagi mengulik tentang kebersamaan di waktu lampau. Telah ada dia, pendampingmu menelusuri masa depan. Maka, sudah tamat tentang kita. Kini, hanya tentang aku dan kalian.

“Apa rencanamu ke depan? Aku dengar-dengar, kau handal menulis. Apa kau punya rencana menjadi seorang wartawan?” Dia bertanya, sambil mengaduk-aduk secangkir kopi-susu di depannya.

“Ya, memang aku ada rencana. Tapi untuk sementara waktu, aku tak ingin terikat. Aku masih asyik menjadi seorang penulis lepas, meski dengan pendapatan yang tidak menentu,” jawabku.

Dia mengangguk, sambil menyeruput minuman hangatnya beberapa kali. “Aku setuju denganmu. Bekerja dalam tekanan, memang sangat menjemukan. Jelas, tak ada ketenangan dalam pola kerja yang diburu deadline,” timpalnya sambil tertawa pendek, lalu memandang ke arahmu, “Seperti yang kutahu darinya, kau punya potensi untuk menjadi penulis besar.”

Aku tiba-tiba kehabisan kata mendengar pujianmu untukku, dari mulut seseorang yang telah merenggutmu dariku. “Jangan berlebihan. Dia lebih handal dariku.” Aku balas memujimu, melalui dirinya juga.

Kau bergeming. Masih tak antusias menanggapi obrolan kami. Kau hanya memandang suasana sekitar atau menoleh pada kami sesekali. Terpaksa menyela jika ada keperluan. Selebihnya, kau baru berpendapat kalau ditanya. Jelas, aku tak bisa membaca jalan pikiran dan isi hatimu saat ini.

Di tengah keheningan, kau pun beranjak untuk membayar tagihan di kasir.

Seketika, dia memandangiku lekat-lekat. “Kau tahu, sebelum kami bersama, ada orang lain yang lebih dulu mengisi hatinya. Katanya, orang itu telah meninggal. Tapi kulihat, ia masih sering mengkhayalkan lelaki itu. Kau tak mengenalnya?” tanya dia dengan mimik penuh penasaran. 

Satu rahasia masa lalumu, terkuak lagi. “Aku tak tahu tentang itu. Meski kami berteman, kurasa ia punya rahasia yang perlu dipendamnya sendiri,” jawabku.

Dia mengangguk. Pasrah atas jawabanku.

Tak lama berselang, kau pun datang. Dan setelah melalui basa-basi perpisahan, kalian lalu pergi dan lenyap dari pandanganku.

Pikiranku pun melayang ke masa lalu. Kusibak lagi lembaran kenangan kita secara teliti. Namun sepanjang kebersamaan kita, aku tak pernah mendengar kalau kau pernah dekat dengan seseorang lelaki pun di kampus, termasuk yang dimaksudnya telah meninggal.

Seketika, ingatanku berhenti pada satu momen kebersamaan kita di masa lalu, saat kita mengobrolkan tentang isi hati di taman kampus.

“Apakah kau tak pernah menyukai seseorang lebih dari teman biasa?” Kau telihat gugup bertutur.

“Tak pernah. Memangnya kenapa?” Aku pura-pura tak paham. Padahal dari sikap yang kau tampakkan, aku yakin kau mempertanyakan tentang perasaanku padamu.

“Aku hanya bertanya,” balasmu, terkesan mengelak dari maksud yang kau tuju, kemudian bertanya lagi, “Kau betah sepi sendiri?”

“Tidak juga. Aku hanya merasa belum membutuhkan seorang pendamping hidup,” tuturku.

Diam-diam, hatiku berkata lain. Jujur, aku pernah menyukaimu di satu waktu. Berharap kau menjadi cinta pertama dan terakhirku. Hadir mendampingiku sepanjang waktu. Tapi nahas, perasaan kita tak seiring waktu. Cinta datang terlambat. Aku mendambakanmu, saat kau telah jatuh di pelukannya. Dan kau baru mengharapkanku, kala aku tak lagi berharap tentangmu.

Kukira, kebersamaanlah yang membuat kau dan aku berhasrat untuk saling mencintai.

Kini, aku dapat pelajaran berharga dari kisah kita, bahwa cinta tak lebih dari rasa takut akan kehilangan. Beruntunglah, aku tak pernah mendapatkan dan menempatkanmu di hatiku yang terdalam, maka aku pun tak akan merasa kehilangan. Jadi, hatiku tak akan terluka karenamu, sebab aku tak pernah mencintaimu.

“Bagaimana caramu meredam perasaan jika suatu waktu, kau menyukai seseorang?” tanyamu lagi.

“Aku membunuhnya dalam hatiku, seperti aku membunuh tokoh-tokoh dalam tulisan ceritaku secara sadis,” pungkasku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar