Sabtu, 31 Desember 2016

Inisial R


Kusibak kembali sebuah lipatan kertas dari sang penggubah rahasia. Aku menemukan kertas bermakna itu di dalam tasku, dua hari lalu. Isinya adalah sebuah gambar kartun atas diriku, disertai sebuah tulisan singkat yang sangat menyanjungku sebagai seorang perempuan: Kau memang cantik. Sungguh!   -R- 

Tak salah jika aku meyakini pesan itu, ditujukan khusus untukku. Namaku tertulis pada kertas, tepatnya di pojok kanan bawah. Tentang siapa pengirimnya, aku tak bisa memastikan. Apalagi, ia hanya menuliskan inisialnya, R. 

Untuk sementara, aku merasa ada seseorang yang memendam perasaan padaku. Kupikir, ia hendak menyatakan perasaannya dengan cara yang mengesankan.

Tiba-tiba, sebuah pesan singkat, masuk di telepon genggamku. Pengirimnya tanpa nama. Kami pun saling berbalas pesan.

X          : Sering-seringlah tersenyum. Jangan murung terus.
Aku      : Kau ini siapa?
X          : Kita adalah teman dekat. Kau pasti mengenalku.

Aku tak membalas. Kubuat ia penasaran atas tanggapanku. Kuduga pelakunya adalah R.

Setelah sejam berlalu, dia akhirnya mengirimkan sebuah pesan.

X          : Datanglah di tempat biasa tepat jam 4 sore. Ada sesuatu untukmu.

Nalarku bekerja keras. Dari sekian banyak teman lelaki yang aku kenal, ada beberapa yang memiliki nama berawalan R. Tapi dugaan terbesarku tertuju pada Rumi, teman dekatku, yang selama ini kuidam-idamkan.

Hampir jam 4 sore. Aku pun membawa segumpal rasa penasaran menuju satu lokasi, tempat kami sering menghabiskan waktu bersama. Tepatnya, di sebuah kantin, di salah satu meja yang berada di pojok ruangan.

Namun, sesampainya di tempat yang kuduga, aku tak menemukannya. 

Aku pun menyerah. Kuduga, sosok pelakunya, hanya iseng mengerjaiku.

Setelah menghabiskan waktu hampir sejam menyantap nasi goreng, aku pun melangkah pulang. Sampai akhirnya, aku menemukan Rumi di area parkiran. Ia tampak menunggu seseorang.

“Hei, dari mana saja kamu?” tanyanya seketika, setelah melihatku. “Aku telah lama menunggumu.”

“Inikah yang kau katakan tempat biasa?” tanyaku.

Dahinya berkerut. “Maksudmu?”

Aku mencoba menahan tuduhanku. Takut kalau ternyata, aku memang salah menabak. “Aku hanya bergurau. Untuk apa kau mencariku?”
 
Dia mengaduh. “Masa kau lupa? Hari ini kan Roki pergi ke kota seberang.”

Seketika, aku tersadar. Ternyata aku punya teman baik yang lain dengan nama berinisial R, Roki. Dialah teman baikku. Tempatku sering berdiskusi tentang persoalan kuliah. Dia lelaki yang cerdas, namun tertutup untuk persoalan pribadinya.

“Apa kita masih bisa menemuinya sekarang?” tanyaku, cemas-memas. Khawatir kalau aku tak sempat melihatnya lagi, atau karena aku tak sempat mengetes apakah ia sosok berinisial R.

Rumi terlihat pasrah. “Sekarang sudah jam lima. Aku yakin, dia sudah di jalan menuju bandara. Sia-sia juga kalau kita berupaya mengejarnya.”

Aku membenarkan pertimbangannya.

Tanpa berbincang lama dengan Rumi, aku kemudian menuju ke perpustakaan seorang diri. Hendak mengecek, kalau-kalau ada pertanda di satu bangku, tempatku sering mengobrol dengan Roki. 

Dan akhirnya, aku benar-benar menemukan secarik kertas tergeletak di kursi favoritku, bersama dua buah buku. Di sana, tampak serangkaian kata: Maaf, aku harus pergi tanpa pamit padamu. Kuharap kau tak merasa kehilangan. Terimalah buku pemberianku.

Kubandingkan bentuk tulisannya dengan tulisan pada secarik kertas yang kuterima dua hari lalu. Sama persis.

Sungguh, aku tak pernah tahu tentang perasaannya padaku.

Tidak ada komentar: