Rabu, 14 Desember 2016

Aku, Kau dan Mereka

Anggapan orang lain soal kesendirian, tentang lelaki yang tak juga memadu kasih secara nyata dengan seorang perempuan, tak selamanya mengenakkan. Banyak yang menganggapnya kuno, ketinggalan zaman, bahkan dicap lelaki pembuangan. Tapi aku tak menghiraukannya. Kurasa, suasana kesendirian lebih mengasyikkan daripada mendua. Lebih bebas meresapi getaran cinta tanpa perlu terikat ruang dan waktu.
 
Mengagumi sebagai seorang pemendam, telah kujalani sepanjang hidupku. Bahkan sampai kini, sejak aku tahu, ada rasa yang aneh saat memandang seorang perempuan. Tapi, aku tak sekali pun mengungkapkannya. Kusimpan saja rasa sukaku pada seorang wanita di dalam hati, sampai tergantikan oleh rasa suka pada sosok yang lain. Begitu saja terus. Sebab kupikir, rasa suka tak mesti terwujud dalam kata-kata cinta, sebelum benar-benar siap mencintai.

Hingga kini, banyak sudah wanita yang telah menggugah dan memerangkap rasa sukaku di rentang waktu yang panjang. Ada yang dalam hitungan hari, bulan, setahun, hingga bertahun-tahun. Akila termasuk daftar perempuan yang menyita rasa sukaku begitu lama. Rasa itu tumbuh sedikit demi sedikit, dipacu oleh rasa penasaran yang tak berujung seketika. Awet. Mungkin karena aku banyak mengenalnya di dunia maya, dan hanya sesekali menginderainya di dunia nyata.

Perasaanku pada Akila bertahan hingga hampir dua tahun. Aku bahkan tak menyadari kalau banyak hari berlalu, dan aku hanya mengaguminya dengan cara yang bodoh. Aku rela menghabiskan waktu di kampus, sekadar untuk meliriknya kalau beruntung. Dan saat malam datang, aku akan menguntitnya diam-diam melalui media sosial, tanpa ada rasa bosan. Aku melakukan kebodohan itu sepanjang waktu.

Akila bagiku, jadi seperti candu. Aku selalu senang mengimajinasikan bahwa ia juga memendam perasaan padaku. Seorang pemendam, hanya cocok untuk pemendam. Begitulah anggapanku tentangnya. Kuyakin, sebagaimana lazimnya orang yang suka melampiaskan kegundahan hatinya lewat huruf-huruf, dia juga adalah pemendam. Dan, aku pun jadi gemar mencari diriku dalam kata-kata yang ia rangkai, meski itu hanya imajinasi sesatku. Aku suka.

Sampai waktunya, aku mulai terbiasa mengabaikan rasa sukaku pada Akila dari waktu ke waktu. Jika dahulu tak kulewatkan sehari pun tanpa mengingat dan mencari dirinya memalui segala macam celah, maka kini, dalam beberapa hari, aku kadang melupakannya. Kuduga, keraguan mulai menyadarkanku, bahwa aku adalah penghayal tingkat tertinggi di antara banyak orang yang ternyata mengaguminya juga. 

Akhirnya, untuk Akila, aku mengalah sebelum bertarung. Aku memutuskannya tanpa pernah ada ikatan apa-apa. Tapi sebagaimana ruang yang lain, hati tak pernah benar-benar dalam keadaan kosong. Tak ada yang terhapus, hanya terganti. Aku tak berhenti menjadi pemendam, hanya rasa sukaku yang beralih pada yang lain. Dan kini kusadari, ada sosok pendatang baru yang mengikat kekagumanku secara mendalam: Amaratih.

Aku tak ingat persis bagaimana awalnya aku mengaguminya. Tapi kuduga, aku belajar dari masa laluku sebagai pemendam. Aku mencoba lebih realistis. Itu bukan berarti aku mencari jalan untuk menyatakan cintaku, dan berhenti jadi pemendam. Aku hanya ingin mengagumi kenyataan, bukan khayalan yang terbentuk dari imajinasi dan dunia maya. Dan itu mungkin, sebab selalu ada kemungkinan aku memandanginya setiap hari.

Pada Amaratih, aku mengagumi sebuah kenyataan. Sering ia menampakkan diri tanpa menyadari apalagi merisaukan keberadaanku. Kami bahkan sesekali berpapasan pada akhir dari sebuah adegan yang kurencanakan. Pada kesempatan sempit itulah, aku meliriknya. Mengecap kesempurnaannya diam-diam. Bahkan, sekadar mendengar celotehan suaranya yang menggemaskan di ruang yang lain, kala tengah mengurus remeh-temah kehidupan organisasi kampus, juga meyenangkan. Menggetarkan hatiku sendiri. Sungguh.

Tapi belakangan, kekagumanku padanya, luntur dari waktu ke waktu. Dalam hari berganti, rasa sukaku semakin menawar. Lagi-lagi, mungkin karena aku merasa telah cukup waktu untuk mengaguminya. Batas kerahasiaan dirinya secara wajar, telah kuketahui. Sedangkan bagi pengagum, rasa penasaran adalah sebuah nyawa. Ringkasnya, aku telah berada di puncak kekaguman padanya. Dan jalan menuju cinta yang nyata dengannya, yang akan menguak sumber kekaguman yang dahsyat, lebih mustahil dari sosok-sosok yang kukagumi sebelumnya. Dia serupa seorang putri raja sekaligus bidadari. Maka, aku cukupkan untuknya. 

Dan lagi, sebagaimana deretan perempuan yang pernah kukagumi, pada banyak sosok dalam kata “mereka”, aku melepaskannya tanpa pernah benar-benar memiliki. Aku membiarkannya memadu cinta yang nyata bersama sosok lelaki lain suatu hari nanti, tanpa sedikitpun rasa penyesalan. Lalu, bagaimana dengan kehampaan hatiku sepeninggal mereka?

“Apakah kau akan bertahan sebagai pengagum untuk selamanya?” Satu sisi diriku yang berpijak di ruang kenyataan, menelisik.

“Entahlah. Aku tak ingin cintaku ternoda hanya karena aku menyatakannya. Kupikir, cinta adalah soal rasa. Jika perasaan itu diungkapkan, maka akan membuka kemungkinan untuknya dikhianati. Aku tak ingin melukai cinta.” Sanggah sisi hatiku yang terkurung pada kemayaan, pada aku yang pemendam.

“Jangan menghianati kenyataan cinta. Luka adalah nilai yang datang bersama cinta. Jangan takut menyatakan cinta hanya karena kau tak ingin hatimu terluka atau tak ingin melukai hati seseorang. Sebagai manusia yang dilahirkan di bumi, pilihlah keadaan daripada ketiadaan, meski itu pahit. Kau telah ditakdirkan untuk dicintai dan mencintai. Maka, kau harus menyadari, bahwa sikap diammu untuk menghindari cinta yang nyata, bisa jadi malah melukai hati seseorang, menghianati cinta,” balasnya lagi.

“Aku hanya memendam. Mana bisa aku melukai perasaan seorang wanita?” tanyaku, membela diri.

“Jika kau yakin bahwa cinta tak mesti memiliki, apa kau yakin tak ada seseorang yang berhasrat memilikimu? Apa kau tak tahu kalau diammu selama ini, tak lebih dari aksi menebar isyarat, memberi harapan palsu, yang malah melukai banyak hati? Jika kau yakin pada kodrat bahwa ada satu hati yang ditakdirkan berpasangan denganmu, maka janganlah melukai dia dalam penantian,” tambahnya lagi.

“Dia siapa yang kau maksud?” tanyaku, penasaran.

“Tanya pada hatimu sendiri. Untuk tahu, kau hanya perlu merasakannya,” tuntunnya.

Dan seketika, kesadaranku pulih. Kini, aku teringat lagi tentangmu, sosok yang menggantungkanku di antara kemayaan dan kenyataan cinta, di antara keraguan dan keyakinanku memilikimu. Di sela kehampaanku, kau seakan datang menggugat untuk mengisi kembali hatiku yang pernah memendam perasaan tentangmu begitu lama. Lebih lama dari siapapun. Hingga kusadari, melepasmu tak semudah merelakan yang lain. Kau tak mungkin tergantikan oleh siapapun, oleh mereka yang hanya selingan. Sungguh, kekagumanku ini, tak akan berujung, kecuali pada cinta yang nyata, pada saat kita mengikatkan hati pada cinta yang sesungguhnya.

Kau tahu?

Tidak ada komentar: